Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #26

Reuni yang Tak Terduga

Sejak kepulangan Dhani, kehidupan keluarga kecil itu perlahan kembali bergerak. Meski Yudha masih berada di Surabaya mencari Yuni, setidaknya kini Ningsih tidak lagi sendirian mengurus toko.

Tugas yang selama bertahun-tahun dilakukan Yudha kini diambil alih oleh Dhani. Setiap pukul tiga dini hari, ia sudah bangun untuk salat tahajud dan subuh bersama ibunya.

Setelah itu, dengan motor pinjaman milik Pak RT, ia berangkat menuju pasar induk. Kebiasaan yang dulu sering dilakukan ayahnya kini ia jalani sendiri. Ia belajar memilih beras yang bagus, menawar harga minyak goreng, dan menghitung keuntungan dan kerugian. Ia juga belajar mengenali para pemasok yang dulu menjadi langganan Yudha. Sering kali para pedagang pasar tersenyum melihatnya.

"Kamu anak Pak Yudha ya?"

"Iya Pak."

"Wajahmu mirip sekali dengannya."

Mendengar itu, Dhani hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia merasa bangga bisa menggantikan peran ayahnya sementara waktu. Namun, di balik aktivitasnya membantu toko, pikirannya tetap tertuju pada Yuni. Setiap malam ia memikirkan kakaknya dan membayangkan ayahnya yang masih berkeliling Surabaya tanpa arah yang jelas. Ia pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya mencari seseorang tanpa petunjuk. Tidur di masjid, berjalan kaki berjam-jam. Bertanya kepada orang asing. Ia tidak ingin Yudha mengalami hal yang sama.

Suatu malam, ia menghubungi Rena.

"Kak Rena."

"Iya, Dhan."

"Kita harus bantu Ayah."

Rena terdiam. Ia sudah memahami maksud pembicaraan itu.

"Tapi aku udah janji sama Mbakmu Dhan."

"Aku tahu."

Dhani menarik napas panjang.

"Kita tidak perlu menceritakan semuanya."

Rena masih diam.

"Biarkan Ayah menemukan Kakak sendiri. Tapi setidaknya jangan biarkan beliau tersesat mencarinya."

Kalimat itu membuat hati Rena bergetar. Karena jauh di dalam hatinya, ia juga sudah lama merasa bersalah. Bertahun-tahun ia membantu menyembunyikan keberadaan Yuni. Ia harus berbohong kepada Ningsih. Padahal wanita itu selalu memperlakukannya seperti anak sendiri.

Akhirnya Rena menunduk.

"Baik."

Malam itu juga Rena memberanikan diri menelepon Yudha. Awalnya Yudha terkejut melihat nama Rena muncul di layar ponselnya.

"Halo, Nak?"

"Pak..."

Suara Rena terdengar gugup.

"Saya tidak bisa menceritakan semuanya."

Jantung Yudha langsung berdebar.

"Tapi saya tahu tempat yang mungkin bisa Bapak datangi."

Mata Yudha membesar.

Lihat selengkapnya