Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #4

Janji Suci Pernikahan

Hari itu setelah kedatangan Pak Hendra, kehidupan Yudha mulai berubah. Untuk pertama kalinya semenjak kehilangan orang tuanya, ia merasa hidupnya mulai terlihat jelas terarah. Yudha sudah melepaskan dendam masa lalunya dan kini membuka gerbang untuk masa depannya. Sudah hampir seminggu, Yudha sibuk bolak-balik bersama Pak Hendra mengurus berbagai dokumen penting. Mereka mendatangi kantor notaris, kepala desa, hingga pengadilan untuk mengesahkan rumah warisannya yang ada di Lamongan atas nama Yudha sepenuhnya.

Pak Hendra menatap Yudha dengan kagum, "Kamu memang masih muda, tapi cara berpikirmu jauh lebih dewasa daripada yang aku kira, Yud."

Yudha hanya tersenyum mendengarnya. Baginya, semua yang ia lakukan hanyalah untuk masa depannya bersama Ningsih.

Suatu sore, di perpustakaan panti, Yudha menunjukkan kunci rumah Lamongan kepada Ningsih.

"Ini kunci rumah kita nanti, Ningsih"

Ningsih hanya terdiam, mengangguk, kemudian menangis. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Ternyata doa yang mereka panjatkan telah dikabulkan oleh Allah.

"Tapi aku takut gagal," ucap Yudha mulai ragu.

"Kamu pasti tidak akan gagal," balas Ningsih sambil menyeka air matanya.

"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya balik Yudha.

"Karena dari dulu kamu selalu berjuang dan berusaha untuk bangkit," sahut Ningsih yang seketika membuat Yudha tersenyum dan kembali percaya diri.

Meskipun rumah di Lamongan telah resmi menjadi miliknya, Yudha tidak langsung pindah. Ia memutuskan untuk tetap berada di panti bersama Ningsih sampai lulus sekolah. Sejak saat itu, mereka menjalani tahun terakhir sekolah di kelas 12 dengan penuh semangat. Mereka mulai belajar dengan giat agar dapat lulus ujian dan mendapatkan hasil yang memuaskan.

***

Waktu yang dinanti akhirnya tiba, seluruh penghuni panti bersorak gembira ketika Yudha dan Ningsih dinyatakan lulus. Bu Ratmi bahkan terharu, kemudian memeluk Ningsih.

"Gadis kecil yang dulu suka membantu ibu di dapur sekarang sudah tumbuh dewasa," ucap Bu Ratmi.

Malam itu, setelah selesai makan malam di aula panti, Yudha berdiri di hadapan semua orang, termasuk pengurus panti ingin mengutarakan sesuatu.

"Mohon maaf, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

Semuanya langsung terdiam memperhatikan. Yudha menatap Pak Surya dan Bu Lina, sebagai pasangan pengurus panti yang selama ini mengurus mereka semua seperti anaknya sendiri.

"Saya ingin meminta izin ... untuk menikahi Ningsih. Mohon doa restunya, Pak ... Bu..." ucap Yudha dengan amat gugup.

Lihat selengkapnya