Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #7

Rahasia yang Kembali

Kadang, seseorang tidak perlu kehilangan nyawanya untuk mengubah seluruh hidupnya. Cukup satu malam, satu kebakaran, dan satu rahasia yang akhirnya menemukan jalan keluar.

Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi Yudha dan Ningsih mulai berangsur membaik. Luka bakar yang mereka alami tidak terlalu parah, tetapi asap yang sempat mereka hirup membuat keduanya harus menjalani observasi sebelum diizinkan pulang.

Ketika akhirnya mereka kembali ke Panti Asuhan Harapan Ibu, suasana yang biasanya riuh berubah menjadi penuh haru. Anak-anak panti berlarian menyambut mereka. Bu Ratmi memeluk Ningsih sambil menangis, sedangkan Bu Lina tak henti-hentinya mengusap kepala Yudha yang masih tampak pucat.

"Syukur kalian kembali," bisiknya berulang kali.

Pak Surya hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Meski berusaha tersenyum, sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Beberapa hari berlalu. Luka di tubuh mereka mulai mengering. Namun, ada luka lain yang justru semakin sulit dipahami. Sejak malam kebakaran itu, Ningsih hampir setiap hari memandangi liontin bunga melati yang kini tersimpan di meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia membukanya berkali-kali. Menatap foto kecil seorang pria yang tidak pernah dikenalnya. Setiap kali melihat wajah itu, ada perasaan aneh yang tak mampu dijelaskan. Seolah-olah ada bagian dari hidupnya yang sedang memanggil.

Suatu malam, ketika seluruh penghuni panti telah tertidur, Ningsih mendatangi ruang kerja Pak Surya. Yudha ikut menemaninya. Pak Surya yang sedang membereskan beberapa berkas langsung menghentikan pekerjaannya.

"Ningsih... Yudha... kenapa belum tidur?"

Ningsih mengulurkan liontin itu.

"Pak, jawab dengan jujur. Sebenarnya, ini milik siapa?"

Ruangan mendadak sunyi. Pak Surya memandang benda itu cukup lama. Ia menghela napas panjang.

"Aku sudah tahu, suatu hari pertanyaan ini pasti akan datang."

Bu Lina yang baru saja masuk membawa dua cangkir teh ikut terdiam. Ia duduk di samping suaminya.

"Ningsih, kami tidak pernah berniat menyembunyikan semuanya darimu."

"Tapi kami juga tidak ingin kehilanganmu," sambung Pak Surya.

Ningsih mengernyit. "Maksudnya?"

Pak Surya bangkit perlahan. Ia berjalan menuju lemari kayu tua yang berada di sudut ruangan. Dari dalam laci paling bawah, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang telah kusam dimakan usia. Kotak itu dibuka perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah liontin setengah hati bermotif bunga melati yang bentuknya hampir sama persis dengan liontin milik Ningsih. Selain itu, ada selembar foto bayi yang mulai menguning. Foto seorang bayi yang dibungkus selimut lusuh.

"Itu... Itu aku?" ucap Ningsih.

Pak Surya mengangguk pelan.

"Malam ketika kau ditemukan di depan gerbang panti, kau dibungkus dengan selimut ini."

"Ibu kandungmu, memberimu nama Ningsih pada gelang yang kamu pakai itu."

"Ibumu tidak meninggalkan surat. Hanya ada foto ini dan satu liontin."

Pak Surya mengambil liontin dari kotak kayu itu.

"Liontin ini sengaja kusimpan. Aku pernah berjanji kepadanya untuk tidak memberikannya kepadamu sebelum waktunya."

"Kepada siapa?" tanya Yudha.

Lihat selengkapnya