"Ki....”
Richard terhenyak. Seseorang menyentuh lembut pundaknya. Dia berpaling. Dalam beberapa saat terpana. Menatap tak percaya sosok di depannya. Emma?
“Kenapa? Kok melihatku seperti itu.” Emma menatap Richard dengan senyum. “Ada yang aneh di wajahku?”
Richard tersenyum malu. “Tidak,” gelengnya. “Hanya kaget saja. Tak menyangka kau yang datang,” ucapnya jujur. “Sejak kemarin kau tak suka jika kusapa. Menghindariku?”
“Menghindarimu?”
“Ya. Aku salah apa?”
“Hanya perasaanmu, Ki.”
Richard menatap Emma. Mencari sesuatu yang mungkin saja disembunyikan gadis itu di matanya. Dia menggeleng letih. Selalu seperti ini. Tak pernah terlihat apa pun. Tak ada bias yang bisa ditemukannya, sekecil apa pun.
Richard menghela napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Mengurangi sesak yang sesaat memebuhi rongga hatinya. Menatap gadis di depannya dengan rindu yang tak bisa ditutupinya. Dia tersenyum, tipis.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” jawab Richard. “Kupikir kau membenciku.”
Emma terdiam. Mata itu? Dia menggeleng letih. Bagaimana mungkin dia melihat bongkahan rindu di sana? Ayolah, Emma... kau pasti masih mengingat bagaimana rindu itu pernah menghempaskanmu dalam luka panjang yang membuatmu harus memilih untuk pergi dan menjauh.
Tatapan sayang di depannya, tatapan yang selalu ingin dilihatnya dulu di mata Richard, kini membuatnya letih. Kenangan demi kenangan yang sekejap melintas, entah mengapa hanya kilasan memoar yang tidak ingin diingatnya lagi.
“Emma?”
Dia tergugu. Richard masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Dia mengeluh dalam diam.
“Kau membenciku?”
Emma menggeleng. “Tidak seperti itu.” Dia tersenyum kelu. “Jangan menafsirkan apa pun seperti yang kau lihat. Kadang yang terlihat oleh mata, tak selalu seperti itu juga yang bisa kita lihat. Aku hanya....”
“Menjaga perasaan Ratih?” potong Richard sambil menatap gadis itu dengan hati terluka. “Benar, kan? Selalu tidak ingin orang lain terluka. Selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Apa pernah terlintas dalam pikiranmu... sesaat saja, sekali saja kau ingin egois?”
“Aku tak ingin menyakiti siapa pun.”
“Dan membiarkan orang lain yang menyakitimu? Seperti yang kulakukan dulu?”
“Apa kau merasa menyakitiku, Ki?”
Richard menatap tak percaya. Pendengarannya masih normal. Yang dia tak mengerti, pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah sampai hari ini, mengapa bisa setenang itu terlontar dari gadis di depannya? Apa yang dirasakan Emma?