Hujan selalu membuat Yudha terbangun.
Bertahun-tahun kemudian, suara air yang menghantam atap seng masih mampu membawanya kembali ke sebuah malam yang tidak pernah benar-benar ia lupakan. Jeritan kedua orang tuanya, suara rem yang berdecit, lalu cahaya api yang menyala di tengah derasnya hujan.
Sore itu Yudha belum mengenal seorang gadis bernama Ningsih. Ningsih pun belum tahu bahwa seorang anak laki-laki yang akan datang ke panti beberapa jam kemudian perlahan akan mengubah jalan hidupnya.
***
Jauh sebelum dikenal sebagai ibu yang penyabar, Ningsih hanyalah seorang gadis kecil yang tumbuh tanpa pernah mengetahui wajah kedua orang tuanya. Ia ditemukan di depan gerbang Panti Asuhan Harapan Ibu ketika usianya baru beberapa hari. Tubuh mungilnya dibungkus selimut lusuh dengan sebuah gelang rumah sakit bertuliskan 'Bayi Ningsih'. Tidak ada surat, bahkan tidak ada petunjuk mengenai siapa yang meninggalkannya. Sejak saat itu, panti asuhan menjadi satu-satunya rumah yang dikenalnya.
Panti tersebut berada di pinggiran Kota Surabaya. Bangunannya sudah cukup tua. Ketika hujan deras turun, beberapa bagian atap seng sering bocor. Dindingnya lembap dan cat yang mengelupas membuat tempat itu tampak semakin kusam. Namun, bagi Ningsih, tempat itu tetaplah rumah. Ia tidak memiliki tempat lain untuk pulang.
Ningsih sering duduk di dekat jendela asrama perempuan sambil memeluk lutut. Dari sana, ia dapat melihat anak-anak lain yang sesekali dijemput keluarga mereka ketika liburan sekolah. Ada yang pulang bersama ayah dan ibunya. Ada pula yang datang membawa makanan serta hadiah ulang tahun dari keluarga.
Ningsih hanya melihat dari kejauhan. Ia tidak pernah menangis.
Setidaknya, tidak di depan orang lain.
“Kenapa kamu selalu sendirian? Gabung saja dengan teman-teman yang lain,” tanya Bu Lina suatu sore.
Ningsih mengangkat wajahnya.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku sudah terbiasa.”
Ia tersenyum kecil.
Ningsih memang bukan anak yang banyak bicara. Ketika anak-anak lain berlarian di halaman, ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan.
Ruangan itu sempit dan pengap. Rak-rak kayunya sudah lapuk. Beberapa bahkan mulai dimakan rayap. Buku-buku lama memenuhi hampir setiap sudut. Ada yang sampulnya robek, ada yang kehilangan halaman, dan sebagian sudah tidak layak dibaca.
Namun, Ningsih menyukai tempat itu. Di sana, ia bisa menjadi siapa saja. Ia dapat pergi ke kota yang belum pernah dikunjunginya, mengenal orang-orang yang tidak pernah ditemuinya, atau membayangkan sebuah keluarga yang selama ini hanya hidup dalam pikirannya. Buku menjadi cara Ningsih mengenal dunia. Ia membaca novel, buku sejarah, ensiklopedia lama, hingga buku resep yang sampulnya sudah kusam. Dari buku-buku resep itulah ia mulai belajar memasak.
Suatu sore, Bu Ratmi menemukan Ningsih masih duduk di perpustakaan ketika anak-anak lain sedang bermain di halaman.
“Ningsih, kamu tidak bosan membaca terus?”
Ningsih menggeleng. “Tidak, Bu.”
Ia menutup bukunya.
“Kalau membaca, rasanya aku bisa pergi ke mana saja.”
Bu Ratmi terdiam. Ia memahami sesuatu yang tidak dikatakan gadis itu. Ningsih memang bisa pergi ke mana saja melalui buku. Hanya saja, ia tidak pernah tahu ke mana harus pulang.
Selain membaca, Ningsih juga senang membantu di dapur. Ia belajar memasak dari Bu Ratmi, mulai dari menyalakan kompor minyak, memotong sayuran, hingga membuat sup sederhana.
Suatu hari, ketika sedang membantu menyiapkan makan malam, Ningsih tiba-tiba berkata,
“Bu, kalau sudah besar, aku ingin punya rumah sendiri.”