Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #12

Warisan Luka di Masa Lalu

Membangun sebuah keluarga ternyata jauh lebih mudah daripada mempertahankannya. Setelah bertahun-tahun berjuang mengejar kebahagiaan, Yudha dan Ningsih akhirnya menyadari bahwa setiap doa yang dikabulkan selalu diikuti oleh ujian yang tak pernah mereka bayangkan. Namun, mereka belum tahu bahwa cobaan terbesar keluarga kecil itu belum benar-benar dimulai.

***

Untuk pertama kalinya sejak Yuni lahir, ia benar-benar merasa takut. Hari berikutnya, Yudha langsung mengajukan cuti dari pabrik. Padahal belum lama ini, ia baru saja membeli sepeda motor baru hasil tabungannya selama bertahun-tahun. Motor itu sebenarnya ingin ia gunakan agar perjalanan kerja lebih mudah dan untuk membawa keluarganya jalan-jalan sesekali. Namun, kini semua tabungan mulai terasa kecil dibandingkan dengan rasa takut kehilangan anak mereka.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit kota, Yuni hanya tertidur lemah di pelukan Ningsih. Sedangkan Yudha mengendarai motor dengan pikiran kacau. Ia terus berharap dokter nanti hanya mengatakan bahwa Yuni kekurangan vitamin atau alergi biasa. Namun, kenyataan ternyata jauh lebih berat.

Di rumah sakit, Yuni menjalani berbagai pemeriksaan. Darah diambil berkali-kali. Tubuh kecilnya harus diperiksa oleh beberapa dokter. Tangisan Yuni setiap kali jarum suntik menusuk kulitnya membuat hati Ningsih hancur.

“Astaghfirullah… maafin ibu ya, Nak,” bisik Ningsih sambil menangis memeluk anaknya.

Sedangkan Yudha hanya bisa berdiri diam di sudut ruangan dengan mata merah menahan sesak.

Hari-hari pemeriksaan itu terasa sangat panjang bagi mereka. Sampai akhirnya, dokter anak memanggil Yudha dan Ningsih ke ruang konsultasi. Dokter membaca hasil laboratorium cukup lama. Ruangan menjadi sangat sunyi dan begitu dingin.

Yudha mulai gelisah. "Dok... Anak saya kenapa?"

Dokter tidak langsung menjawab. Ia meminta perawat mengambil hasil pemeriksaan lain. Semakin lama, semakin tidak ada yang berani bicara. Barulah dokter mengangkat wajahnya.

"Bapak... kami menemukan sesuatu."

Dokter membuka hasil pemeriksaan perlahan sebelum akhirnya berkata hati-hati,

“Anak Bapak dan Ibu kemungkinan besar mengalami penyakit autoimun.”

Dunia Yudha seakan berhenti sesaat. “Autoimun…?” ulangnya lirih.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa sistem kekebalan tubuh Yuni menyerang tubuhnya sendiri sehingga menyebabkan demam berulang, ruam kulit, dan penurunan berat badan. Ningsih langsung menutup mulutnya, menahan tangis.

“Tapi… kami nggak punya penyakit begitu, Dok…” katanya gemetar.

Yudha yang sejak tadi diam mendadak membeku. Pikirannya langsung kembali ke masa kecilnya. Ia teringat bagaimana dulu ibunya sering sakit-sakitan. Tubuhnya lemah, sering dirawat, dan akhirnya kesehatannya terus menurun sebelum kecelakaan merenggut nyawanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Yudha sadar. Ibunya memang pernah mengidap penyakit autoimun. Tangan Yudha langsung gemetar. Wajahnya seketika pucat.

“Jadi… ini dari saya…” bisiknya pelan penuh rasa bersalah.

Sepanjang perjalanan pulang, Yudha nyaris tidak berbicara. Ia hanya terus memandangi jalan dengan mata kosong.

Malam itu, setelah Yuni tertidur karena obat, Yudha duduk sendirian di teras rumah sambil menunduk. Ningsih yang keluar membawa teh hangat langsung melihat bahu suaminya bergetar pelan. Yudha menangis.

“Aku yang bikin dia sakit…” Suara itu terdengar begitu hancur.

Ningsih langsung memeluk suaminya erat. “Jangan bilang begitu…”

“Tapi penyakit itu dari keluargaku…” Yudha menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kalau dulu aku nggak punya penyakit keturunan ini…”

“Nggak ada orang tua yang pengen anaknya sakit, Mas.”

Tangisan Yudha pecah malam itu. Selama ini ia selalu berusaha menjadi ayah yang kuat. Namun, melihat anak kecil yang sangat ia cintai harus menanggung penyakit sejak bayi membuat hatinya terasa remuk.

“Aku takut kehilangan dia,” bisiknya lirih.

Lihat selengkapnya