Ruangan menjadi sangat sunyi. Yudha berdiri diam. Matanya memandang jauh ke luar jendela. Ke arah halaman rumah yang dulu menjadi saksi masa kecilnya. Ke arah masa lalu yang selama ini ia tinggalkan. Lama sekali ia tidak berbicara. Kemudian perlahan ia tersenyum. Namun penuh ketulusan.
"Dari dulu..."
Suara Yudha terdengar tenang.
"Aku memang membenci ayahmu."
Roni menunduk.
"Aku marah, kecewa, dan merasa dibuang."
Air mata mulai muncul di mata Yudha.
"Tapi ketika usiaku tujuh belas tahun..."
Ia menoleh ke arah Roni.
"Saat aku kembali melihat kalian bahagia dan Paman tetap menjaga rumah ini. Entah kenapa, rasa benci itu perlahan hilang."
Yudha menghela napas panjang. Seolah melepaskan beban puluhan tahun yang selama ini tersimpan.
"Aku sudah memaafkannya, Ron."
Roni langsung mengangkat wajah. Matanya membesar.
"Aku memaafkannya sejak lama."
Suara Yudha mulai bergetar. Air mata Roni langsung jatuh semakin deras.
"Karena kalau aku terus menyimpan kebencian. Mungkin aku tidak akan pernah bisa hidup bahagia bersama Ningsih dan anak-anakku."
Roni langsung menutup wajahnya. Tangisnya pecah. Tangis seorang pria yang selama puluhan tahun hidup dengan rasa bersalah.
"Terima kasih banyak, Yud..."
Suara itu hampir tidak terdengar.
Yudha kemudian melangkah mendekat, lalu menepuk bahu sepupunya.
"Tapi satu hal."
Roni mengangguk cepat.
"Apa pun yang terjadi. Jangan pernah lagi membuat keluargaku merasa sendirian."
Roni menunduk.
"Saya janji."
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun. Dua orang sepupu yang dahulu dipisahkan oleh iri hati dan kesalahpahaman akhirnya berdamai. Sementara Yuni menyaksikan semuanya dengan mata berkaca-kaca. Karena hari itu ia belajar satu hal dari ayahnya bahwa memaafkan bukan berarti melupakan luka. Melainkan memilih untuk tidak lagi hidup di dalam luka tersebut. Mungkin, itulah alasan mengapa Yudha tetap mampu menjadi ayah yang begitu baik bagi keluarganya sampai hari ini.
Sore itu, setelah percakapan panjang yang dipenuhi air mata dan pengakuan masa lalu, akhirnya Yudha dan Roni berdamai sepenuhnya. Puluhan tahun kesalahpahaman, penyesalan, dan luka yang tersimpan di hati masing-masing perlahan menemukan jalan untuk sembuh. Ketika Yudha hendak berpamitan, Roni segera mengambil kunci mobilnya.
"Motormu titipkan di sini saja."
Yudha menoleh.
"Naik mobilku saja."
Roni tersenyum tipis.
"Aku akan mengantar kalian sampai ke rumah."
Yudha sempat ingin menolak, tetapi Roni bersikeras. Mungkin ini caranya menebus kesalahan-kesalahan yang selama ini membebaninya. Akhirnya mereka berangkat bersama. Roni menyetir dan Yudha duduk di kursi depan. Sementara Yuni dan Niky berada di kursi belakang. Perjalanan dari Surabaya menuju Lamongan berlangsung cukup panjang.
Awalnya suasana di dalam mobil sangat sunyi. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Yuni sesekali memandangi sawah yang mulai tampak di sepanjang jalan. Sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan seperti ini. Pemandangan yang mengingatkannya pada rumah. Pada masa kecilnya dan pada kehidupan sederhana yang dulu pernah ia tinggalkan.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Yuni membuka suara.
"Yah..."
Yudha menoleh.
"Iya, Nak?"
Yuni menggenggam tangan kecil Niky yang sedang tertidur di pangkuannya.
"Dhani bagaimana?"