Selama lima belas tahun, seseorang terus mencari seorang gadis yang bahkan tidak mengetahui nama keluarganya sendiri. Sementara itu, gadis yang dicari justru sedang belajar arti bahagia untuk pertama kalinya.
***
Setahun berlalu, kehidupan Yudha dan Ningsih di panti berjalan seperti air yang mengalir. Sederhana, tetapi perlahan menjadi rumah yang nyaman bagi mereka yang tumbuh dari keterbatasan. Panti itu tidak pernah benar-benar berkecukupan. Di meja makan, lauk yang tersaji sering kali hanya tempe goreng, sayur bening, atau telur yang dibagi untuk beberapa anak. Menjelang akhir bulan, sepiring nasi hangat dengan kerupuk dan kecap sudah dianggap sebagai hidangan istimewa. Lampu juga kerap padam karena tagihan listrik yang belum mampu dibayar. Saat malam tiba, anak-anak belajar di bawah cahaya lampu minyak sambil saling berbagi buku pelajaran.
Namun, bagi Yudha dan Ningsih, kemiskinan bukan lagi hal yang paling menyakitkan. Yang dulu terasa begitu sunyi, kini perlahan berubah menjadi hangat. Mereka telah menemukan seseorang yang membuat hari-hari terasa lebih berarti.
Perpustakaan kecil di panti, menjadi tempat favorit Ningsih dan Yudha. Dua remaja itu sering duduk bersama untuk menghabiskan waktu senggang. Ningsih asyik membaca buku, sedangkan Yudha mencoba memperbaiki beberapa perabotan tua di perpustakaan, seperti kursi dan meja. Terkadang mereka juga bercanda.
"Nanti, kalau aku sudah punya uang banyak, perpustakaan ini bakal aku renovasi," ujar Yudha berhayal.
Ningsih tersenyum geli.
"Terus aku jadi penjaganya?" sahut Ningsih.
"Bukan dong!" seru Yudha.
"Terus jadi apa?" tanya Ningsih.
Yudha tersenyum lebar. "Ya jelas, kamu jadi pemiliknya,"
Ningsih seketika tertawa mendengar ucapan itu, sambil menyenggol lengan Yudha.
"Kamu jangan kebanyakan mimpi, Yud!"
"Boleh, kan?"
"Boleh, sih."
"Karena semua yang besar selalu dimulai dari mimpi kecil."
Kalimat itu membuat Ningsih terdiam beberapa saat. Entah mengapa, setiap kali Yudha berbicara tentang masa depan, ia selalu merasa masa depan itu benar-benar ada. Meskipun sederhana, impian itu terasa begitu hangat bagi mereka yang sejak kecil sudah kehilangan orang tuanya.
Namun, kehidupan di panti juga mengajarkan satu kenyataan yang paling menyakitkan, yaitu perpisahan. Satu per satu anak panti datang dan pergi silih berganti. Ada yang diadopsi oleh keluarga kaya, dijemput oleh sanak saudara, bahkan sengaja keluar karena merasa sudah cukup umur untuk mencari pekerjaan dan menyambung hidup di luar sana. Di tengah riuhnya perpisahan itu, Ningsih dan Yudha selalu tertinggal. Di usia mereka yang sudah remaja, peluang mereka untuk diadopsi hampir mustahil terjadi. Calon orang tua asuh lebih memilih balita atau anak-anak yang lucu.
Setiap kali ada yang pergi, panti menjadi terasa sepi. Ningsih sering berdiri diam di depan pintu sambil melihat mobil penjemputan menghilang dari pandangannya. Ia kemudian berlari ke perpustakaan, menutupi kesedihannya. Yudha menyusulnya. Ia menemukan Ningsih duduk memeluk lutut di dekat jendela.
"Kadang aku iri," ucap Ningsih lirih sambil mengusap air matanya.
Yudha yang duduk di sampingnya membalas, "Iri kenapa?"