Aku selalu berlari kearah Bapak ketika umurku masih enam tahun. Waktu itu, aku sangat mencintai Bapak karena ia selalu membelikanku permen, cokelat, mainan, atau bahkan sesuatu yang tidak pernah aku minta. Dan aku benci Ibu karena tidak pernah menyambut Bapak yang baru saja pulang kerja. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Ibu tidak pernah berlari atau tersenyum kepada Bapak sama seperti yang kulakukan.
Aku tidak mengerti, kenapa Ibu tidak heboh sepertiku. Bukankah Bapak itu baik?
Kalau orang lain memberi kita sesuatu itu bukankah mereka baik, ya?
Tapi, kalau dilihat-lihat Bapak juga jarang bertanya atau mengobrol dengan Ibu. Apa Ibu marah karena tidak dibelikan permen, ya?
Aku pernah bertanya pada Ibu, dan katanya Ibu tidak marah. Ibu justru senang kalau aku dibelikan permen, cokelat, dan mainan. Ibu hanya bilang kalau ia sudah capek karena mengurus pekerjaan rumah sampai tangannya lebam. Sehingga ia tidak punya waktu untuk bercanda lagi dengan Bapak.
“Nih, tangan Ibu lebam…kamu sih nggak mau bantuin Ibu beberes rumah.”
Aku menatap tangan Ibu lama sekali. Sesaat kemudian aku bertanya, “Capek itu seperti apa sih, Bu?”
Ibu hanya tersenyum. “Kalau udah besar, kamu pasti tahu capek itu seperti apa.”
Sejak hari itu, aku mulai berpikir mungkin aku harus membantu Ibu. Mulai dari membersihkan rumah, merapikan barang-barang, atau apa pun yang bisa kulakukan. Aku tidak mau Ibu merasa capek lagi. Karena setiap kali Ibu capek, warna biru itu muncul di tangan dan kakinya, bahkan aku pernah melihat ada juga yang di wajahnya.