"Mas..." Suara Ningsih hampir tak terdengar.
Ia berdiri di depan pagar rumah tua itu tanpa berani melangkah masuk. Tangannya menggenggam erat jemari Yudha.
"Kenapa?"
"Aku takut."
Yudha menatap rumah peninggalan orang tuanya. Catnya mulai memudar. Jendelanya berdebu. Rumput liar tumbuh di halaman. Namun, bagi mereka, rumah itu adalah mimpi yang selama bertahun-tahun hanya berani dibayangkan.
"Ayo masuk! Ini rumah kita."
Yudha membuka pagar perlahan. Suara engsel tua berderit memecah keheningan.
Tak ada yang menyadari, langkah pertama mereka melewati pagar itu akan menjadi awal dari kebahagiaan dan juga luka terbesar dalam hidup mereka.
***
Perjalanan panjang itu terasa seperti awal kehidupan baru, ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki desa kecil tempat rumah warisan Yudha berada. Ningsih hanya terdiam kagum. Hamparan tambak membentang luas di sisi jalan. Angin laut membawa aroma asin yang lembut. Pohon-pohon kelapa bergoyang perlahan diterpa angin sore.
Di sanalah rumah itu berdiri. Rumah besar bergaya lama dengan halaman luas dan teras panjang. Meski beberapa bagian tampak usang, rumah itu tetap terlihat hangat dan nyaman. Ningsih sampai menahan napas saat masuk ke dalam.
“Apa ini benar-benar rumah kita?” tanyanya pelan.
Yudha tersenyum sambil menggenggam tangannya.
“Iya… ini rumah kita.”
Malam pertama, hujan turun deras. Tiba-tiba ...
plok...
Setetes air jatuh tepat di atas meja makan. Disusul oleh tetesan kedua dan ketiga. Tak lama kemudian ember-ember memenuhi ruang tamu.
Ningsih tertawa. "Rumah kita bocor."
Yudha ikut tertawa.
"Nggak apa-apa. Nanti kita perbaiki pelan-pelan."
Untuk pertama kalinya, mereka tidak takut pada hujan. Karena kini mereka menghadapinya bersama.
Malam pertama di rumah itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara ramai anak-anak panti atau bunyi lonceng pagi. Hanya suara jangkrik dan angin tambak dari kejauhan. Namun, mereka bisa tidur dengan perasaan tenang. Kini, mereka sudah memiliki tempat untuk pulang. Kehidupan baru yang dimulai dari nol.
Yudha mulai mencari pekerjaan di kota terdekat sambil memikirkan cara mengembangkan warisan yang dimilikinya. Sebagian uang peninggalan orang tuanya digunakan untuk membangun toko kelontong kecil di depan rumah. Yudha mengecat sendiri dinding toko, membuat rak kayu sederhana, dan mengangkat barang-barang dagangan tanpa bantuan siapa pun.
Rumah tersebut sudah lama kosong dan perlu direnovasi. Bahkan, sebagian ruangan belum bisa digunakan karena atap bocor dan instalasi listrik rusak. Akhirnya, Yudha mulai memperbaiki rumah itu secara bertahap karena ia tak memiliki banyak uang untuk merenovasi rumahnya sekaligus.
Sementara itu, Ningsih mulai memenuhi rumah dengan buku. Sedikit demi sedikit, ia membeli buku bekas dari kota. Mulai dari novel, buku pelajaran, cerita anak-anak, hingga ensiklopedia lama dibeli untuk bahan bacaan. Melihat banyak anak desa yang kesulitan mendapatkan buku bacaan, Ningsih akhirnya membuka perpustakaan kecil di salah satu ruangan di depan rumah mereka. Awalnya, hanya beberapa anak yang datang. Namun, lama-kelamaan perpustakaan kecil itu mulai ramai. Anak-anak desa senang mendengarkan Ningsih membacakan cerita setiap sore. Bahkan, beberapa warga mulai meminjam buku untuk belajar membaca.
“Bu Ningsih itu baik sekali,” kata warga sekitar.
Suatu waktu, ada seorang anak kecil yang mengembalikan buku cerita yang sampulnya robek.
"Maaf, Bu. Aku nggak sengaja."
Ningsih tersenyum.
"Buku yang robek masih bisa diperbaiki."
Anak itu tersenyum lega. Namun, tanpa disadari, kalimat sederhana itu kelak akan terus terngiang ketika keluarganya sendiri mulai retak.
Sedangkan toko kelontong Yudha perlahan berkembang karena kejujurannya dalam berdagang. Mereka mungkin tidak kaya. Namun, rumah itu selalu dipenuhi tawa, aroma masakan hangat, dan suara halaman buku yang dibuka setiap malam. Dua anak yatim piatu yang dulu tumbuh dalam kesepian kini perlahan membangun dunia kecil mereka sendiri dengan penuh cinta.
Waktu berjalan begitu cepat sejak Yudha dan Ningsih menetap di desa kecil di Lamongan. Rumah yang dulu terasa sunyi perlahan berubah menjadi hangat oleh kehidupan baru mereka. Setiap pagi, Yudha membuka toko kelontong sebelum berangkat bekerja serabutan, sementara Ningsih membersihkan rumah lalu membuka perpustakaan kecilnya untuk anak-anak desa.