Yang Datang Untuk Menetap

Diah kurniawati Ade Tenu Kurnia
Chapter #4

Bab 4. Dua Potong Hati

"Kau pasti sudah gila!”

 Umpatan kesal dari Edo terdengar begitu Richard menceritakan semua yang terjadi. Richard menatap cowok itu keki.

“Hai Bro, di mana-mana nggak ada penyesalan yang datang duluan, Bodoh! Kalau ada, maka tamatlah dunia. Buummm! Hancur lebur jadi satu!”

“Aku tahu itu, Do.”

“Tahu tapi tetap kau lakukan. Itu namanya Bodoh!” Edo menatap sahabatnya, gusar. “Apa yang salah dari Emma, Ki? Ya, Tuhan... kau benar-benar sudah sinting!”

“Kau pikir aku harus bagaimana?”

“Mana aku tahu! Otak kau tuh ditaruh di mana saat melakukan itu? Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu, kan?”

“Aku hanya....”

“Kenapa sih kau tak pernah cukup dengan satu cinta, Ki? Kenapa kau suka menaburkan cinta di mana-mana? Berpikirlah realistis. Tak ada satu pun yang mau diperlakukan seperti itu. Tidak juga dengan gadis itu!”

“Kasih ide kek, aku sekarang harus melakukan apa?”

“Mana aku tahu,” Edo menggeleng. “Kau terus-terusan bertanya seperti itu. Semua sudah terjadi, kan? Apa kau pikir aku bisa merubahnya?” Edo menatap Richard. “Ya ampun Ki, sadar woii, aku bukan Tuhan!”

Richard menghela napas. Semua peristiwa kembali terkenang.

“Kau suka Emma?”

“Ya.” Richard mengangguk, letih.

“Mencintainya?”

Richacd tersenyum. “Dulu waktu kami masih bersama, semua orang menanyakannya. Mereka tidak percaya padaku,” katanya sambil tertawa hambar. “Dan mungkin memang mereka tak sepenuhnya salah. Aku bukan cowok yang pantas dipercaya. Bahkan aku tak tahu apa aku mencintai Emma, Do. Tapi sekarang....” Dia tersenyum, kecut. Menelan ludah, getir. Menatap sahabatnya. “Aku memang bodoh, kan? Mengapa tak kusadari sejak dulu ya, Do?”

Edo menghela napas. Memandang Richard, iba.

“Kalau sekarang kau yakin, kenapa tak segera menghubunginya? Sebelum semuanya berakhir, katakan pada Emma semua perasaanmu. Kejar dia lagi, Ki.”

“Andai saja bisa,” keluh Richard. Edo menatap tak mengerti. Pandangan penuh tanya tak bisa disembunyikannya dari cowok itu. Richard tersenyum tipis. “Emma di mana saja aku tak tahu.”

Lihat selengkapnya