Ada hari-hari ketika sebuah rumah terasa berbeda, padahal tidak ada satu pun dinding yang berubah. Pagi itu, rumah sederhana milik Yudha dan Ningsih dipenuhi kesibukan yang tidak biasa. Sejak subuh, Ningsih telah bolak-balik dari dapur menuju kamar, membawa pakaian yang telah dilipat rapi, lalu kembali sambil memeriksa sesuatu seolah takut tertinggal. Yudha pun berkali-kali membuka lemari tua di ruang tengah, memastikan map berisi dokumen tetap berada di tempatnya.
Tidak ada yang mengeluh atau bertanya. Namun, semua orang di rumah itu dapat merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang akan mengubah kehidupan mereka. Di ruang tamu, Angel yang masih kecil memperhatikan ibunya dengan wajah bingung.
"Ibu kok dari tadi sibuk terus?"
Ningsih hanya tersenyum. "Nggak apa-apa."
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun, senyum di wajahnya tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di matanya.
Di teras rumah, Dhani sedang membantu ayahnya membersihkan mobil milik Pak RT yang dipinjam untuk hari itu.
"Pak..."
"Iya?"
"Memangnya kita mau ke mana?"
Yudha berhenti mengelap kaca mobil. Ia memandang rumahnya beberapa saat sebelum menjawab pelan.
"Hari ini, kita mau mengantar seseorang mengejar mimpinya."
Dhani mengangguk meski belum benar-benar mengerti.
Sementara itu, di dalam kamar, seorang gadis berdiri di depan cermin. Tangannya menggenggam sebuah surat berlogo universitas yang telah berkali-kali ia baca selama beberapa hari terakhir. Ia tersenyum. Namun, tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca. Hari yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba. Namun, ia harus belajar meninggalkan rumah yang selama ini selalu menjadi tempatnya pulang.
***
Tahun-tahun berlalu begitu cepat. Kehadiran Angel membawa warna baru bagi keluarga kecil Yudha dan Ningsih. Meski bukan anak kandung, kasih sayang yang mereka berikan tidak pernah dibedakan. Yuni, Dhani, dan Angel tumbuh sebagai tiga bersaudara yang saling menyayangi.
Di tengah segala keterbatasan, Yudha dan Ningsih selalu mengutamakan pendidikan anak-anak mereka. Kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil ketika Yuni lulus SMA dengan nilai membanggakan dan memperoleh beasiswa di sebuah universitas negeri di Surabaya, kota yang dahulu menjadi saksi perjalanan hidup kedua orang tuanya.
Sejak SMA, Yuni memang dikenal sebagai siswi yang gemar membaca. Hampir setiap waktu luang ia habiskan di perpustakaan sekolah. Karya-karya tulisnya beberapa kali memenangkan lomba sastra, bahkan puisinya pernah dimuat dalam majalah pendidikan daerah.
Suatu hari, wali kelasnya pernah bertanya,
"Yuni, kamu pernah berpikir untuk menjadi guru?"
Yuni tersenyum malu. "Sedikit, Bu."
"Menurut Ibu, kamu cocok."
Kalimat sederhana itu terus teringat di benaknya. Sejak saat itu, Yuni memantapkan cita-citanya menjadi guru Bahasa Indonesia. Ia ingin mengajarkan sastra kepada anak-anak, sebagaimana dahulu ibunya mengenalkan dunia buku kepadanya.
Ketika surat penerimaan universitas datang, Ningsih menangis cukup lama. Bukan karena sedih, melainkan karena bangga. Gadis kecil yang dulu sering ia gendong keluar-masuk rumah sakit, kini berhasil membuka jalan menuju masa depannya sendiri. Namun, semakin dekat hari keberangkatan, semakin besar pula kegelisahan yang memenuhi hati seorang ibu.
Hampir setiap malam sebelum tidur, Ningsih diam-diam masuk ke kamar Yuni. Ia melipat kembali pakaian yang sebenarnya sudah rapi, memeriksa buku-buku kuliah, memasukkan vitamin, obat-obatan, hingga camilan kecil ke dalam tas putrinya.
Yudha yang melihat istrinya hanya bisa tersenyum tipis.
"Kamu sudah periksa tas itu tiga kali."
Ningsih mengangguk pelan.
"Rasanya masih ada yang kurang."
Padahal ia tahu, yang kurang bukan isi tas itu. Melainkan rasa tenang di dalam hatinya.
Sejak kecil, Yuni hidup berdampingan dengan penyakit autoimun. Berkat pengobatan rutin dan perhatian kedua orang tuanya, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan masa kanak-kanak. Namun, penyakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Karena itulah Ningsih selalu mengingatkan jadwal obat, pola makan, dan waktu istirahat putrinya. Kini semua itu harus dilakukan Yuni seorang diri.
Sebelum menutup tas, Ningsih menyelipkan secarik kertas kecil di sela-sela pakaian. Yudha memperhatikannya.
"Itu apa?"
"Surat."
"Buat apa?"
Ningsih tersenyum.