Jauh sebelum dikenal sebagai sosok ibu yang sabar dan penuh kasih, Bu Ningsih dulu hanyalah seorang gadis kecil yang kesepian. Ia sama sekali tidak mengenal sosok kedua orang tuanya. Sejak bayi, Ningsih sudah ditinggalkan di depan pintu panti asuhan Harapan Ibu tanpa keterangan apa pun.
Panti yang terletak di pinggir kota Surabaya itu merupakan bangunan tua dengan dinding yang lembap saat musim hujan, dilapisi cat yang sudah mengelupas, dan ditutup dengan atap seng yang sering bocor saat hujan deras. Namun, bagi Ningsih kecil, tempat itu adalah satu-satunya rumah yang ia miliki. Tanpa pelukan hangat dari kedua orang tuanya, ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Dunia adalah tempat yang asing dan sunyi baginya.
Setiap kali anak-anak lain dijemput oleh kerabatnya saat liburan sekolah atau mendapatkan hadiah ulang tahun dari keluarga mereka, Ningsih hanya terdiam duduk di dekat jendela asrama perempuan sambil memeluk lututnya. Namun, ia tidak pernah sekalipun terlihat menangis. Kesedihan di dalam hatinya sudah lama terpendam sehingga yang ada hanyalah sunyi.
"Kenapa kamu selalu sendirian? Gabung saja dengan teman-teman yang lain," tanya seorang pengasuh yang penasaran dengan sikap Ningsih.
"Tidak apa-apa, aku suka ketenangan," balas Ningsih sambil tersenyum.
Sejak kecil, Ningsih memang suka menghabiskan waktu di perpustakaan. Baginya, tempat itu seakan menjadi pelarian dari dunia. Ia merasa tenang di sana, meskipun itu hanyalah sebuah ruangan kecil dan pengap dengan aroma kertas tua yang usang dan berdebu. Rak-raknya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan usia, dengan berjejer buku-buku koleksi lama yang sudah menguning. Sepulang sekolah, setelah menuntaskan rutinitas hariannya, seperti belajar memasak dan menyapu, ia langsung bergegas menuju perpustakaan.
Ningsih sangat suka membaca. Mulai dari novel, buku sejarah, atau ensiklopedia tua yang bahkan beberapa halamannya sudah hilang, telah dibaca olehnya setiap hari. Namun, buku favoritnya tidak lain adalah buku resep. Ia belajar menghapal resep masakan sederhana dari buku tersebut. Bagi Ningsih, buku adalah jendela dunia yang membawanya mengenal dunia luar, melintasi samudera luas, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mendaki gunung, berpergian ke luar negeri, bahkan ia seolah tahu gambaran keluarga yang hangat yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Selain membaca, Ningsih juga gemar memasak. Hampir setiap hari, ia rajin membantu di dapur. Ia belajar memasak dari buku resep dan juga Bu Ratmi, pengurus dapur yang terlihat galak tapi sebenarnya baik hati. Dari sanalah ia belajar memotong sayur, menyalakan kompor, menggoreng tempe, hingga membuat sup sederhana untuk anak-anak panti.
"Ningsih itu anak gadis yang paling rajin di sini," puji Bu Ratmi.
Meskipun begitu, kehidupan Ningsih tetap sunyi, datar, dan monoton. Hingga suatu sore, ketika hujan deras datang, para anak panti tengah sibuk membawa ember untuk menadah atap yang bocor. Sebuah mobil dinas sosial datang membawa seorang anak laki-laki berbadan kurus dengan baju yang sudah lusuh. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi luka kecil, dan matanya sembab seperti seseorang yang terlalu lama menangis. Namanya adalah Yudha. Hari itu seluruh penghuni panti mendengar kisahnya.
Dunia Yudha runtuh seketika. Beberapa bulan yang lalu sebuah truk menghantam mobil keluarganya di tengah hujan deras. Keluarganya seketika itu meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Entah beruntung atau sial, hanya Yudha yang berhasil selamat karena duduk di kursi belakang dan sempat terlempar ke luar sebelum mobil terbakar. Awalnya, ia dirawat oleh keluarga pamannya. Namun, keluarga itu tidak benar-benar menerima kehadirannya. Sepupunya sering mengejeknya sebagai "anak pembawa sial." Terkadang, makanannya sengaja dihabiskan, mainannya juga direbut dan disembunyikan. Bahkan, pada suatu malam Yudha pernah mendengar sepupunya berkata kepada ayahnya. "Kalau terus di sini, dia cuma akan menjadi beban, yah."