Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #15

Tamu Misterius di Tengah Badai

Kadang Allah tidak mengembalikan apa yang telah diambil-Nya. Sebaliknya, Dia menitipkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita duga. Namun, tidak semua titipan datang dengan mengetuk pintu. Ada yang datang bersama hujan, tangisan, dan sebuah rahasia yang belum sempat diceritakan oleh siapa pun.

***

Setelah beberapa bulan beristirahat pasca keguguran, Ningsih perlahan mulai bangkit. Ia tahu kesedihan tidak akan hilang begitu saja, tetapi ia juga sadar bahwa masih ada keluarga yang membutuhkan dirinya. Masih ada Yuni, Dhani, dan Yudha yang diam-diam berusaha mengumpulkan kembali semangat hidupnya.

Suatu pagi, ketika mereka sedang sarapan sederhana di meja makan, Ningsih menyampaikan niatnya.

"Mas, aku ingin membuka warung lagi."

Sendok di tangan Yudha langsung berhenti. "Ningsih..."

"Aku sudah lebih sehat sekarang."

Yudha menggeleng pelan. "Aku nggak mau kamu capek lagi."

Nada suaranya terdengar lebih takut daripada marah. Sejak kejadian keguguran itu, Yudha menjadi sangat protektif terhadap istrinya. Ia tidak ingin kehilangan lagi orang yang dicintainya.

Namun, Ningsih menggenggam tangan suaminya.

"Aku nggak sendiri."

Saat itulah Yuni yang sejak tadi diam ikut berbicara.

"Aku pasti bantu Ibu."

Yudha menoleh.

Yuni tersenyum kecil. "Masakan Ibu sudah banyak yang aku pelajari."

Ningsih ikut tersenyum bangga. Memang selama beberapa tahun terakhir, Yuni sering membantu ibunya di dapur. Tanpa disadari, ia mewarisi bakat memasak Ningsih. Bahkan, beberapa pelanggan pernah memuji masakan yang dibuat Yuni. Tidak mau kalah, Dhani yang masih duduk di bangku sekolah dasar langsung mengangkat tangan.

"Aku juga bantu!"

"Kamu bantu apa?" tanya Yudha.

"Mengantar makanan."

Semua tertawa kecil. Suara tawa kembali memenuhi rumah itu.

Rumah itu kembali dipenuhi tawa. Suara yang sempat menghilang setelah keguguran kini perlahan kembali terdengar. Namun, ada satu kursi kecil di ruang makan yang masih kosong. Tak seorang pun tahu mengapa Ningsih belum pernah memindahkannya. Seolah-olah, ia masih percaya suatu hari nanti kursi itu akan terisi.

Sementara itu, Yudha akhirnya mengangguk meski masih menyimpan kekhawatiran. Ia sadar. Dirinya tidak mungkin selamanya melindungi Ningsih dari rasa sakit. Yang bisa ia lakukan hanyalah tetap berada di samping istrinya ketika rasa sakit itu kembali datang. Ia belum mengetahui bahwa beberapa bulan kemudian, seseorang justru akan datang membawa obat bagi luka yang belum benar-benar sembuh.

Perlahan, kehidupan mereka mulai hangat kembali. Warung makan dibuka lagi. Kali ini, pembagian tugas lebih teratur. Ningsih mengawasi dan memasak menu utama. Yuni membantu menyiapkan bahan makanan dan melayani pembeli. Dhani bertugas mengantarkan pesanan ke meja pelanggan sambil tersenyum ramah. Sedangkan, Yudha tetap fokus menjaga toko kelontong. Meski sederhana, mereka bekerja sebagai sebuah tim. Tanpa disadari, kesibukan itu perlahan mengobati luka di hati mereka.

Hingga suatu malam, hujan turun sangat deras. Angin bertiup kencang hingga membuat daun-daun pohon di halaman bergesekan satu sama lain. Listrik sempat beberapa kali berkedip. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ningsih, Yuni, dan Dhani sudah tertidur. Hanya Yudha yang masih terjaga di ruang depan. Seperti biasa, ia sedang menghitung hasil penjualan toko dan warung hari itu. Suara hujan yang menghantam genteng terdengar sangat jelas.

Tiba-tiba, Yudha merasa melihat sesuatu dari jendela depan. Seperti bayangan, seorang perempuan berdiri di dekat pagar. Perempuan itu berhenti sesaat di bawah cahaya lampu jalan. Ia tampak memeluk sesuatu di dadanya. Yudha berusaha memfokuskan pandangan. Namun, hujan terlalu deras. Ia mengangkat kepalanya. Namun, ketika diperhatikan lagi, sosok itu sudah berjalan menghilang di balik gelapnya jalan desa.

Yudha mengernyit. "Kenapa dia berdiri di sana selarut ini?"

Ia menggeleng. "Mungkin cuma orang lewat."

Namun, belum sempat ia kembali menghitung uang, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang.

Dari luar rumah, terdengar suara tangisan bayi yang sangat pelan, hampir tertelan oleh suara hujan. Yudha mengernyit. Ia mengira hanya salah dengar. Namun, beberapa detik kemudian, tangisan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Ningsih yang berada di kamar langsung terbangun. "Mas, itu suara apa?"

"Kamu dengar juga, dek?"

Ningsih mengangguk. Naluri seorang ibu membuatnya langsung berdiri.

"Suara bayi, mas."

Lihat selengkapnya