Hujan kembali turun menjelang tengah malam. Di luar gerbang Panti Asuhan Harapan Ibu, sebuah mobil hitam berhenti tanpa menyalakan lampu. Seorang perempuan turun perlahan. Tangannya menggenggam foto bayi yang sudah usang. Foto tersebut bukan miliknya. Itu adalah temuan dari mata-mata yang sengaja ia kirim untuk menyelidiki keberadaan Ningsih. Di belakang foto terdapat tulisan:
Panti Asuhan Harapan Ibu - Surabaya
Ia menyalakan ponsel, lalu membandingkan foto tersebut dengan bangunan panti di hadapannya.
“Sudah enam belas tahun,” bisiknya. “Kalau informasi itu benar, berarti gadis itu masih hidup.”
Dari dalam mobil, seorang pria bertanya pelan.
“Apa kita langsung mengambilnya, Nyonya?”
Perempuan itu menggeleng. “Belum saatnya.”
Tatapannya tetap tertuju ke arah panti.
“Pastikan dulu apakah dia benar-benar Ningsih. Kalau salah orang, kita akan menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah.”
Mobil itu kemudian menjauh, meninggalkan gerbang panti yang kembali diselimuti hujan. Sementara itu, di dalam panti, Ningsih tertidur lelap tanpa menyadari bahwa seseorang baru saja memastikan keberadaannya.
***
Suara lonceng tua yang tergantung di teras Panti Asuhan Harapan Ibu berbunyi sebelum fajar menyingsing. Dentingnya membangunkan seluruh penghuni panti. Anak-anak segera beranjak dari tempat tidur, melipat selimut, lalu bergegas mengambil air wudu. Kehidupan di panti selalu dimulai dengan cara yang sama, sederhana, teratur, dan penuh keterbatasan.
Setiap pagi, mereka berjalan bersama menuju sekolah. Mereka menyusuri jalan kecil yang membelah persawahan dan melewati sungai di belakang panti. Yudha selalu berjalan beberapa langkah di depan dengan tas tersampir di bahu. Pandangannya lurus ke depan, seolah tidak terlalu memedulikan keadaan di sekitarnya. Di belakangnya, Ningsih melangkah sambil memeluk beberapa buku perpustakaan yang hampir setiap hari ia bawa. Meskipun Yudha nyaris tidak pernah mengajaknya berbicara, Ningsih tetap mengikutinya. Sesekali ia mempercepat langkah agar bisa berjalan sejajar dengannya.
“Yud, kemarin aku baca cerita tentang penjelajah laut. Seru sekali,” katanya, mencoba membuka percakapan.
Yudha hanya mengangguk tanpa menoleh.
Pada kesempatan lain, Ningsih menunjuk sekumpulan burung yang sedang hinggap di atas pohon.
“Lihat, burungnya lucu, ya.”
Yudha melirik sekilas, lalu kembali berjalan.
Percakapan mereka sering berakhir dalam keheningan. Namun, Ningsih tidak pernah merasa kecewa. Baginya, selama Yudha masih mau berjalan bersamanya, itu sudah cukup.
Di sekolah pun Ningsih diam-diam memperhatikan Yudha. Ia tahu anak laki-laki itu sering melewatkan sarapan karena tidak berselera makan sejak kehilangan kedua orang tuanya.
Karena itu, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Ningsih sengaja bangun lebih awal untuk membantu Bu Ratmi di dapur. Dari tangannya lahir bekal-bekal sederhana yang ia susun serapi mungkin. Terkadang hanya nasi dengan telur dadar dan tempe goreng. Pada hari lain, ia membuat sayur bening dan memasukkannya ke dalam kotak makan berwarna biru.
Saat bel istirahat berbunyi, Ningsih menunggu hingga Yudha keluar dari kelas. Dengan hati-hati, ia meletakkan kotak bekal itu di atas meja Yudha tanpa diketahui siapa pun. Setelah itu, ia segera kembali ke kelasnya sebelum Yudha datang.
Awalnya, Yudha hanya memandangi kotak makan itu dengan bingung. Ia sempat bertanya kepada beberapa teman, tetapi tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya. Namun, rasa lapar akhirnya membuatnya membuka kotak tersebut. Ia menghabiskan seluruh isinya tanpa menyisakan sebutir nasi pun. Pada hari-hari berikutnya, bekal itu kembali muncul. Yudha mulai menyadari bahwa seseorang sengaja memperhatikannya.
Suatu siang, ketika Ningsih kembali mengintip dari balik pintu kelas, ia melihat secarik kertas terselip di bawah kotak makan yang sudah kosong. Tangannya bergetar ketika mengambilnya. Di atas kertas itu hanya tertulis dua kata dengan tulisan tangan yang sedikit berantakan.
Terima kasih.
Senyum tipis mengembang di wajah Ningsih. Bagi orang lain, mungkin dua kata itu tidak berarti banyak. Namun, bagi Ningsih, itulah jawaban pertama yang diberikan Yudha setelah sekian lama ia berusaha mengetuk dinding kesedihan yang mengurung anak laki-laki itu.
Hujan turun lebih deras malam itu. Suara air yang menghantam atap seng membuat sebagian penghuni panti sulit tidur. Di sudut asrama laki-laki, Yudha kembali meringkuk di bawah selimut sambil menutup kedua telinganya. Namun, suara itu tidak juga menghilang. Jeritan ibunya, benturan keras, dan panas kobaran api. Semuanya kembali memenuhi kepalanya. Napas Yudha mulai memburu. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia berusaha menahan isak agar tidak membangunkan anak-anak lain. Setelah beberapa saat, ia keluar dari asrama. Kakinya membawanya menuju beranda belakang panti. Di sana, ia duduk sendirian sambil memandangi hujan.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat. Yudha tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang. Ningsih membawa dua gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap. Ia meletakkan salah satunya di samping Yudha. Tidak ada sapaan atau pertanyaan. Ia hanya duduk menemani.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya, Yudha membuka suara.
“Kenapa sih kamu selalu mengikutiku?”
Ningsih menatap hujan.
“Aku nggak ngikutin kamu, kok.”
“Terus apa?”
“Aku cuma nggak mau kamu sendirian.”
Yudha tertawa hambar. “Kan, aku memang sendirian.”
Ningsih menggeleng. “Nggak cuma kamu. Aku juga.”
Yudha akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan wajah Ningsih. Tidak ada rasa kasihan dalam tatapan gadis itu. Ia juga tidak berusaha menghiburnya dengan kata-kata kosong. Hanya ada kesepian yang terasa begitu akrab.
“Aku bahkan nggak pernah tahu wajah ayah dan ibuku,” ucap Ningsih lirih.
Ia menarik napas.
“Tiap kali lihat teman dijemput keluarganya, aku selalu bertanya-tanya, apa mereka pernah mencari aku?”
Suara Ningsih mulai bergetar.
“Tapi sampai sekarang, nggak ada yang datang.”
Yudha terdiam. Selama ini, ia mengira penderitaannya adalah yang paling berat. Namun, malam itu ia menyadari bahwa ada seseorang yang bahkan tidak memiliki satu pun kenangan tentang keluarganya. Mereka sama-sama kehilangan. Hanya bentuk kehilangan mereka yang berbeda. Hujan masih turun ketika Yudha perlahan mengambil gelas teh yang diberikan Ningsih. Tehnya sudah tidak terlalu panas, tetapi kehangatannya terasa sampai ke dada.