Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #20

Konsekuensi Sebuah Kepercayaan

Ada keputusan yang tidak terasa salah ketika pertama kali dibuat. Seseorang hanya ingin mempertahankan cinta, menemani orang yang disayangi, dan percaya bahwa semua pengorbanan pada akhirnya akan menemukan balasannya.

Namun, tidak semua pengorbanan membawa seseorang menuju kebahagiaan. Kadang-kadang, seseorang baru menyadari harga dari pilihannya ketika semuanya sudah terlambat untuk dikembalikan. Yuni belum tahu bahwa hidupnya sedang menuju sebuah titik yang akan mengubah segalanya. Ia hanya merasa sedang memperjuangkan cinta. Tanpa sadar, ia mulai kehilangan dirinya sendiri.

Waktu berlalu. Setelah lulus kuliah, Yuni tidak langsung mengejar cita-citanya menjadi guru. Ia masih ingin mengajar suatu hari nanti, tetapi untuk sementara, ia memilih membantu Ricky mengembangkan karier musiknya.

Awalnya hanya hal-hal sederhana. Mengatur jadwal pertunjukan. Membalas pesan dari penyelenggara. Mencatat tawaran manggung. Membantu menyiapkan dokumen. Namun, pekerjaan itu semakin lama semakin banyak.

Karier Ricky berkembang cukup cepat. Band mereka mulai dikenal di beberapa kafe dan acara musik di Surabaya. Tawaran tampil berdatangan. Penghasilan Ricky meningkat. Dan Yuni merasa bangga. Setiap kali melihat Ricky berdiri di atas panggung, ia merasa ikut menjadi bagian dari keberhasilan lelaki itu.

"Kamu tahu nggak?"

Ricky pernah berkata setelah sebuah pertunjukan.

"Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah menyerah."

Yuni hanya tersenyum.

"Aku kan cuma membantu."

"Bukan cuma membantu."

Ricky menggenggam tangannya.

"Kamu bagian dari semua ini, sayang."

Kalimat itu membuat Yuni semakin yakin bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Ia percaya mereka sedang membangun masa depan bersama. Namun, tanpa disadari, kehidupan Yuni perlahan berubah. Buku-buku yang dahulu selalu menemaninya mulai berdebu. Tulisan-tulisan yang dulu sering ia buat semakin jarang tersentuh. Rencana untuk menjadi guru mulai tertunda.

Hubungan dengan keluarganya pun semakin renggang. Dulu ia hampir setiap hari menelepon rumah. Kini bisa berminggu-minggu hanya dengan mengirim pesan singkat. Kadang Ningsih menelepon, tetapi Yuni sedang bersama Ricky. Kadang Yudha menghubungi, tetapi Yuni sedang mengurus jadwal pertunjukan. Lama-kelamaan, panggilan dari rumah mulai jarang dijawab. Bukan karena Yuni tidak mencintai keluarganya. Ia hanya selalu merasa masih punya waktu untuk mereka. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar menunggu. Orang pertama yang menyadari perubahan itu adalah Rena.

Suatu sore, Rena duduk sendirian di kamar kos sambil menatap ranjang Yuni yang kembali kosong. Sudah beberapa hari sahabatnya tidak pulang. Ponselnya berdering. Ningsih. Rena menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Halo, Bu."

"Rena, Yuni ada?"

Rena terdiam.

"Yuni lagi kerja, Bu."

"Belakangan ini dia jarang telepon."

"Iya, Bu. Mungkin sedang sibuk."

"Dia sehat?"

"Alhamdulillah, sehat, Bu."

Rena memejamkan mata. Kebohongan itu terasa semakin berat.

"Kalau ketemu Yuni, bilang Ibu kangen."

"Iya, Bu."

Setelah sambungan berakhir, Rena meletakkan ponsel di atas meja. Ia menatap kosong ke arah ranjang Yuni. Dulu mereka sering berbicara sampai tengah malam tentang kuliah, buku, dan cita-cita. Sekarang, hampir semua pembicaraan Yuni hanya tentang Ricky. Rena takut. Bukan karena ia membenci Ricky. Namun, ia mulai melihat sesuatu yang tidak dilihat Yuni. Yuni tidak lagi sekadar mencintai Ricky. Ia mulai menggantungkan seluruh hidupnya pada lelaki itu.

Suatu malam, Ricky mengajak Yuni menghadiri pesta kecil bersama anggota band setelah mereka mendapatkan kontrak pertunjukan besar.

"Ayo, cuma sebentar," bujuk Ricky.

Yuni sempat ragu.

"Aku nggak terbiasa di tempat seperti itu."

"Nggak apa-apa. Ada aku."

Akhirnya Yuni mengangguk. Bar itu ramai. Musik terdengar keras. Lampu berwarna-warni memenuhi ruangan. Teman-teman Ricky menyambut mereka dengan riuh. Karena mengetahui Yuni tidak pernah minum minuman beralkohol, Ricky memesan segelas jus.

"Ini jus buat kamu."

Yuni tersenyum.

"Terima kasih."

Beberapa saat kemudian, Ricky dipanggil oleh salah seorang penyelenggara untuk membicarakan pertunjukan berikutnya. Saat itulah salah seorang teman band yang sudah mabuk mulai bercanda.

"Eh, gelasnya kita tukar sedikit."

"Jangan, nanti Ricky marah lho!"

Ia tertawa.

"Udah lah, jangan serius-serius amat."

Tanpa memikirkan akibatnya, gelas jus Yuni ditukar dengan gelas lain yang bentuknya hampir sama. Yuni yang tidak mengetahui apa pun mengambil gelas tersebut. Ia meneguknya. Beberapa menit kemudian kepalanya mulai terasa ringan. Pandangan di sekelilingnya berputar.

"Ricky..."

Ricky segera menghampiri.

"Kenapa?"

Yuni memegang dahinya.

"Kepalaku pusing."

Salah seorang teman tiba-tiba melihat gelas di tangan Yuni. Wajahnya berubah.

"Astaga..."

"Apa?"

"Itu bukan jus."

Ricky langsung menatap gelas tersebut. Ekspresinya berubah keras.

"Siapa yang menukar?"

Tidak ada yang menjawab.

"Aku cuma bercanda," ujar salah seorang dengan suara kecil.

Ricky mengepalkan tangan.

"Kalian tahu dia nggak pernah minum!"

Ia segera membantu Yuni berdiri.

"Ayo, kita pulang."

Untungnya, apartemen Ricky tidak jauh dari bar. Yuni hampir tidak mampu berjalan sendiri. Ricky dengan sabar membantunya.

Sesampainya di apartemen, Ricky memberinya air putih dan memastikan ia beristirahat. Namun, Ricky sendiri malam itu telah terlalu banyak minum. Kesadarannya mulai terganggu. Malam yang seharusnya berakhir dengan penyesalan atas sebuah lelucon justru membawa mereka melewati batas yang selama ini mereka jaga. Tidak ada yang pernah membayangkan malam itu akan menjadi titik balik kehidupan keduanya.

Sementara itu, malam hari di Lamongan terasa lebih sunyi dari biasanya. Ningsih sebenarnya ingin menghubungi putrinya, tetapi ia mengurungkan niat. Ia takut mengganggu kesibukan Yuni.

Di ruang depan, Ningsih duduk di bawah cahaya lampu sambil menjahit ujung kain yang mulai terlepas. Sesekali matanya melirik ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ia menarik napas panjang.

"Yuni... kamu baik-baik saja, Nak?"

Jarum kembali bergerak di antara jemarinya. Namun, entah mengapa, malam itu pikirannya terus tertuju kepada putrinya. Namun, seorang ibu terkadang tidak membutuhkan penjelasan untuk merasa khawatir.

Ningsih kembali mencoba memasukkan benang ke lubang jarum. Tangannya sedikit gemetar.

"Kenapa perasaanku nggak enak sekali."

Lihat selengkapnya