Tangisan Yuni pecah tepat ketika jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Ningsih langsung terbangun. Matanya masih berat. Tubuhnya masih pegal karena hampir semalaman tidak tidur. Namun, begitu mendengar suara putrinya menangis, ia segera bangkit.
"Sebentar ya, Nak," bisiknya sambil menggendong bayi kecil itu.
Di sudut kamar, Yudha juga langsung terbangun.
"Masih nangis?"
Ningsih hanya mengangguk. Mereka saling berpandangan. Lalu sama-sama tertawa kecil. Padahal, mata mereka sama-sama sembab karena kurang tidur. Mereka belum tahu apa arti menjadi orang tua. Namun, malam itu mereka mulai belajar.
***
Menjadi seorang ibu di usia yang bahkan belum genap dua puluh tahun bukanlah hal yang mudah bagi Ningsih. Dulu, ia hanya seorang gadis pendiam yang menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan panti. Kini, hampir setiap hari ia menggendong seorang bayi kecil yang hidupnya sepenuhnya bergantung padanya.
Hari-hari pertama setelah kelahiran Yuni menjadi masa yang sangat melelahkan sekaligus mengharukan bagi mereka. Rumah yang dulu tenang kini dipenuhi suara tangisan bayi hampir sepanjang waktu. Kadang tengah malam, menjelang subuh, bahkan baru saja Yuni tertidur beberapa menit, ia kembali menangis kencang tanpa henti.
Di awal-awal menjadi ibu, Ningsih sering panik sendiri. Ia belum benar-benar memahami arti tangisan bayinya. Apakah Yuni lapar? Mengompol, masuk angin, atau hanya ingin digendong. Semua terasa baru dan membingungkan baginya. Beberapa kali Ningsih ikut menangis saat Yuni terus rewel meski sudah digendong dan disusui berulang kali.
“Aku ibu yang buruk ya…” ucapnya lirih suatu malam sambil memeluk Yuni yang terus menangis.
Wajahnya terlihat lelah, rambutnya berantakan, dan matanya terlihat sembab karena kurang tidur. Namun, Yudha langsung mendekat dan memegang pundaknya pelan.
“Jangan ngomong begitu…”
“Tapi aku nggak ngerti kenapa dia nangis terus,” suara Ningsih bergetar penuh rasa bersalah.
Yudha lalu mengambil Yuni perlahan dari pelukan istrinya, “dia cuma bayi kecil dan kita juga baru belajar jadi orang tua.”
Kalimat sederhana itu membuat mata Ningsih kembali berkaca-kaca.
Malam-malam mereka kini berubah total. Yudha yang siang harinya bekerja di pabrik, tetap berusaha membantu istrinya begitu pulang ke rumah. Meski tubuhnya lelah setelah bekerja seharian, ia tidak pernah langsung tidur. Baru saja sampai di rumah, ia langsung mencuci botol susu, mengganti popok Yuni yang penuh. Kadang ia mondar-mandir di ruang tamu sambil menggendong Yuni agar Ningsih bisa tidur sebentar. Bahkan, hampir setiap malam, Yudha rela begadang. Suara sendok kecil yang mengaduk susu formula di dapur menjadi suara yang akrab di rumah mereka.
Dalam cahaya lampu dapur yang redup, Yudha sering terlihat setengah mengantuk sambil menyiapkan susu untuk putrinya. Kadang matanya hampir tertutup karena lelah. Namun, begitu mendengar Yuni menangis, ia langsung bergegas.
“Nah… anak ayah lapar ya…” bisiknya lembut sambil menggendong bayi kecil itu.
Ada malam-malam ketika Yuni menangis bukan karena lapar, melainkan karena pampersnya basah atau BAB. Yudha yang awalnya masih kikuk mengganti popok perlahan mulai terbiasa. Meski, beberapa kali ia salah memasang pampers sampai bocor ke mana-mana. Ningsih bahkan sempat tertawa kecil melihat kepanikan suaminya.
“Mas, itu depan belakangnya kebalik…”
Yudha langsung menatap bingung, “pantesan kok kelihatan aneh”
Tawa kecil seperti itu menjadi hiburan di tengah rasa lelah mereka. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang sering membuat Ningsih diam-diam sedih. ASInya tidak keluar banyak. Padahal ia sudah berusaha keras. Ia meminum berbagai booster ASI yang disarankan bidan puskesmas. Ia makan sayur hijau lebih banyak dan juga berusaha menyusui Yuni sesering mungkin. Tetapi tetap saja, ASI yang keluar sangat sedikit.