Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #32

Reuni di Rumah Penuh Kenangan

Sebulan berlalu sejak kepulangan Yuni. Rumah keluarga Yudha kembali dipenuhi tawa, obrolan, dan suara langkah kaki yang selama bertahun-tahun hilang. Yuni mulai membantu ibunya menjaga toko. Dhani kembali mengurus stok barang dan berbelanja ke pasar. Angel menjalani hari-harinya seperti biasa sambil mempersiapkan masa depannya. Sementara Niky menjadi pusat perhatian seluruh penghuni rumah. Anak kecil itu bahkan sudah hafal letak toples permen milik Ningsih dan sering diam-diam mengambilnya ketika tidak ada yang melihat.

Tak terasa bulan Desember pun tiba. Masa libur semester datang. Sesuai janjinya dulu, Yudha akhirnya memutuskan mengunjungi Roni di Surabaya. Bukan sebagai tamu atau orang asing, tetapi sebagai sebuah keluarga.

Pagi itu suasana rumah begitu ramai. Ningsih sibuk menyiapkan bekal. Yuni membantu menyiapkan pakaian Niky. Dhani memastikan semua barang sudah masuk tas. Sementara Angel terlihat paling bersemangat karena ini pertama kalinya ia akan mengunjungi rumah yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ayahnya.

"Rena sudah dikabari?" tanya Yudha.

"Sudah." jawab Ningsih.

"Aku juga mengundangnya."

Yuni tersenyum senang. Ia sudah lama ingin mempertemukan kembali seluruh orang yang berjasa dalam hidupnya. Rena tentu termasuk salah satunya.

Perjalanan menuju Surabaya terasa menyenangkan. Mereka memilih naik bus antarkota. Niky yang baru pertama kali naik bus begitu antusias. Ia terus menempel di jendela.

"Nenek!"

"Iya?"

"Itu sawah!"

Semua tertawa.

Sesampainya di Terminal Bungurasih, mereka langsung melihat Roni berdiri melambaikan tangan. Wajahnya jauh lebih segar dibanding beberapa bulan lalu. Sepertinya kehidupan baru bersama keluarganya mulai mengubah dirinya.dibandingkan dengan

"Selamat datang!" teriak Roni.

Niki bahkan langsung berlari menghampirinya.

"Om Roni!"

Membuat pria itu tertawa lebar. Namun, ternyata mereka tidak langsung pulang ke rumah.

"Ayo naik mobil dulu." kata Roni.

"Mau ke mana?" tanya Yudha.

"Ke Juanda."

Semua terlihat bingung.

"Tadi pagi anakku menelepon. Dia pulang hari ini."

Wajah Roni langsung berbinar.

"Sudah sampai bandara."

Yudha tersenyum. Sudah lama ia mendengar cerita tentang anak-anak Roni yang bersekolah di luar negeri. Namun, ia belum pernah bertemu langsung.

"Katanya usia anak Om nggak jauh sama Angel." godaan Dhani langsung muncul.

"Berarti Angel punya teman baru nih."

Angel langsung memukul lengan kakaknya.

"Apaan sih, Kak!"

Semua langsung tertawa. Wajah Angel memerah sampai ke telinga.

Setibanya di Bandara Juanda, mereka menunggu di area kedatangan internasional. Tak lama kemudian, seorang pemuda tinggi dengan koper besar keluar dari pintu kedatangan. Ia melambaikan tangan.

"Ayah!"

Roni langsung berdiri. "Donny!"

Pemuda itu segera menghampiri. Namun, langkahnya perlahan melambat ketika melihat begitu banyak orang berdiri bersama ayahnya. Selama ini ia hanya mengenal ayahnya dan beberapa kerabat jauh yang sesekali disebutkan. Namun, tidak pernah benar-benar bertemu keluarga besar.

"Ayah..."

Donny terlihat bingung.

Roni tertawa. "Ayo sini. Saatnya kenalan."

Satu per satu anggota keluarga diperkenalkan.

"Ini Om Yudha, sepupuku."

Donny langsung menyalami Yudha dengan hormat.

"Ini Tante Ningsih, Yuni, Dhani, dan Angel."

Ketika sampai pada Angel, Donny sempat tersenyum ramah. Membuat Angel langsung salah tingkah. Yang langsung disadari oleh Dhani dan tentu saja tidak mungkin ia melewatkan kesempatan itu.

"Eh..."

"Dadah dulu dong, Angel."

"Kak!"

Angel langsung memukul lengan Dhani sekali lagi. Membuat seluruh keluarga tertawa. Donny sendiri justru merasa sangat senang. Selama bertahun-tahun hidupnya diisi sekolah, kuliah, dan kehidupan luar negeri. Rumah besar itu selalu terasa sepi setiap kali ia pulang. Kini untuk pertama kalinya ia melihat halaman keluarganya dipenuhi orang. Perasaan hangat yang selama ini hilang mulai muncul kembali.

Setelah perkenalan selesai, keluarga itu masih berdiri di area kedatangan internasional. Donny sedang berbincang dengan Roni. Dhani sesekali menggoda Angel. Ningsih memperhatikan Niky yang mulai terlihat lelah setelah perjalanan panjang. Sementara Yuni berdiri sedikit di belakang ayahnya. Ia tersenyum melihat keluarganya yang kini terasa begitu lengkap.

Namun, tanpa disadari siapa pun, dari arah pintu kedatangan lain, sepasang suami istri baru saja keluar. Seorang pria mengenakan kemeja kasual dan celana panjang berjalan sambil membawa koper. Di sampingnya, seorang perempuan dengan pakaian sederhana mendorong koper kecil. Mereka baru saja tiba di Surabaya untuk menghabiskan liburan. Pria itu adalah Ricky dan perempuan di sampingnya adalah Clara.

"Setelah ini langsung ke hotel?" tanya Clara.

Ricky mengangguk. "Iya. Kita istirahat dulu."

Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah. Tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana. Seorang perempuan berhijab dengan seorang anak kecil di sampingnya. Ricky membeku.

"Yuni...?"

Clara menoleh. "Siapa?"

Ricky tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada perempuan itu, Yuni. Perempuan yang bertahun-tahun lalu pernah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Perempuan yang pernah ia tinggalkan ketika sedang berada di titik paling membutuhkan dirinya. Sekarang, Yuni berdiri di sana dan tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang menggenggam tangannya.

Ricky menelan ludah.

Lihat selengkapnya