Suasana yang semula hangat kembali berubah hening. Pertanyaan sederhana dari Ningsih ternyata menjadi pintu yang selama ini paling ditakuti Yuni.
"Lalu di mana suamimu, Nak?"
Suara Ningsih lembut. Tidak menghakimi atau marah. Ia hanya ingin mengetahui kebenaran. Namun, justru itulah yang membuat pertahanan Yuni runtuh sepenuhnya. Seketika Yuni berdiri. Kemudian berjalan mendekati ibunya, lalu berlutut di hadapan Ningsih. Semua orang terkejut.
"Nak..." Ningsih mencoba mengangkat tubuh putrinya.
Namun, Yuni menggeleng sambil menangis. Air matanya mengalir tanpa henti.
"Yuni khilaf, Bu..." Suara itu terdengar lirih dan penuh penyesalan.
"Yuni bodoh. Sampai percaya pada mulut seorang lelaki bernama Ricky."
Yudha dan Dhani saling berpandangan. Sementara Angel menggenggam tangan kakaknya erat-erat.
"Rena sudah berkali-kali mengingatkanku. Tapi aku tetap tidak mendengarkannya. Aku justru lebih memilih Ricky."
Yuni menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Awalnya, dia baik kepadaku, menolongku ketika sakit, dan selalu menemaniku. Aku pikir dia benar-benar mencintaiku."
Tangisnya semakin keras.
"Ternyata aku salah."
Yuni menarik napas panjang, lalu dengan susah payah melanjutkan ceritanya.
"Sampai suatu malam..."
Tubuhnya mulai gemetar.
"Dia mengajakku pergi dan aku dibuat mabuk oleh salah satu temannya."
Yudha yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya.
Wajahnya berubah tegang.
"Aku tidak sadar apa yang terjadi malam itu. Aku pingsan. Ketika bangun..."
Yuni tidak sanggup melanjutkan. Ningsih langsung memahami. Tangannya mulai gemetar. Air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Ricky telah merusak hidupku, Bu."
Suara Yuni hampir tidak terdengar.
"Tanpa persetujuanku dan tanpa aku sadari. Dia mengambil sesuatu yang selama ini kujaga."
Tangisan Yuni pecah. Sementara seluruh ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara isaknya.
"Dia berjanji akan bertanggung jawab dan akan menikahiku. Aku mempercayainya."
Yuni memukul dadanya sendiri.
"Aku terlalu bodoh."
Kemudian ia menatap Niky yang sedang duduk di pangkuan Ningsih. Air matanya mengalir semakin deras.
"Ketika aku hamil. Dia justru menghilang. Pergi ke rumah dan menikah dengan gadis pilihan keluarganya, lalu meninggalkanku sendirian."
Yuni menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.
"Ibu... Ayah... Maaf, selama ini aku membohongi kalian. Aku tidak berani pulang. Karena aku malu dan takut."
Yuni terisak, "Rena bahkan sering kubohongi. Aku memintanya menyembunyikan semuanya."
Tangisnya semakin tidak terkendali.
"Banyak sekali dosaku. Aku mengecewakan Ayah, Ibu, dan semua orang yang ada di sini."
Kemudian Yuni menatap Niki. Tatapannya penuh cinta dan penuh penyesalan. Namun, juga penuh perlindungan.
"Tapi satu hal..."
Suara Yuni bergetar.
"Niky tidak bersalah. Dia tidak pernah meminta dilahirkan seperti ini. Semua kesalahan ada padaku. Kalau harus ada yang dihukum, biarlah aku. Tapi jangan benci Niky. Jangan salahkan dia."
Tangisnya pecah untuk kesekian kalinya. Ruangan menjadi sangat sunyi. Yudha menundukkan kepala. Dhani mengusap matanya. Angel ikut menangis. Bahkan Roni yang mendengarkan dari samping pintu ikut terdiam.
Perlahan, Ningsih bangkit dari duduknya. Semua orang menatapnya. Yuni masih bersimpuh di lantai. Seolah menunggu keputusan atas hidupnya. Namun, yang terjadi justru membuat semua orang terkejut. Ningsih berlutut di hadapan putrinya. Kemudian memeluk Yuni erat-erat.
"Nak..." Suara Ningsih bergetar.
"Sudah cukup."
Yuni langsung menangis di pelukan ibunya.
"Ibu sedih mendengar semua yang terjadi. Ibu juga kecewa karena kamu menyimpan semuanya sendirian. Tapi..."
Ningsih mengangkat wajah putrinya. Matanya penuh air mata.
"...kamu tetap anak Ibu."
Kalimat itu membuat seluruh pertahanan Yuni runtuh.
"Tidak ada satu kesalahan pun yang bisa membuatmu berhenti menjadi anak kami dan tidak ada satu keadaan pun yang membuat Niky berhenti menjadi cucu kami."
Ningsih kemudian memeluk Niki yang ikut menangis melihat ibunya menangis.