Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #3

Bayangan Masa Lalu

Hujan kembali turun menjelang tengah malam. Di luar gerbang Panti Asuhan Harapan Ibu, sebuah mobil hitam berhenti tanpa menyalakan lampu. Seorang wanita turun perlahan. Tangannya menggenggam sebuah foto bayi yang telah usang. Ia menyalakan handphonenya, lalu membandingkan foto itu dengan bangunan panti di hadapannya.

"Sudah lima belas tahun..." bisiknya, "kalau informasi itu benar, berarti gadis itu masih hidup."

Dari dalam mobil, seorang pria bertanya pelan.

"Apa kita langsung mengambilnya, Nyonya?"

Wanita itu menggeleng. "Belum saatnya."

Tatapannya tetap tertuju ke arah panti.

"Pastikan dulu, apakah dia benar-benar Ningsih."

Mobil itu kemudian perlahan menjauh, meninggalkan suara hujan yang kembali memenuhi malam. Sementara itu, di dalam panti, Ningsih tertidur lelap tanpa menyadari bahwa seseorang baru saja memastikan keberadaannya.

***

Suara lonceng tua yang menggantung di teras Panti Asuhan Harapan Ibu kembali berbunyi sebelum fajar menyingsing. Dentingnya membangunkan seluruh penghuni panti. Anak-anak segera beranjak dari tempat tidur, melipat selimut, lalu bergegas mengambil air wudu. Kehidupan di panti selalu dimulai dengan cara yang sama. Sederhana, teratur, dan penuh keterbatasan.

Setiap pagi, mereka berjalan bersama menuju sekolah, menyusuri jalanan kecil yang membelah persawahan dan melewati sungai kecil di belakang panti. Yudha selalu berjalan beberapa langkah di depan dengan tas yang disampirkan di bahu. Pandangannya lurus ke depan, seolah dunia di sekitarnya tidak pernah ada. Di belakangnya, Ningsih melangkah pelan sambil memeluk beberapa buku perpustakaan yang hampir setiap hari ia bawa. Meskipun Yudha nyaris tidak pernah mengajaknya berbicara, Ningsih tetap setia mengikutinya. Sesekali Ningsih mempercepat langkah agar bisa berjalan sejajar dengannya.

"Yud, kemarin aku baca cerita tentang penjelajah laut. Seru sekali," ucapnya mencoba membuka percakapan.

Yudha hanya mengangguk singkat tanpa menoleh.

Di lain waktu, Ningsih menunjuk sekumpulan burung yang sedang hinggap di atas pohon.

"Lihat, burungnya lucu ya."

Yudha hanya melirik sekilas lalu kembali berjalan.

Percakapan mereka selalu berakhir dengan keheningan. Namun, Ningsih tidak pernah merasa kecewa. Baginya, selama Yudha masih mau berjalan bersamanya, itu sudah cukup.

Di sekolah pun Ningsih diam-diam terus memperhatikan Yudha. Ia tahu anak laki-laki itu sering lupa sarapan karena tidak berselera makan sejak kehilangan kedua orang tuanya. Karena itu, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia sengaja bangun lebih awal untuk membantu Bu Ratmi di dapur. Dari tangan kecilnya lahir bekal-bekal sederhana yang ia susun serapi mungkin. Terkadang hanya nasi dengan telur dadar, tempe goreng, atau sayur bening yang dimasukkan ke dalam kotak makan berwarna biru.

Saat bel istirahat berbunyi, Ningsih menyelinap masuk ketika Yudha keluar dari kelas. Dengan hati-hati, ia meletakkan kotak bekal itu di atas meja Yudha tanpa seorang pun mengetahui. Setelah itu, ia segera kembali ke kelasnya sendiri sebelum Yudha datang.

Awalnya Yudha hanya memandangi kotak makan itu dengan bingung. Ia sempat bertanya kepada beberapa teman, tetapi tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya. Meski begitu, rasa lapar akhirnya membuatnya membuka tutup kotak tersebut. Ia menghabiskan seluruh isinya tanpa menyisakan sebutir nasi pun. Pada hari-hari berikutnya, bekal itu kembali muncul. Yudha mulai menyadari bahwa seseorang sengaja memperhatikannya.

Suatu siang, ketika Ningsih kembali mengintip dari balik pintu kelas, ia melihat secarik kertas kecil terselip di bawah kotak makan yang telah kosong. Tangannya bergetar saat mengambilnya. Di atas kertas itu hanya tertulis dua kata dengan tulisan tangan yang sedikit berantakan.

Terima kasih.

Senyum tipis langsung mengembang di wajah Ningsih. Barangkali bagi orang lain dua kata itu tidak berarti apa-apa. Namun, itulah jawaban pertama yang diberikan Yudha setelah sekian lama ia berusaha mengetuk dinding kesedihan yang mengurung hati anak laki-laki itu.

***

Hujan turun lebih deras malam itu. Suara air yang menghantam atap seng membuat seluruh penghuni panti sulit tidur. Di sudut asrama laki-laki, Yudha kembali meringkuk di bawah selimut sambil menutup kedua telinganya. Namun, suara itu tidak juga menghilang. Jeritan ibunya, benturan keras, dan panasnya kobaran api. Semuanya kembali memenuhi kepalanya. Tanpa sadar, napasnya mulai memburu. Air matanya mengalir begitu saja. Ia berusaha menahan isak tangisnya agar tidak membangunkan anak-anak lain.

Pelan-pelan ia keluar dari asrama. Kakinya membawanya menuju beranda belakang panti. Di sana ia duduk sendirian memandangi hujan. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat. Yudha tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang. Ningsih, gadis itu membawa dua gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap. Ia meletakkan salah satunya di samping Yudha. Tidak ada sapaan atau pertanyaan. Ia hanya duduk menemani.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya Yudha membuka suara.

"Kenapa sih kamu selalu mengikutiku?"

Ningsih menatap hujan. "Aku nggak ngikutin kamu kok."

"Terus apa?"

"Aku cuma nggak mau kamu sendirian."

Yudha tertawa hambar. "Kan, aku memang sendirian."

Ningsih menggeleng pelan. "Nggak cuma kamu. Aku juga."

Yudha akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat wajah Ningsih. Tatapan gadis itu tidak dipenuhi rasa kasihan. Tidak pula ingin menghibur. Hanya menyimpan kesepian yang sama.

"Aku bahkan nggak pernah tahu wajah ayah dan ibuku," ucap Ningsih lirih.

"Tiap kali lihat teman dijemput keluarganya, aku selalu bertanya-tanya... apa mereka pernah mencari aku?"

Suara Ningsih mulai bergetar. "Tapi sampai sekarang... nggak ada yang datang."

Lihat selengkapnya