Suara rem yang berdecit, kilatan petir, dan bau tanah yang basah. Semuanya tiba-tiba menariknya kembali ke masa lalu. Ia kembali melihat bayangan mobil orang tuanya yang berputar di jalan licin. Suara benturan, jeritan ibunya, dan kobaran api. Tubuh Yudha mendadak kaku. Tangannya mulai gemetar. Napasnya memburu.
Ningsih yang masih menahan sakit, justru menyadari perubahan wajah suaminya.
"Mas..."
Yudha tidak menjawab. Tatapannya kosong menembus kaca depan. Seolah ia tidak lagi berada di dalam mobil itu.
"Mas..." Suara Ningsih kali ini lebih pelan.
Ia menggenggam tangan Yudha. Sentuhan hangat itu membuat Yudha perlahan kembali sadar. Ia berkedip beberapa kali, melihat wajah istrinya yang menahan sakit dan Yuni yang ketakutan.
Di luar, Pak RT sedang berusaha menyingkirkan dahan pohon bersama beberapa warga yang kebetulan melintas. Yudha menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan.
"Aku nggak boleh kalah lagi," bisiknya.
Beberapa warga akhirnya berhasil memindahkan dahan yang menutupi jalan. Mobil kembali melaju. Namun hujan justru semakin deras. Genangan air kini hampir menutupi sebagian jalan. Pak RT memperlambat laju kendaraan.
"Kalau begini, kita bisa terlambat."
Belum sempat Yudha menjawab. Ningsih tiba-tiba mencengkeram lengannya sangat kuat.
"Mas... Aku merasa bayinya mau keluar…"
Semua orang di dalam mobil saling berpandangan. Pak RT langsung menekan klakson berkali-kali sambil mempercepat laju kendaraan.
Di luar, hujan terus mengguyur malam. Seolah langit ikut menahan napas bersama mereka. Malam itu, Yudha benar-benar takut kehilangan lagi.
Setibanya di rumah sakit, Ningsih segera dibawa ke ruang persalinan. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya yang penuh komplikasi, kali ini proses persalinan berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan dokter. Meski tubuhnya sempat melemah selama masa kehamilan, kondisi bayi dan ibunya ternyata sangat baik.
Yudha kembali menunggu di luar ruang persalinan. Tangannya terus bergetar. Bibirnya tak henti-henti melafalkan doa. Sementara itu, Yuni duduk di sampingnya sambil memeluk tas kecil berisi perlengkapan bayi.
Beberapa jam kemudian, tangisan bayi terdengar memecah keheningan rumah sakit. Suara itu membuat Yudha langsung berdiri. Matanya membelalak, dadanya terasa sesak oleh harapan dan rasa syukur. Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil tersenyum.
"Selamat, Pak. Anaknya laki-laki."
Kalimat sederhana itu membuat seluruh beban di pundak Yudha seakan runtuh. Air matanya langsung mengalir. Ia mengucap syukur berkali-kali sambil menengadahkan wajah. Ketika akhirnya diperbolehkan masuk, ia melihat Ningsih yang tampak lelah namun bahagia. Di sampingnya terbaring seorang bayi laki-laki yang sehat. Tubuhnya mungil, pipinya kemerahan, tangisnya keras dan kuat. Yuni yang berdiri di samping tempat tidur langsung tersenyum lebar.
"Itu adikku?"
"Iya."
"Boleh aku gendong nanti?"
Ningsih tertawa pelan. "Nanti kalau sudah besar sedikit."
Setelah berdiskusi bersama, mereka akhirnya memberi nama bayi itu Dhani Prasetyo. Nama yang diambil dari gabungan nama Yudha dan Ningsih, sebagaimana dahulu mereka memberi nama Yuni untuk putri pertama mereka. Kini kedua anak mereka sama-sama membawa bagian dari nama kedua orang tuanya. Bagi Yudha dan Ningsih, itu bukan sekadar nama. Tetapi simbol bahwa keluarga kecil mereka dibangun dari perjuangan yang mereka lalui bersama.
Saat melihat Dhani, Yudha menangis. Namun, bukan hanya karena bahagia. Ia teringat satu hal. Biaya rumah sakit belum lunas. Ia memandangi amplop pembayaran di meja. Lalu memandang putranya. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus merasa bahagia atau takut.
Yudha tidak menyadari bahwa malam hujan itu akan selalu dikenangnya. Bukan rasa takut yang kembali menghantuinya, melainkan pada malam itulah seorang anak lahir. Tanpa sadar, Dhani menjadi cahaya yang perlahan menyembuhkan luka yang telah ia bawa sejak kecil.
Keesokan harinya, ketika Yudha sedang mengurus administrasi rumah sakit, Pak RT datang menjenguk. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat.
"Ini titipan warga."
Yudha menatap bingung. "Apa ini, Pak?"
"Sumbangan dari warga desa untuk membantu biaya persalinan Bu Ningsih."