Menjelang magrib, Ningsih duduk di teras rumah, seperti yang sering ia lakukan selama bertahun-tahun. Memandangi jalan desa dan menunggu. Meski ia sendiri tidak tahu apa yang ditunggu. Mungkin kabar atau mungkin seseorang yang telah lama pergi.
Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil mendekat. Sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman rumah.
Angel langsung berdiri.
"Siapa itu?"
Dhani hanya tersenyum. Jantungnya mulai berdebar. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah. Pintunya terbuka. Orang pertama yang turun adalah Yudha. Wajahnya terlihat lelah. Namun, senyumnya begitu lebar.
"Ningsih..."
Suara itu membuat Ningsih langsung berdiri.
"Mas?"
Ia melangkah beberapa langkah mendekat. Namun, kemudian pintu belakang mobil kembali terbuka. Dunia seakan berhenti berputar, ketika seorang wanita turun perlahan sambil menggendong seorang anak kecil. Wanita itu mengenakan hijab sederhana. Tubuhnya sedikit lebih kurus dan wajahnya tampak lebih dewasa. Namun, tidak ada satu ibu pun di dunia ini yang bisa salah mengenali anaknya sendiri.
"Yuni, anakku..." Suara Ningsih langsung bergetar.
Air matanya jatuh bahkan sebelum ia selesai mengucapkan kata itu.
Yuni yang sejak tadi berusaha kuat akhirnya menangis.
"Ibu..."
Dalam hitungan detik, keduanya sudah saling berlari. Yuni hampir menjatuhkan tas yang dibawanya. Ningsih bahkan tidak peduli sandal yang dipakainya terlepas di halaman. Mereka bertemu di tengah jalan dan langsung berpelukan erat. Tangisan keduanya pecah bersamaan. Tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan tangisan seorang anak yang akhirnya pulang.
"Ibu... Maafkan Yuni," isak Yuni.
Ningsih memeluknya semakin erat.
"Jangan bicara begitu. Ibu cuma senang kamu pulang."
Kalimat itu membuat semua orang ikut menahan air mata. Angel yang sejak tadi berdiri membeku akhirnya ikut berlari.
"Mbak!"
Ia langsung memeluk kakaknya dari samping. Tangisnya pecah.
"Aku kangen..."
Yuni menangis sambil memeluk adiknya.
"Aku juga kangen kamu, Angel."
Tidak jauh dari mereka, Yudha hanya berdiri sambil mengusap matanya diam-diam. Sementara Dhani tersenyum lega. Misi yang selama ini ia pegang akhirnya selesai. Kakaknya pulang dan keluarganya kembali lengkap.
Di tengah suasana haru itu, terdengar suara kecil.
"Nenek?" Semua orang menoleh.
Niki yang masih digendong Yuni memandang Ningsih dengan polos. Ningsih langsung membeku. Matanya perlahan berpindah dari Yuni ke anak kecil itu. Air matanya kembali mengalir. Karena tanpa perlu dijelaskan apa pun, hatinya sudah mengerti. Anak itu adalah cucunya. Darah daging keluarganya.
Dengan tangan gemetar, Ningsih mengulurkan kedua tangannya.
"Boleh Nenek gendong?"
Niki menoleh ke arah Yuni. Yuni mengangguk pelan sambil menangis. Anak kecil itu kemudian berpindah ke pelukan Ningsih. Saat itulah tangisan Ningsih pecah untuk ketiga kalinya. Ia memeluk cucunya erat-erat. Seolah takut anak itu akan menghilang.
"Masya Allah," bisiknya.
"Lucunya, cucu Nenek..."
Matahari mulai tenggelam di balik sawah-sawah Lamongan. Sementara di halaman rumah sederhana itu, sebuah keluarga yang telah lama tercerai-berai akhirnya kembali berkumpul. Tidak sempurna. Penuh luka, penyesalan, dan cerita yang belum selesai. Namun, mereka kembali bersama. Bagi Ningsih, itu sudah lebih dari cukup. Karena setelah bertahun-tahun menunggu di teras rumah yang sama, akhirnya putrinya benar-benar pulang.
Suasana haru di halaman rumah perlahan mulai mereda. Yuni masih duduk di samping ibunya. Niki yang awalnya malu-malu kini sudah nyaman berada dalam gendongan Ningsih. Anak kecil itu bahkan sedang memainkan ujung kerudung neneknya sambil tertawa kecil. Melihat pemandangan itu, hati Yuni terasa hangat. Sudah lama sekali ia tidak merasakan ketenangan seperti ini.
Namun, tiba-tiba Ningsih teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Yuni. Matanya masih sedikit sembab karena menangis.