Setiap orang tua berharap anaknya bertemu dengan orang-orang baik ketika merantau. Namun, tidak ada orang tua yang benar-benar tahu siapa saja yang akan mengubah anak mereka, perlahan, tanpa mereka sadari. Di Surabaya, Yuni tidak hanya menemukan ilmu dan sahabat baru. Ia juga akan bertemu seseorang yang diam-diam mengubah cara ia memandang hidup.
Untuk menghemat pengeluaran, Yuni mulai hidup sangat sederhana. Bahkan, ia jadi sering melewatkan sarapan. Kadang hanya makan mi instan atau hanya minum teh hangat hingga sore. Uang sakunya sebagian besar ia tabung. Ia tidak ingin membebani Yudha dan Ningsih. Apalagi ia tahu kondisi ekonomi keluarga mereka tidak sedang baik.
"Aku harus kuat sendiri." Kalimat itu terus ia tanamkan dalam pikirannya.
***
Setelah beberapa minggu menjalani kehidupan sebagai mahasiswa baru, Yuni mulai terbiasa dengan suasana asrama. Di tempat itulah ia mengenal seseorang yang kelak menjadi sahabat terbaiknya. Namanya Rena.
Mereka menempati kamar yang sama. Awalnya hubungan mereka tidak lebih dari sekadar teman sekamar yang saling menyapa ketika berangkat kuliah atau bergantian membersihkan kamar. Namun, semakin lama mereka semakin mengenal satu sama lain.
Rena adalah mahasiswi jurusan Bahasa Inggris yang memperoleh beasiswa karena prestasi akademiknya. Berbeda dengan Yuni yang tumbuh dalam keluarga sederhana tetapi penuh kasih sayang, Rena dibesarkan oleh neneknya setelah kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Kehidupannya tidak pernah mudah. Karena itulah ia terbiasa hidup mandiri dan sangat menghargai setiap orang yang hadir dalam hidupnya.
Suatu malam, saat listrik di asrama sempat padam, mereka duduk di dekat jendela sambil menikmati cahaya lampu jalan.
"Aku iri sama kamu," ucap Rena tiba-tiba.
Yuni menoleh. "Kenapa Iri?"
"Kamu masih punya rumah buat pulang."
Yuni terdiam.
"Aku memang masih punya nenek. Tapi setiap kali libur kuliah, aku tetap merasa sendirian."
Kalimat itu membuat Yuni teringat pada kisah masa kecil ayah dan ibunya di panti asuhan. Ia tahu seperti apa rasanya tumbuh tanpa pelukan orang tua.
Sejak malam itu, persahabatan mereka tumbuh begitu cepat. Rena menjadi orang yang paling sering mengingatkan Yuni.
"Sudah salat belum? Jangan sampai telat makan!"
"Obatmu diminum belum? Jangan begadang lagi."
Kadang Yuni tertawa mendengarnya.
"Kamu cerewet banget."
Rena mengangkat bahu.
"Kalau aku diam, nanti siapa yang ngurus kamu?"
Ucapan itu terdengar sederhana. Namun, diam-diam membuat Yuni merasa tidak pernah benar-benar sendiri.
Memasuki libur semester pertama, Yuni mengajak Rena pulang ke Lamongan. Awalnya Rena menolak.
"Aku nggak enak."
"Kenapa?"
"Aku bukan siapa-siapa."
Yuni tersenyum.
"Kalau menurut keluargaku, sahabat itu bukan orang lain."
Perjalanan menuju Lamongan menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakan Rena. Begitu tiba di rumah, Ningsih langsung memeluknya.
"Selamat datang, Nak."
Yudha membantu membawakan barang-barangnya. Dhani mengajaknya bermain catur. Angel terus mengikuti ke mana pun ia berjalan.
Malam itu mereka makan bersama di meja yang sederhana. Tidak ada makanan mewah. Hanya sayur bening, ikan goreng, sambal, dan tempe. Namun, bagi Rena, makan malam itu terasa jauh lebih hangat daripada pesta mana pun yang pernah ia datangi.
Malam harinya, Yuni mendapati Rena menangis diam-diam.
"Kenapa?"
Rena tersenyum sambil menghapus air matanya.
"Aku baru tahu ternyata makan bersama keluarga bisa sehangat ini."
Yuni menggenggam tangan sahabatnya.
"Mulai sekarang, rumah ini juga rumahmu."
Sejak saat itu, hubungan Rena dengan keluarga Yuni menjadi sangat dekat. Ningsih sering mengirimkan makanan ke Surabaya untuk mereka berdua. Yudha sesekali menghubungi Rena hanya untuk memastikan Yuni tidak lupa makan atau minum obat. Tanpa disadari, Rena perlahan menjadi kakak yang tidak pernah dimiliki Yuni.
Rena tidak pernah tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menjadi orang pertama yang menyadari perubahan pada diri sahabatnya. Perubahan kecil yang awalnya tampak seperti kebahagiaan biasa perlahan menjauhkan Yuni dari kebiasaan yang selama ini selalu dijaganya.
Memasuki semester berikutnya, kehidupan kuliah semakin sibuk. Tugas semakin banyak. Jam belajar semakin panjang.
Suatu sore, setelah keluar dari perpustakaan, tubuh Yuni kembali terasa lemas. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Tangannya dingin. Rena yang melihat kondisi sahabatnya langsung menghampiri.
"Yun, kamu pucat."
"Aku nggak apa-apa."
"Kamu belum makan lagi?"