Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #24

Pencarian Panjang Dhani

Di Lamongan, Yudha dan Ningsih mulai gelisah. Putri sulung mereka semakin jarang memberi kabar. Kini Dhani pun tidak bisa dihubungi. Mereka belum mengetahui bahwa kedua anak mereka sebenarnya tidak terlalu jauh satu sama lain. Bahkan sama-sama sedang berjuang menghadapi masalah hidup yang berat.

Sementara itu, di halte takdir mempertemukan mereka kembali. Rena ternyata mendapatkan info dari pemilik kos lama bahwa ada seorang adik laki-laki yang mencari keberadaan Yuni. Ia teringat akan sosok Dhani. Untungnya, pencarian itu berakhir. Mereka tak sengaja bertemu di sebuah Halte. Awalnya keduanya sama-sama terkejut.

"Dhani?"

"Mbak Rena?"

Setelah bertahun-tahun hanya mendengar cerita tentang Rena dari Yuni, akhirnya mereka bertemu kembali. Malam itu mereka berbincang panjang. Rena menceritakan banyak hal yang selama ini tidak diketahui keluarga di Lamongan tentang kehidupan Yuni, perjuangan, dan kesalahan yang pernah dibuatnya. Namun, Rena juga menceritakan bagaimana Yuni berusaha bangkit dan bekerja keras. Meskipun begitu, ia masih merahasiakan soal Niky.

Mendengar semuanya, hati Dhani terasa campur aduk. Sedih, marah, kasihan, dan rindu. Namun, ia juga memahami satu hal. Yuni tidak sedang hidup bahagia seperti yang dibayangkan orang tua mereka.

Giliran Dhani menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Rena langsung khawatir. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Dhani pergi ke rumah neneknya di Sidoarjo.

"Untuk sementara tinggal saja di sana dulu. Kamu bisa bantu Nenek."

"Tapi aku nggak mau merepotkan."

"Tidak, Nenek pasti senang."

Namun, kesialan ternyata belum selesai. Dalam perjalanan menuju Sidoarjo, Dhani sempat menghubungi orang tuanya agar tidak mencemaskannya. Namun, karena mengantuk, ponsel miliknya dicopet di dalam bus. Saat menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Seluruh nomor penting hilang. Kontak orang tuanya hilang. Data-data pribadinya juga ikut lenyap. Dhani hanya bisa pasrah.

Sementara itu, Rena juga menghadapi dilema lain. Ia tidak memiliki nomor terbaru Yuni, karena Yuni memang sengaja menjauh dari keluarganya. Ia belum siap menghadapi kenyataan hidupnya. Akibatnya, baik Yuni maupun Dhani kini sama-sama terputus hubungan dengan Yudha dan Ningsih.

Ternyata benar, Nenek menyambut Dhani dengan sangat hangat. Rumah yang dulu pernah menjadi tempat berlindung bagi Yuni kini kembali membuka pintunya bagi anggota keluarga yang lain. Meski hati Dhani masih dipenuhi kekhawatiran terhadap Yuni, setidaknya untuk sementara ia menemukan tempat yang aman untuk bernaung.

Setiap pagi sebelum matahari terbit, Dhani sudah bangun. Ia membantu Nenek membuka toko, mengangkat galon, menyapu halaman, dan menata barang dagangan. Semua pekerjaan itu terasa akrab baginya. Karena sejak kecil ia memang terbiasa membantu Yudha dan Ningsih berdagang. Kini di rumah sederhana milik nenek di Sidoarjo, Dhani mulai menjalani kehidupan baru.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia masih memiliki satu tujuan, menemukan kakaknya. Karena ia merasa bahwa apa pun yang sedang terjadi, keluarga mereka tidak boleh terus terpisah seperti ini. Tanpa disadarinya, takdir sebenarnya sedang perlahan mempertemukan kembali seluruh kepingan keluarga Yudha dan Ningsih yang selama ini tercerai-berai.

Kali ini warga sekitar juga tidak menunjukkan sikap buruk. Mereka justru senang karena nenek tidak lagi hidup sendirian. Dhani yang masih muda dan sehat menjadi bantuan besar.

Untung mendapatkan uang, Dhani mulai mencari pekerjaan di pasar. Berkat pengalaman SMK Perhotelan dan masa magangnya dulu, ia akhirnya diterima di sebuah rumah makan. Awalnya ia hanya bertugas membersihkan meja, mengantar pesanan, mencuci piring, dan membantu di dapur. Gajinya memang tidak besar, tetapi Dhani tidak pernah mengeluh. Saat ini, ia memiliki tujuan, yaitu membeli telepon genggam baru. Tanpa ponsel, ia merasa pencarian Yuni akan semakin sulit.

Selama hampir satu tahun penuh, Dhani hidup sangat hemat. Ia jarang membeli pakaian baru ataupun jajan. Bahkan beberapa kali memilih berjalan kaki pulang demi menghemat ongkos. Jika karyawan lain membeli kopi atau makanan ringan saat istirahat, Dhani lebih memilih minum air putih. Setiap rupiah yang tersisa selalu ia simpan sedikit demi sedikit.

Kadang ketika malam tiba dan tubuhnya sangat lelah, ia membuka dompetnya lalu menghitung tabungan yang berhasil dikumpulkan. Tidak banyak, tetapi terus bertambah. Setiap kali melihat angka itu, semangatnya kembali tumbuh.

Bos rumah makan tempatnya bekerja mulai memperhatikan kerja kerasnya.

"Dhani."

"Iya Pak?"

"Kamu jarang sekali minta libur."

Dhani hanya tersenyum.

"Masih banyak yang harus saya kejar, Pak."

Bosnya tidak pernah tahu bahwa pemuda itu sedang berusaha mengumpulkan kembali harapan yang sempat hilang. Akhirnya setelah hampir satu tahun bekerja. Dhani berhasil membeli ponsel baru. Bukan ponsel mahal, hanya ponsel sederhana. Namun, saat kotaknya dibuka, air matanya hampir jatuh. Karena benda kecil itu bukan sekadar alat komunikasi. Melainkan kunci untuk melanjutkan pencariannya. Sayangnya, ia tetap tidak bisa menghubungi rumah karena semua nomor penting ada di hp lamanya dan ia tidak menghafal nomor telepon ayah dan ibunya.

Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Tidak lama kemudian, nenek Rena meninggal dunia dalam tidurnya.

Pagi itu Dhani seperti biasa hendak membuka toko. Namun, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Nenek belum keluar kamar. Padahal biasanya beliau sudah bangun lebih dulu. Saat Dhani masuk ke kamar, nenek terlihat tertidur dengan wajah yang sangat damai. Senyum tipis masih terlihat di wajahnya. Seolah beliau sedang bermimpi indah.

Namun, ketika Dhani mencoba membangunkannya, tidak ada jawaban. Nenek telah pergi dengan tenang tanpa rasa sakit dan tanpa menyusahkan siapa pun.

Dhani seketika menangis seperti kehilangan nenek kandungnya sendiri. Selama setahun terakhir, wanita tua itu telah menjadi keluarga baginya. Setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai. Setelah tahlilan dan doa tujuh hari dilaksanakan. Dhani kembali mengingat janjinya untuk mencari Yuni. Kali ini ia tidak bisa menunda lagi. Berbekal sedikit tabungan, ponsel baru, dan sebuah foto lama yang dikirim Rena. Foto itu menunjukkan Yuni sedang tersenyum bersama Rena saat masih kuliah.

Dhani kembali ke Surabaya. Hanya foto itulah yang menjadi petunjuknya. Tidak ada alamat ataupun nomor telepon. Tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa ditanya.

Pencarian itu berlangsung berbulan-bulan. Dhani memulai dari Surabaya Selatan. Setiap hari setelah bekerja serabutan atau membantu masjid setempat, ia berkeliling. Ia menunjukkan foto Yuni kepada penjaga warung, pedagang kaki lima, satpam perumahan. dan penjaga kos.

"Maaf Pak, pernah lihat orang ini?"

Sebagian besar menggeleng. Sebagian lain bahkan tidak sempat melihat fotonya. Namun, Dhani tidak menyerah. Ketika uangnya menipis, ia tidur di masjid. Kadang di serambi atau di ruang musafir. Ia membantu membersihkan masjid sebagai balas budi.

Setelah Subuh, pencarian dimulai lagi hingga menjelang malam. Hal itu berulang terus seperti itu.

Musim hujan datang. Beberapa kali Dhani kehujanan. Ia sempat jatuh sakit. Namun, setiap kali ingin menyerah, ia teringat wajah Yudha dan Ningsih. Ia teringat bagaimana ibunya selalu menunggu telepon dari Yuni. Ia teringat bagaimana ayahnya pura-pura kuat meski sebenarnya sangat merindukan putri sulungnya. Itu membuatnya terus berjalan.

Pencarian berpindah dari Surabaya Selatan ke Surabaya Pusat, lalu ke Surabaya Timur. Namun, tetap tidak ada hasil atau petunjuk. Kadang ia mulai berpikir bahwa usahanya sia-sia. Mungkin Yuni sudah pergi jauh dari Surabaya. Namun, sesuatu dalam dirinya menolak menyerah.

Akhirnya, ia tiba di Surabaya Barat. Daerah terakhir yang belum benar-benar ia telusuri. Daerah dekat kampus Yuni yang dulu. Kawasan ini berkembang pesat dan dipenuhi perumahan baru.

Lihat selengkapnya