Hari kelulusan seharusnya menjadi hari ketika Dhani melihat seluruh keluarganya tersenyum. Namun, di antara ratusan orang yang memenuhi aula, ada satu sosok yang terus ia cari dan tidak pernah datang.
Hari itu seharusnya menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup Dhani. Aula sekolah dipenuhi suara tepuk tangan. Para siswa mengenakan pakaian terbaik mereka. Orang tua berdiri dengan wajah bangga, sibuk mengambil foto ketika nama anak mereka dipanggil ke atas panggung.
Dhani berdiri di antara teman-temannya sambil mengenakan pakaian kelulusan. Namun, matanya terus mencari dua sosok di antara kerumunan. Ayah, Ibu, Angel, dan satu orang lagi yang sejak tadi paling ia tunggu, Yuni.
Dhani berkali-kali melihat ke arah pintu aula, tetapi Yuni tidak terlihat. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka percakapan dengan kakaknya. Pesan teraIbukhir yang ia kirim pagi tadi masih belum dibaca.
Kak, nanti datang, kan?
Tidak ada balasan.
Dhani mencoba menelepon. Nada sambung terdengar, lalu terputus. Ia mencoba lagi, tetap tidak ada jawaban. Dadanya mulai terasa berat.
"Kenapa kamu, Dhani?" tanya salah seorang temannya.
Dhani segera memasukkan ponsel ke saku.
"Nggak apa-apa kok."
Padahal jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Ketika namanya akhirnya dipanggil ke atas panggung, Dhani berusaha tersenyum. Ia menerima sertifikat kelulusan dengan tangan yang sedikit gemetar. Dari bawah panggung, Yudha dan Ningsih bertepuk tangan paling keras.
"Selamat, Nak!"
Dhani tersenyum. Namun, setelah turun dari panggung, pandangannya kembali mencari seseorang. Yuni tetap tidak ada. Bahkan Rena yang biasanya selalu bersama kakaknya juga tidak datang. Hal itu membuat kecurigaan Dhani semakin besar.
Sepulang dari acara, ia duduk di belakang mobil Pak RT. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Ningsih beberapa kali menoleh.
"Kenapa diam saja, Nak?"
Dhani menggeleng. "Capek, Bu."
Yudha yang ada di kursi depan hanya tersenyum.
"Mulai besok sudah masuk dunia baru."
Dhani tidak menjawab. Di dalam hati, satu pertanyaan terus berputar.
Sebenarnya Kak Yuni ada di mana?
Malam harinya, rumah terasa lebih sepi. Setelah makan malam, Dhani masuk ke kamarnya. Ia membuka ponsel dan mencoba menghubungi Yuni lagi, tetapi tidak tersambung. Kemudian ia mencoba nomor Rena. Namun, tidak ada jawaban. Dhani meletakkan ponsel di atas meja. Ia menatap foto lama mereka. Dalam foto itu, Yuni sedang memeluk bahunya ketika mereka masih kecil.
"Kak..."
Dhani mengusap layar ponselnya.
"Kenapa sih kamu nggak pernah pulang?"
Selama ini semua orang mengatakan Yuni mungkin sedang sibuk kuliah, lalu kerja, dan membangun kehidupannya sendiri di Surabaya. Namun, bagi Dhani, alasan itu semakin lama semakin sulit dipercaya. Terlebih sekarang Rena juga sulit dihubungi. Ada sesuatu yang tidak beres.
Dhani bangkit dari kursinya. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah tas ransel. Kemudian memasukkan beberapa pakaian satu per satu. Ia berhenti ketika menyadari apa yang sedang dilakukannya. Ia benar-benar ingin pergi ke Surabaya untuk mencari kakaknya. Namun, bagaimana caranya?
Ia tidak mungkin mengatakan kepada ayah dan ibunya bahwa ia akan pergi karena curiga terhadap keberadaan Yuni. Mereka pasti akan ikut khawatir. Dhani akhirnya menemukan alasan yang menurutnya cukup masuk akal.
Bekerja sambil mencari pengalaman.
Ia pernah mendengar bahwa beberapa teman sekolahnya mendapatkan pekerjaan sementara setelah lulus. Mungkin itu bisa menjadi jalan. Namun, tujuan sebenarnya hanya satu, menemukan Yuni.
Keesokan paginya, Dhani menunggu sampai sarapan selesai. Yudha sedang minum kopi. Sedangkan Ningsih sibuk menyiapkan dagangan.
Dhani menarik napas panjang.
"Ayah... Ibu... Aku mau ngomong sesuatu."
Ningsih menoleh.
"Ngomong apa, Nak?"
Yudha meletakkan cangkirnya.
"Iya nih, kedengerannya serius sekali."
Dhani menunduk sebentar.
"Setelah ini, aku ingin pergi ke Surabaya."
Ningsih langsung berhenti bekerja.
"Surabaya, mau ngapain, Nak?"
"Temanku bilang ada pekerjaan sementara di sana. Aku ingin cari pengalaman kerja."
Yudha mengernyit.
"Kamu baru lulus."
"Justru itu, Yah."
Dhani mencoba untuk terdengar tenang.
"Aku nggak mau cuma diam di rumah. Aku ingin belajar mandiri. Sekalian cari pengalaman sebelum menentukan mau lanjut kuliah atau kerja."
Ningsih menatap anaknya cukup lama.
"Kamu yakin?"
"Iya, Bu."
Dhani menggenggam kedua tangannya di bawah meja. Ia merasa bersalah karena tidak mengatakan tujuan sebenarnya. Namun, ia tahu, jika mengatakan bahwa dirinya ingin mencari Yuni, ibunya pasti akan ikut. Ia hanya tidak ingin membuat orang tuanya semakin khawatir.
Yudha bersandar di kursi.