Tidak ada seorang pun yang berubah dalam satu malam. Perubahan selalu datang perlahan, menyamar sebagai kebiasaan-kebiasaan kecil yang terasa wajar. Hingga suatu hari, ketika seseorang menoleh ke belakang, ia baru menyadari bahwa dirinya telah berjalan terlalu jauh dari tempat ia pernah memulai.
Waktu terus berjalan. Roda kehidupan seakan membawa Yuni semakin jauh dari gadis pendiam yang dahulu selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus.
Awalnya, Ricky hanya mengajak Yuni ke tempat-tempat yang menurutnya biasa saja. Mereka belajar bersama di perpustakaan, makan siang di kantin, atau mendengarkan musik di taman kampus. Yuni merasa nyaman karena Ricky tidak pernah memaksanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Namun, perlahan kebiasaan itu mulai berubah.
Suatu sore setelah kuliah, Ricky tersenyum sambil mengangkat kunci motornya.
"Yun, bosan nggak kalau tiap hari cuma perpustakaan sama asrama?"
Yuni tertawa kecil. "Terus maunya ke mana?"
"Ada kafe baru. Tempatnya enak buat ngerjain tugas."
Awalnya Yuni menolak. "Aku hemat, Kak."
"Gampang. Hari ini aku yang traktir."
Yuni kembali menolak, tetapi Ricky terus membujuk.
"Sesekali aja."
Akhirnya Yuni mengangguk. Baginya itu hanya secangkir kopi dan beberapa jam mengerjakan tugas, tidak lebih. Namun, sejak hari itu mereka mulai lebih sering bertemu di luar kampus.
***
Setelah lulus kuliah, Ricky mulai meniti kariernya sendiri. Meskipun berasal dari keluarga berada, ia tidak ingin hidup bergantung pada orang tuanya. Bersama beberapa sahabatnya, ia membentuk sebuah band dan mulai tampil di berbagai kafe serta tempat hiburan di Surabaya. Karier musiknya berkembang cukup cepat. Namanya mulai dikenal di beberapa kalangan. Penghasilannya pun perlahan meningkat.
Di sisi lain, hubungan Yuni dan Ricky juga semakin dekat. Awalnya Yuni hanya sesekali menemani Ricky tampil. Kemudian menjadi lebih sering. Lama-kelamaan, ia mulai mengenal seluruh anggota band Ricky. Mengenal lingkungan pergaulan yang sebelumnya asing baginya. Mereka ramah, humoris, dan pandai bergaul. Berbeda dengan teman-teman Yuni yang lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan.
Awalnya Yuni hanya menjadi pendengar. Kemudian mulai ikut tertawa. Lalu sesekali ikut berkumpul setelah kuliah. Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan kecil mulai berubah. Ia yang biasanya langsung kembali ke asrama seusai kuliah kini sering pulang menjelang malam. Ia yang selalu menelepon ibunya hampir setiap hari mulai lupa memberi kabar. Bahkan beberapa kali Rena harus mengingatkannya.
"Yun, Ibumu telepon."
"Biarin. Nanti aja."
"Nggak biasanya kamu begitu."
Yuni hanya tersenyum. "Lagi capek aja."
Padahal, ia sedang menikmati dunia baru yang belum pernah dikenalnya.
***
Suatu sore, Ricky mengajak Yuni menghadiri acara musik kampus.
"Banyak teman-temanku datang. Kamu ikut ya."
Yuni ragu. "Pulangnya malam?"
"Mungkin."
"Aku nggak biasa."
Ricky tersenyum.
"Kamu juga harus sesekali menikmati hidup."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, tanpa disadari, malam itulah menjadi pertama kalinya Yuni melangkah ke dunia yang selama ini selalu dihindarinya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Rena begitu gelisah menunggu Yuni di kamar asrama. Tak lama kemudian, Yuni baru pulang.
"Kamu dari mana aja, Yun?"
"Tadi sama Ricky."
"Lama banget sih."
"Cuma ikut acara musik kampus aja kok."
Rena menatap sahabatnya beberapa saat. "Yun..."
"Hmm?"
"Aku cuma takut kamu terlalu percaya sama orang."
Yuni tertawa kecil. "Ricky orang baik kok."
Rena tidak membantah. Namun, entah mengapa hatinya justru semakin gelisah.
Suatu malam, sehabis mengikuti Ricky mengisi acara di kafe, Yuni memandangi jalanan yang belum pernah ia lewati sebelumnya. Lampu-lampu kota Surabaya memantul di kaca mobil.
"Ini bukan jalan ke asrama."
Ricky tetap tersenyum sambil memegang kemudi.
"Tenang. Cuma sebentar."