Suara motor yang berhenti di depan rumah membuat Ningsih tersentak. Gelas di tangannya nyaris terlepas. Ia buru-buru bangkit dan membuka pintu.
“Yuni...?”
Harapan itu kembali pupus. Di depan pagar hanya berdiri seorang tetangga yang hendak membeli beras.
“Maaf, Bu. Saya kira tokonya sudah buka.”
Ningsih mengangguk dan berusaha tersenyum.
“Iya, Pak. Silakan masuk.”
Setelah tetangganya pergi, rumah itu kembali sepi. Entah sudah berapa kali Ningsih salah mengira suara kendaraan di depan rumah sebagai tanda kepulangan anak-anaknya.
Sore itu hujan turun rintik-rintik. Di teras rumah yang sekaligus menjadi toko kelontong kecil milik keluarga, Ningsih duduk sambil melipat kantong plastik. Sesekali pandangannya terarah ke jalan desa yang mulai lengang. Sudah hampir setahun Dhani tidak pulang. Yuni bahkan lebih lama.
Pada awalnya, keduanya masih sering menelepon. Setelah itu, panggilan telepon berubah menjadi pesan singkat. Lama-kelamaan, pesan itu pun berhenti, hingga tidak ada kabar sama sekali.
Pada masa itu, Yudha sebenarnya beberapa kali menawarkan diri untuk menjemput mereka. Namun, Yuni selalu mengatakan bahwa pekerjaannya sedang padat, sedangkan Dhani berkali-kali meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Oleh karena itu, Yudha memilih menghormati keputusan anak-anaknya. Ia baru benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika kedua anaknya sudah tidak dapat dihubungi.
Yudha sempat mempertimbangkan untuk melapor, tetapi ia belum bisa memastikan bahwa anak-anaknya hilang. Ia takut polisi menganggap mereka hanya memilih hidup mandiri. Kini yang tersisa hanyalah doa. Setiap selesai salat, Yudha dan Ningsih selalu mengucapkan kalimat yang hampir sama.
“Semoga kalian sehat.”
“Semoga ada orang baik yang menolong kalau kalian sedang kesusahan.”
Doa itu terus diulangi setiap malam.
Rumah mereka sebenarnya tidak besar. Bagian depannya digunakan sebagai toko kelontong yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Di belakang toko terdapat ruang keluarga, dapur, dan beberapa kamar. Namun, sejak Yuni dan Dhani pergi, rumah itu terasa berbeda. Terlalu banyak ruang yang kosong. Kamar Yuni masih terawat. Spreinya diganti secara berkala dan lemari pakaiannya tetap dibersihkan. Sesekali Ningsih menjemur pakaian lama milik putrinya agar tidak berbau apek. Begitu pula kamar Dhani. Tidak ada yang berubah.
“Kalau mereka pulang nanti, kamarnya sudah siap,” kata Ningsih suatu hari.
Angel yang sedang duduk di sampingnya hanya mengangguk. Sebagai anak bungsu, gadis itu menjadi satu-satunya anak yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia tahu, di balik kesibukannya mengurus rumah dan toko, ibunya sering menangis sendirian pada malam hari.
Bahkan soal makanan pun masih sama. Suatu sore, Ningsih memasak sayur lodeh kesukaan Yuni dan ayam kecap yang biasanya menjadi favorit Dhani. Ketika hendak menata meja makan, ia mengambil lima piring dari rak.
Angel memperhatikannya. “Bu...”
Ningsih menoleh. “Iya, Nak?”
“Yang makan cuma kita bertiga.”
Tangan Ningsih berhenti.
Ia memandangi piring yang berada di tangannya. Satu untuk Dhani dan satu lagi untuk Yuni. Beberapa detik kemudian, kedua piring itu ia letakkan kembali ke rak.
“Oh… iya,” senyumnya tipis. “Ibu lupa.”