Hujan turun sore itu, di sebuah rumah sederhana yang terdapat sebuah toko kelontong kecil milik keluarga Pak Yudha. Lampu kuning yang redup di teras rumahnya memantulkan bayangan rak-rak berisi sembako yang mulai sepi pembeli. Di balik meja kayu tua yang sudah lapuk dimakan usia, duduk seorang ibu yang sedang melipat kantong plastik perlahan. Sesekali matanya menatap ke arah jalanan seakan menunggu kedatangan seseorang. Bu Ningsih namanya, ia sedang merindukan kedua anaknya yang lama tak pulang ke rumah. Tetesan air hujan itu seakan menambah kesedihan dan kerinduan di hatinya.
Sudah hampir setahun Dhani tidak pulang, Yuni bahkan lebih lama lagi. Awalnya mereka masih sempat memberi kabar, menelepon singkat atau hanya mengirim sms yang bertanya tentang keadaan di rumah. Namun, semakin lama kabar itu semakin jarang dikirimkan, hingga akhirnya tak pernah sama sekali. Meskipun begitu, Bu Ningsih tidak marah. Ia justru khawatir terhadap Yuni dan Dhani. Mungkin mereka hanya sibuk sampai lupa memberi kabar ke rumah, batinnya. Ia hanya bisa berharap kedua anaknya itu baik-baik saja.
Setiap pagi, aktivitas Bu Ningsih selalu sama, menyapu halaman rumah, menyirami beberapa tanaman, lalu merapikan kamar Yuni dan Dhani. Ia selalu memastikan kamar itu tetap bersih dan masih sama seperti sebelum mereka pergi meninggalkan rumah. Bahkan, sesekali ia mencuci baju di lemari kedua anaknya tersebut, memastikan agar mereka bisa menggunakannya ketika kembali ke rumah.
"Kalau mereka pulang, biar kamarnya tetap rapi," katanya suatu hari pada Angel.
Angel hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. Sebagai anak bungsu, hanya dia satu-satunya anak yang masih tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Gadis itu tahu bahwa ibunya sangat merindukan kedua kakaknya yang telah lama pergi ke kota. Ia sempat beberapa kali mencoba menghubungi kedua kakaknya itu, meskipun hasilnya sama saja, tidak ada jawaban.
***
Suatu malam, setelah menutup toko, Bu Ningsih duduk di ruang tamu sambil memandang foto keluarganya yang dipajang di dinding. Foto itu diambil ketika Yuni dan Dhani masih kecil, bahkan sebelum Angel lahir. Mereka berdua tampak tersenyum lebar sambil memeluk ayah dan ibunya.
"Dulu rumah ini begitu ramai, tetapi sekarang kenapa sepi sekali ya..." ucap Bu Ningsih lirih.
Pak Yudha yang sedang menghitung uang hasil jualan hanya terdiam. Ia tahu, istrinya sangat merindukan kedua anaknya. Sebenarnya, ia juga merasakan hal yang sama, meskipun sengaja tidak ditunjukkan.
Sering kali, Bu Ningsih sengaja memasak makanan kesukaan mereka dalam porsi besar. Sayur lodeh kesukaan Yuni dan ayam kecap favorit Dhani. Namun, makanan itu nyatanya hanya dimakan bertiga saja.
"Siapa tahu mereka tiba-tiba pulang," ucapnya sambil memaksa tersenyum.
Pak Yudha dan Angel hanya mengangguk meskipun mereka tahu sakit rasanya mendengar hal itu.
***