Pertemuan antara Dhani dan Yuni yang telah lama dinantikan ternyata tidak berakhir seperti yang dibayangkannya. Selama ini, Dhani membayangkan bahwa setelah menemukan kakaknya, ia akan mengajaknya pulang. Membawa Yuni kembali ke Lamongan dan mempertemukannya dengan Ayah dan Ibu yang selama ini selalu menunggu. Namun, kenyataan jauh lebih rumit daripada harapannya.
Malam itu, setelah Niky tertidur, Dhani kembali mencoba membujuk kakaknya.
"Mbak, pulanglah."
Yuni yang sedang melipat pakaian Niki terdiam.
"Ayah dan Ibu pasti memaafkan Mbak."
"Aku tahu."
"Terus kenapa?"
Yuni menunduk. Karena sebenarnya bukan itu yang ia takutkan. Ia tidak takut dimarahi atau dihukum. Ia takut melihat air mata kedua orang tuanya. Takut melihat wajah Ningsih yang kecewa dan Yudha yang selama ini begitu bangga padanya harus mengetahui semua kenyataan hidupnya.
"Aku belum siap, Dhan."
Suara Yuni terdengar sangat pelan.
Dhani menggenggam tangan kakaknya.
"Kapan Mbak siap?"
Yuni tidak bisa menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu. Ia menatap Niky yang sedang tertidur. Anak itu kini menjadi alasan utama dirinya bertahan. Pekerjaan yang dimilikinya sekarang memberikan tempat tinggal dan penghasilan. Bahkan, kesempatan bagi Niky untuk tumbuh dengan layak. Jika ia pergi begitu saja, semuanya akan hilang.
"Aku punya tanggung jawab sekarang."
Dhani terdiam.
"Aku harus bekerja dan membesarkan Niky."
Air mata mulai menggenang di mata Yuni.
"Kalau aku pulang sekarang, aku belum punya apa-apa untuk anakku."
Dhani akhirnya memahami. Kakaknya tidak menolak untuk pulang karena tidak mencintai keluarga. Justru karena terlalu mencintai mereka. Ia ingin pulang saat dirinya sudah cukup kuat. Saat ia sudah mampu berdiri sendiri dan tidak lagi menjadi beban.
Malam semakin larut, Yuni mengambil sejumlah uang dari tabungannya, lalu menyelipkannya ke tangan Dhani.
"Kak..."
"Pakai untuk pulang."
"Aku masih punya uang."
"Terima saja."
Dhani menunduk. Ia tahu uang itu diperoleh dari kerja keras kakaknya. Dari perjuangan yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun.
"Ayah dan Ibu pasti mencemaskanmu juga."
Yuni tersenyum tipis.
"Sudah terlalu lama kita berdua menghilang dari rumah."
Kalimat itu membuat hati Dhani terasa sesak.
Sebelum berpisah, Yuni memegang kedua tangan adiknya erat.
"Kumohon satu hal."
"Apa?"
"Jangan ceritakan semuanya kepada Ayah dan Ibu."
Dhani langsung terdiam.
"Kak..."
"Belum sekarang. Jika kamu memaksa, kakak akan pergi menghilang."
Air mata Yuni kembali jatuh.
"Biarkan aku yang nanti mengatakannya."
"Terus kapan?"
"Kalau waktunya sudah tepat."
Dhani tahu permintaan itu tidak mudah. Namun, melihat kondisi kakaknya, ia akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah."
Mereka berpelukan cukup lama. Pelukan kakak dan adik yang dipisahkan oleh waktu, kesalahan, dan takdir. Niky yang masih kecil bahkan ikut memeluk kaki Dhani. Membuat pemuda itu tersenyum haru.