Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #22

Pengasingan di Rumah Nenek

Malam itu, Rena menemukan Yuni menangis di kamar kos.

Bukan tangisan biasa. Bahu Yuni bergetar, sementara hasil pemeriksaan kehamilan masih tergenggam di tangannya.

"Aku takut, Ren..."

Rena langsung duduk di sampingnya.

"Aku malu sama Ayah dan Ibu."

Kalimat itu membuat dada Rena sesak. Ia tahu betapa Yuni mencintai kedua orang tuanya. Selama ini, Yuni selalu berusaha menjadi anak yang bisa dibanggakan. Namun, sekarang sebuah rahasia besar tumbuh di dalam tubuhnya. Ia sedang mengandung anak Ricky. Yang lebih menyakitkan, Ricky sudah tiga hari tidak bisa dihubungi. Teleponnya tidak tersambung. Pesan-pesan Yuni tidak pernah dibaca.

Kak, kamu di mana?

Tidak ada jawaban.

Aku cuma ingin bicara.

Tetap sunyi.

Yuni tidak tahu bahwa pada malam yang sama ketika ia berkali-kali menelepon Ricky, sebuah nomor lama di ponsel lelaki itu sudah tidak lagi aktif. Kontaknya telah dihapus. Nomornya diblokir. Bahkan kartu SIM yang selama ini digunakan Ricky sudah tidak ada di tangannya. Seseorang telah memastikan bahwa Ricky tidak bisa lagi menghubunginya.

Karena semakin cemas, Yuni akhirnya menghubungi manajer Ricky. Setelah beberapa kali mengirim pesan dan menelepon, pria itu akhirnya mengangkat.

"Halo?"

"Pak, saya Yuni. Saya mau tanya tentang Ricky."

Terdengar keheningan cukup lama.

"Ricky ada di mana, Pak?"

Manajer itu menarik napas.

"Kamu belum tahu?"

"Tahu apa?"

"Ricky sudah bertunangan. Dia akan menikah di Semarang."

Yuni membeku.

"Maaf, Pak... apa?"

"Ricky akan menikah dengan perempuan pilihan keluarganya."

Ponsel di tangan Yuni hampir terlepas.

"Sejak kapan?"

"Beberapa waktu lalu. Saya juga baru tahu setelah semuanya diputuskan."

Panggilan berakhir. Kemudian, pesan singkat muncul.

"Lupakan saja Ricky. Dia sudah dipaksa keluarganya untuk pergi dan menikah dengan wanita pilihan keluarganya."

Yuni masih duduk tanpa bergerak. Tangannya perlahan menyentuh perutnya.

"Kalau begitu…" suaranya pecah, "bagaimana dengan kita?"

Tidak ada jawaban. Hanya tangis yang memenuhi kamar. Rena menemukan Yuni duduk di lantai.

"Yun?"

Yuni menyerahkan ponselnya. Setelah membaca pesan dari manajer Ricky, wajah Rena berubah.

"Ricky akan menikah?"

Yuni mengangguk.

"Dia nggak bilang apa-apa."

Rena langsung memeluknya.

"Aku bahkan nggak tahu kenapa dia pergi," bisik Yuni.

"Jangan pikirkan Ricky dulu."

"Lalu aku harus bagaimana?"

Rena menatap perut Yuni yang mulai terlihat.

"Kamu harus memikirkan dirimu sendiri."

Yuni menggeleng.

"Aku masih bisa mengurus semuanya."

"Enggak, Yun. Kamu sudah terlalu lama memaksakan diri."

Rena kemudian mengutarakan kekhawatirannya. Jika Yuni terus tinggal di kos, cepat atau lambat orang-orang akan mengetahui kehamilannya.

"Aku punya tempat," katanya.

"Di mana?"

"Rumah nenekku di Sidoarjo."

Yuni ragu.

"Aku nggak enak."

"Nenek pasti menerima kamu."

Rena menggenggam tangannya.

"Kamu sekarang bukan cuma memikirkan dirimu sendiri."

Yuni terdiam. Tangannya kembali menyentuh perut.

"Ada anakmu."

Akhirnya Yuni mengangguk.

"Baiklah."

Beberapa hari kemudian, Yuni memutuskan untuk meninggalkan kos. Saat memasukkan pakaian ke dalam tas, Yuni sempat berdiri di depan cermin. Perutnya belum terlalu terlihat. Namun, ia tahu tidak lama lagi semuanya akan berubah. Ia tidak hanya harus menyembunyikan kehamilan itu dari orang tuanya. Ia juga harus menghadapi pertanyaan dari orang-orang yang tidak akan pernah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Yuni belum tahu bahwa kelak, pertanyaan-pertanyaan itu akan memaksanya meninggalkan rumah yang telah menyelamatkan hidupnya.

Tidak banyak barang yang dibawa. Hanya beberapa pakaian, buku-buku, dokumen penting, dan sebuah foto keluarganya. Yuni menggenggam foto keluarganya erat-erat. Ada Yudha, Ningsih, Dhani dan Angel. Entah mengapa, malam itu wajah ibunya terasa begitu dekat di ingatannya. Yuni tidak tahu bahwa kisah cinta yang sedang menghancurkan hidupnya ternyata terhubung dengan masa lalu ibunya. Sebuah rahasia lama sedang bergerak kembali menuju keluarga mereka.

Ketika mobil yang mereka tumpangi meninggalkan Surabaya, Yuni menatap kota itu melalui kaca jendela. Di kota inilah ia pernah bermimpi dan jatuh cinta.

Rena menggenggam tangannya.

"Mulai sekarang, jangan pikirkan apa kata orang."

Yuni tersenyum tipis.

"Aku cuma ingin anakku lahir dengan selamat."

"Benar, itu saja yang harus kamu pikirkan."

Tiga jam kemudian, mereka sampai di rumah sederhana nenek Rena. Di depannya terdapat toko kecil peninggalan almarhum suaminya. Nenek Rena menerima Yuni tanpa banyak bertanya. Ketika melihat wajah gadis itu yang penuh kesedihan, beliau hanya berkata,

"Kalau mau tinggal di sini, anggap saja rumah sendiri."

Kalimat sederhana itu membuat Yuni menangis. Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang menerimanya tanpa menuntut penjelasan. Setelah semua yang terjadi, ia kembali merasakan kehangatan sebuah rumah.

Lihat selengkapnya