Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #5

Perpisahan di Panti Harapan Bunda

Pagi itu, setelah pesta pernikahan berakhir, para penghuni panti nampak sibuk. Semuanya bergotong royong membereskan halaman panti. Kursi dan meja perlahan dibereskan. Beberapa piring dan gelas mulai dicuci di dapur. Lampu hias yang terpasang mulai dilepas. Semuanya nampak sibuk dengan tugas masing-masing. Namun, suasana di panti nampak berbeda karena hari ini Yudha dan Ningsih akan meninggalkan panti. Bukan untuk sekolah, atau berangkat ke pasar, tetapi pergi sebagai pasangan suami istri menuju rumah mereka yang ada di Lamongan.

Sejak subuh, Ningsih sudah terbangun. Ia duduk di tepi ranjang kamarnya memandangi lemari kayu tua yang sudah kosong. Tempat biasanya ia meletakkan beberapa pakaian dan buku-bukunya. Pakaiannya kini sudah dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam koper, sedangkan beberapa bukunya juga sudah diletakkan ke dalam kardus. Peralatan masak, hadiah dari Bu Ratmi juga sudah diletakkan di depan pintu. Namun, ia seakan tak mampu beranjak. Berat rasanya meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini.

Di sisi lain, Yudha juga sedang membereskan barang-barangnya. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa pakaian, berkas-berkas penting dari Pak Hendra, serta foto lama keluarganya. Setelah selesai berbenah, kini ia duduk memandang ke arah jendela kamarnya. Dari balik jendela, ia bisa melihat halaman panti terutama pohon mangga, tempat ia duduk menyendiri saat pertama kali berada di panti. Ia juga melirik perpustakaan, tempat ia pertama kali duduk berdampingan dengan Ningsih.

Sementara itu, Bu Ratmi tampak sibuk memasak. Bau harum makanannya sudah tercium di seluruh ruangan panti. Bu Ratmi sengaja menyiapkan rantang bertingkat untuk menaruh nasi dan lauk yang sudah dimasaknya.

"Lho Bu, rantang ini buat siapa kok banyak sekali?" tanya Ningsih heran.

Bu Ratmi menoleh, terkejut karena Ningsih mendadak datang.

"Ya, tentu saja buat kalian toh. Perjalanan ke Lamongan itu lumayan jauh, masa iya kalian berangkat cuma bawa badan sama cinta," gurau Bu Ratmi sambil tersenyum.

"Sudah Bu, jangan repot-repot. Toh kita nanti bisa beli makan di warung," sahut Yudha

Bu Ratmi mendengus, "kok beli makan sih! Kalian itu tidak ingat dari kecil siapa yang udah masakin. Saat sakit, siapa yang bikinin bubur. Abis pulang sekolah, siapa yang suruh kalian lekas makan. Masa karena sekarang udah nikah, mendadak jadi sok mandiri."

Ningsih tertawa mendengar ucapan Bu Ratmi kemudian memeluknya sambil berbisik, "terima kasih banyak untuk segalanya, ya Bu. Ningsih pasti sangat merindukan tempat ini."

Bu Ratmi mulai berkaca-kaca, lalu menghampiri Yudha dan membantu merapikan kerah bajunya.

"Nak Yudha, jaga istrimu baik-baik. Jangan kau biarkan dia sendirian lagi," bisik Bu Ratmi menasihati Yudha.

"Tentu saja Bu. Akan aku jaga dan bahagiakan Ningsih sebagai istriku," ujar Yudha sambil menunduk hormat pada Bu Ratmi.

Bu Ratmi kemudian menoleh pada Ningsih, "dan kamu Ning ... Jangan terlalu memikirkan semuanya sendirian. Sekarang kamu sudah punya suami. Kamu bisa ceritakan semua keluh kesahmu kepadanya. Jangan dipendam sendiri seperti dulu."

Ningsih seketika itu menangis. Ia kembali memeluk Bu Ratmi. Yudha juga ikut memeluk mereka dengan hangat. Pelukan itu bukan hanya pelukan perpisahan, tetapi sebuah pelukan hangat dari seorang ibu kepada anak-anaknya.

"Aduh sudah ya, jangan menangis. Nanti ibu juga ikut nangis lho," gumam Bu Ratmi, padahal air matanya tak sadar sudah beberapa kali menetes.

Lihat selengkapnya