Waktu terus berlalu, kehidupan Yudha dan Ningsih di panti berjalan seperti air yang mengalir. Sederhana, tetapi perlahan menjadi rumah yang nyaman bagi mereka yang tumbuh dari keterbatasan.
Setiap harinya, suara lonceng tua itu membangunkan seluruh penghuni panti sebelum matahari terbit. Mereka bersiap untuk sholat bersama. Setelah itu, mereka berbaris rapi antre menimba air sumur untuk mandi. Berseragam rapi, lalu menyiapkan bekal sarapan, dan bergegas pergi ke sekolah. Kehidupan mereka sangat sederhana, bahkan sering kekurangan. Kadang, mereka makan hanya dengan tempe dan sayur bening. Bahkan saat akhir bulan, nasi yang ditambah krupuk dan kecap sudah mengenyangkan perut mereka. Sering juga listrik tiba-tiba mati karena tagihan yang menunggak. Namun, di tengah semua itu, kehidupan Ningsih tak lagi sunyi. Kini selalu ada Yudha yang menemaninya.
Perpustakaan kecil di panti, menjadi tempat favorit Ningsih dan Yudha. Dua remaja itu sering duduk bersama untuk menghabiskan waktu senggang. Ningsih asyik membaca buku, sedangkan Yudha mencoba memperbaiki beberapa perabotan tua di perpustakaan, seperti kursi dan meja. Terkadang mereka juga bercanda.
"Nanti, kalau aku kaya, perpustakaan ini bakal aku renovasi," ujar Yudha berhayal.
"Terus aku jadi penjaganya?" sahut Ningsih.
"Bukan dong!" seru Yudha.
"Terus jadi apa?" tanya Ningsih.
"Ya jelas, kamu jadi pemiliknya,"
Ningsih seketika tertawa mendengar ucapan itu, sambil menyenggol lengan Yudha. Meskipun sederhana, kebahagiaan kecil itu terasa begitu hangat bagi mereka yang sejak kecil sudah kehilangan orang tuanya.
***
Hidup di panti juga harus terbiasa dengan perpisahan. Satu per satu anak panti datang dan pergi silih berganti. Ada yang diadopsi oleh keluarga kaya, dijemput oleh sanak saudara, bahkan sengaja keluar karena merasa sudah cukup umur untuk mencari pekerjaan dan menyambung hidup di luar sana. Di tengah riuhnya perpisahan itu, Ningsih dan Yudha selalu tertinggal. Di usia mereka yang sudah remaja, peluang mereka untuk diadopsi hampir mustahil terjadi. Calon orang tua asuh lebih memilih balita atau anak-anak yang lucu.
Setiap kali ada yang pergi, panti menjadi terasa sepi. Ningsih sering berdiri diam di depan pintu sambil melihat mobil penjemputan menghilang dari pandangannya. Ia kemudian berlari ke perpustakaan, menutupi kesedihannya.
"Kadang aku iri," ucap Ningsih lirih sambil mengusap air matanya.
Yudha yang duduk di sampingnya membalas, "Iri kenapa?"
"Mereka punya tempat untuk pulang."
Perkataan itu membuat Yudha terdiam. Ia tahu Ningsih yang dikenalnya adalah sosok yang kuat, tetapi ternyata jauh di lubuk hati, ia hanyalah seorang gadis yang ingin dicintai dan dipilih seseorang. Sejak saat itu, Yudha mulai sering memberikan semangat kepada Ningsih. Ia dulunya selalu dihibur Ningsih, kini berganti menjadi tempat bersandar untuk gadis itu.