Yudha menyerahkan amplop putih itu. Ningsih membacanya perlahan. Tangannya mulai gemetar.
Surat Pemutusan Hubungan Kerja.
Tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di ruang tengah. Di kamar, Yuni sedang tertidur. Sesekali ia batuk kecil. Ningsih memejamkan mata. Air matanya jatuh tanpa suara. Yudha menatap ke arah lemari dapur. Kaleng beras tinggal setengah, kaleng susu Yuni hampir kosong, dan obat-obatan di atas meja hanya cukup untuk beberapa hari lagi. Ia mengepalkan tangan. Lalu menatap rumah kecil yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Yudha tidak tahu harus melangkah ke mana.
Di luar rumah, suara angin tambak terdengar pelan. Sedangkan, di dalam rumah itu, seorang lelaki yang sejak kecil selalu berusaha kuat, akhirnya kembali merasa takut kehilangan segalanya. Surat pemutusan hubungan kerja itu masih tersimpan rapi di dalam lemari kayu kamar mereka.
Yudha menatap rak toko yang hampir kosong. Di tangannya hanya ada beberapa lembar uang lusuh. Ia menghitungnya sekali, lalu menghitung lagi. Jumlahnya tetap sama. Tak cukup untuk membeli seluruh stok barang yang dibutuhkan. Di dalam kamar, Ningsih sedang hamil besar. Di ruang tengah, Yuni tertidur sambil memeluk tas sekolahnya.
Yudha menarik napas panjang.
"Kalau aku menyerah sekarang, siapa yang akan menjaga mereka?"
Beberapa minggu setelah menerima surat tersebut, Yudha akhirnya mulai menerima kenyataan. Meski rasa kecewa masih ada, ia sadar bahwa hidup tidak akan berjalan jika ia terus meratapi nasib. Terlebih lagi, Ningsih sedang mengandung anak kedua mereka yang sebentar lagi akan lahir.
Ada keluarga yang harus ia jaga. Istri yang membutuhkan dirinya, anaknya Yuni yang masih bersekolah, dan calon bayi yang akan segera hadir ke dunia. Dengan tabungan yang tidak banyak dan pesangon dari pabrik yang diterimanya, Yudha mengambil keputusan yang menurutnya paling masuk akal. Sebagian uang digunakan untuk biaya persalinan Ningsih. Sisanya dipakai untuk mengembangkan toko kelontong mereka.
"Aku nggak boleh menyerah sekarang," ucap Yudha suatu malam kepada dirinya sendiri.
Sejak hari itu, kehidupan Yudha berubah total. Jika dulu ia berangkat pagi ke pabrik dan pulang sore hari, kini seluruh waktunya dihabiskan untuk toko. Pukul tiga dini hari, alarm tua di samping tempat tidurnya sudah berbunyi. Meski matanya masih berat, ia segera bangun, mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat tahajud dan salat Subuh. Setelah itu, tanpa membuang waktu, ia langsung berangkat ke pasar menggunakan motor barunya. Udara dini hari terasa dingin dan jalanan masih sepi. Namun, Yudha tetap melaju menuju pasar induk yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Di sana, ia membeli beras, minyak goreng, gula, mi instan, telur, sabun, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Hari pertama, hanya dua orang yang datang membeli. Hari kedua, tidak sampai sepuluh pelanggan. Hari ketiga juga masih sepi.
Yudha mulai cemas. "Kalau begini terus, uang kita bakalan habis."
Namun, di minggu berikutnya, seorang ibu berkata kepada tetangganya.
"Belanja di toko Pak Yudha aja. Orangnya jujur."
Dari mulut ke mulut, pelanggan mulai berdatangan.
Awalnya Yudha hanya membeli sedikit barang karena takut tidak laku. Namun, ternyata keadaan berkata lain. Toko mereka justru semakin ramai. Banyak warga desa yang lebih senang berbelanja di toko Yudha karena pelayanannya ramah dan harga yang ia berikan jujur. Bahkan, beberapa pelanggan rela datang dari dusun sebelah. Akibatnya, stok barang sering habis lebih cepat dari perkiraannya.
"Pak Yudha, minyaknya habis lagi?"
"Iya Bu, besok pagi saya ambil lagi ke pasar."
"Kalau gula ada?"
"Barusan habis juga, Bu."
Situasi seperti itu terjadi hampir setiap hari. Sampai-sampai gudang kecil di belakang rumah yang dulu sering kosong, kini selalu penuh kardus dan karung dagangan.
Yuni yang sudah duduk di bangku sekolah dasar sering membantu ayahnya selepas pulang sekolah. Anak itu duduk di dekat meja kasir sambil membaca buku. Namun, ketika ada pembeli, ia segera berdiri.
"Pak, beli kecap satu."
"Sebentar ya, Bu." ucap Yuni lalu berlari kecil mengambil barang yang dimaksud.
Melihat putrinya membantu membuat hati Yudha terasa hangat. Kadang ia teringat masa kecilnya sendiri yang tidak pernah merasakan kebersamaan seperti itu bersama orang tuanya. Kini, meskipun hidup mereka sederhana, setidaknya anak-anaknya tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang.
Namun, kesibukan itu perlahan mulai menguras tenaga Yudha. Setelah pulang dari pasar, ia harus membuka toko sejak pagi hingga malam. Toko biasanya baru tutup sekitar pukul sepuluh malam. Setelah itu, ia masih harus menghitung pemasukan, menyusun barang, dan mempersiapkan kebutuhan belanja untuk esok hari. Tubuhnya semakin kurus. Lingkar hitam mulai muncul di bawah matanya. Bahkan, beberapa kali Yuni melihat ayahnya tertidur sambil duduk di kursi toko.
"Yah..." Yuni menggoyang pelan bahu ayahnya.