Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #27

Pengakuan yang Menyayat Hati

"Tunggu."

Ia menoleh ke arah Roni.

"Tadi, kamu bilang apa tadi?"

Roni mengernyit. "Apa?"

"Yuni memanggilmu Tuan."

Yudha menunjuk Yuni.

"Kenapa kamu memanggilnya Tuan?"

Ruangan kembali hening. Yuni menunduk. Roni tampak tidak nyaman.

Yudha menarik napas panjang.

"Jangan panggil dia Tuan."

Suara Yudha mulai meninggi.

"Dia itu ommu."

Yuni perlahan mengangkat wajahnya. Matanya membesar.

"Om?"

Yudha mengangguk.

"Dia itu sepupuku."

Yuni terkejut. "Berarti dia masih keluarga kita."

Selama ini ia tidak pernah mengetahui hal itu.

Wajah Yudha mulai berubah. Kekecewaan perlahan muncul di matanya.

"Kalau kau tahu dia anakku..."

Suara Yudha terdengar berat.

"Kenapa kau tidak memberitahunya sejak awal?"

Roni terdiam.

"Kenapa kau tidak memberitahuku. Jawab Ron?"

Tidak ada jawaban.

"Kenapa kau biarkan anakku hidup bertahun-tahun tanpa tahu bahwa dia berada di rumah keluarganya sendiri?"

Yuni perlahan menoleh ke arah Roni. Pertanyaan itu ternyata juga muncul dalam pikirannya. Selama ini ia mengira dirinya hanya seorang pekerja yang beruntung diterima di rumah tersebut. Padahal ternyata, rumah itu memiliki hubungan dengan keluarganya.

"Aku tidak memanfaatkannya."

Roni akhirnya berbicara. Nada suaranya mulai melemah.

"Aku memang tahu nama ayahnya. Tapi aku tidak yakin. Sudah puluhan tahun berlalu. Aku juga baru sadar setelah melihat beberapa foto yang dia simpan."

Yudha masih menatapnya.

"Tetapi kenapa kau diam saja, jika sudah tau?"

Roni menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya wajah kerasnya terlihat rapuh.

"Aku takut."

"Kau takut apa?"

Roni menunduk. "Takut dia pergi."

Semua orang terdiam. Bahkan Yuni ikut terkejut mendengar jawaban itu. Roni duduk perlahan. Tubuhnya terlihat jauh lebih tua daripada usianya.

"Rumah ini sepi, Yudha."

Suara pria itu mulai bergetar.

"Anak-anakku semua merantau. Jarang pulang dan Istriku sudah meninggal. Bertahun-tahun aku hidup sendirian."

Yudha mulai memahami ke mana arah pembicaraan itu.

"Ketika Yuni datang, rumah ini hidup lagi."

Roni mengusap matanya.

"Aku tidak pernah menganggap mereka orang asing."

Untuk pertama kalinya, Yuni melihat sisi lain dari pria yang selama ini dianggap majikannya.

"Tapi itu tetap salah, Ron."

Suara Yudha terdengar tegas.

"Kau tidak berhak menyembunyikan keluarganya."

Roni menunduk. "Aku tahu."

"Kau tidak berhak membuat anakku merasa sendirian."

Lihat selengkapnya