Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #31

Hadiah Tak Terduga

Malam mulai turun di desa kecil itu. Namun, kali ini rumah keluarga Yudha benar-benar kembali hidup. Tidak lagi ada rahasia, kebohongan, dan kehilangan. Yang tersisa hanyalah sebuah keluarga yang saling menerima. Bukan karena hubungan darah semata. Melainkan karena cinta, pengorbanan, dan kasih sayang yang telah mereka bangun bersama selama bertahun-tahun. Suasana haru yang sejak tadi memenuhi ruang tamu perlahan berubah menjadi suasana hangat khas keluarga.

Ningsih yang sejak tadi menangis tiba-tiba berdiri dan menepuk kedua tangannya.

"Eh, ayo kita makan!"

Semua langsung menoleh kepadanya.

"Ibu sudah masak banyak banget hari ini."

Ningsih tertawa kecil.

"Tak disangka ternyata yang datang banyak sekali."

Yudha langsung tersenyum.

"Dasar. Dari pagi memang sudah firasat."

"Tuh kan benar."

Ningsih hanya tersenyum malu. Kemudian matanya tertuju kepada Niky yang sedang duduk di pangkuan Yuni.

"Sini cucu Nenek."

Niki langsung menoleh.

"Mau makan apa ya?"

Niki berpikir sejenak. Ningsih lalu berbisik seolah sedang menawarkan harta karun.

"Mau buah?"

Niki menggeleng.

"Mau puding?"

Mata Niki langsung berbinar.

"Mau puding, Nek!"

Semua langsung tertawa. Ningsih tertawa paling keras.

"Nah, cucu Nenek pintar. Nanti bonus es krim."

"Yang banyak ya! Yeaaay!"

Niky langsung melompat kegirangan. Membuat seluruh rumah kembali dipenuhi tawa.

Tak lama kemudian, meja makan yang biasanya hanya diisi tiga atau empat orang kini penuh. Yudha, Ningsih, Yuni, Dhani, Angel, Niky, dan Roni. Suasana yang sudah lama tidak terjadi di rumah itu. Piring-piring yang tadi dimasak Ningsih akhirnya tidak sia-sia. Rawon, perkedel, sayur bening, ayam goreng, dan sambal kesukaan keluarga mereka. Semuanya memenuhi meja makan.

Angel duduk di samping Yuni. Sesekali ia memperhatikan Niky yang sibuk makan puding hingga belepotan.

"Pelan-pelan, Nak." kata Yuni.

Namun, Niky justru memasukkan satu sendok besar lagi ke mulutnya. Membuat semua orang kembali tertawa. Angel ikut tersenyum melihat tingkah keponakannya. Kata itu masih terdengar asing di telinganya.

Beberapa jam yang lalu ia bahkan baru mengetahui bahwa dirinya diadopsi. Ia tidak lahir dari rahim Ningsih dan tidak memiliki hubungan darah dengan Yudha. Meskipun senyum masih menghiasi wajahnya, jauh di dalam hatinya masih ada sedikit kesedihan. Sedikit kebingungan dan kehilangan. Namun, ketika ia memandang satu per satu orang yang duduk di meja makan itu, perasaan tersebut perlahan memudar.

Ia melihat Ningsih yang sedang menyuapi Niki. Melihat Yudha yang tertawa mendengar cerita Dhani. Melihat Yuni yang kini jauh lebih tenang. Melihat Roni yang untuk pertama kalinya benar-benar terlihat seperti bagian dari keluarga. Ia menyadari sesuatu. Keluarga tidak selalu dibangun oleh darah. Kadang keluarga dibangun oleh orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal. Orang-orang yang memilih untuk mencintai dan menerima.

Angel teringat malam hujan bertahun-tahun lalu. Malam ketika ia ditemukan dalam sebuah kardus di depan rumah ini. Jika malam itu Yudha dan Ningsih tidak membuka pintu, mungkin hidupnya akan sangat berbeda. Bahkan, mungkin ia tidak akan pernah merasakan kasih sayang seperti sekarang. Tanpa sadar, air matanya mulai menggenang. Yuni yang duduk di sebelahnya langsung menyadarinya.

"Kenapa?"

Angel tersenyum. Kemudian menggeleng.

"Nggak apa-apa. Aku cuma bahagia."

Yuni langsung menggenggam tangannya. Angel membalas genggaman itu erat.

Kini ia mengerti. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat ia belajar berjalan, membaca, menangis, dan tertawa. Tempat ia dipeluk ketika sakit, dipanggil anak, dan dicintai. Mungkin ia tidak lahir di keluarga ini. Namun, hatinya sudah lama menjadi bagian dari keluarga ini. Sampai kapan pun, rumah kecil di Lamongan inilah yang akan selalu menjadi tempat pulangnya.

Di luar rumah, langit malam mulai dipenuhi bintang. Angin desa berhembus lembut melalui jendela yang terbuka. Sementara di dalam rumah, suara tawa dan obrolan keluarga terus terdengar.

Dhani dan Yuni akhirnya pulang. Niky menemukan keluarganya. Angel menemukan jati dirinya. Roni menemukan pengampunan. Yudha serta Ningsih akhirnya mendapatkan kembali apa yang selama ini paling mereka rindukan, keluarga mereka yang lengkap berkumpul di satu meja makan, seperti seharusnya. Rumah itu kembali menjadi rumah yang sesungguhnya.

Selepas makan malam yang penuh tawa dan cerita, suasana rumah perlahan kembali tenang. Roni melihat jam tangannya. Langit mulai berubah jingga. Ia tahu sudah waktunya kembali ke Surabaya. Meski berat, ia harus berpamitan.

Roni berdiri dari kursinya.

Lihat selengkapnya