Yang Disebut Rumah

Ferry Verdian Adinata
Chapter #5

Jejak yang Diburu

Tidak semua orang yang datang menculikmu ingin membunuhmu. Kadang, mereka hanya ingin mengubur sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah terungkap.

Pria yang duduk di kursi depan kembali mengangkat telepon genggamnya.

"Perintahnya bagaimana, Nyonya?"

Wanita itu memejamkan mata beberapa saat. Di balik wajah dinginnya, ada sesuatu yang tampak bergejolak. Bayangan suaminya, wajah seorang perempuan muda yang pernah menghancurkan rumah tangganya dan tangisan seorang bayi yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan kembali memenuhi pikirannya. Perlahan ia membuka mata. Tatapannya berubah tajam.

"Bawa gadis itu kepadaku."

Pria itu mengangguk. "Lalu anak laki-laki yang bersamanya?"

Wanita itu terdiam. Sorot matanya kembali melembut. Namun, hanya sesaat.

"Kalau dia menghalangi..." Ia menarik napas panjang.

"Pokoknya, jangan biarkan dia ikut campur."

Mobil itu mempercepat laju. Saat Yudha dan Ningsih memasuki jalan yang sepi menuju panti, sebuah mobil lain tiba-tiba berhenti melintang di depan mereka. Dua pria bertubuh besar turun dengan wajah tertutup masker.

"Siapa kalian ..."

Belum sempat Yudha menyelesaikan ucapannya, salah seorang pria memukul bagian belakang kepalanya.

Bruk!

Yudha roboh ke tanah.

"Yudha!" Ningsih menjerit dan berusaha menolongnya.

Namun, seseorang membekap mulutnya dari belakang.

"Tolong...!"

Dalam hitungan detik, tubuh Yudha dan Ningsih diseret masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup rapat. Ban berdecit. Mobil hitam itu melesat meninggalkan jalanan yang kembali sunyi.

Sementara di kejauhan, lonceng Panti Asuhan Harapan Ibu mulai berbunyi, menandakan waktu makan malam. Pak Surya berdiri di depan gerbang. Tatapannya terus mengarah ke jalan yang biasanya dilalui Yudha dan Ningsih. Namun, hingga langit berubah gelap, keduanya tak kunjung pulang.

Ningsih tersadar. Hawa dingin langsung menusuk tubuhnya. Bau kayu lapuk bercampur karat memenuhi udara. Di kejauhan terdengar suara hujan menimpa atap seng tua. Disusul bunyi rantai yang bergesekan dengan lantai beton. Perlahan ia membuka mata. Tangannya terikat. Di sampingnya, Yudha masih terbaring tak sadarkan diri.

Gudang itu gelap. Hanya ada satu lampu kuning redup yang bergoyang pelan. Pintu besi terbuka. Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan dengan langkah tenang. Namun, sorot matanya begitu dingin. Di belakangnya berdiri dua pria berbadan besar. Wanita itu berhenti tepat di depan Ningsih.

"Jadi... ini wajah anak itu."

Ningsih mengernyit. "Siapa Anda?"

Wanita itu tertawa kecil.

"Lucu sekali. Kau bahkan tidak tahu siapa dirimu sendiri."

Yudha mulai sadar. Ia langsung berusaha melepaskan ikatan.

"Lepaskan kami!"

Wanita itu menoleh. "Diam."

Suara wanita itu begitu datar hingga membuat suasana semakin mencekam. Tatapannya kembali kepada Ningsih.

"Selama enam belas tahun ini, aku berharap kau sudah mati."

Ningsih membeku. "Apa maksud Anda?"

Wanita itu mengeluarkan sebuah foto bayi yang mulai menguning. Kemudian ia melemparkannya ke lantai. Foto itu jatuh tepat di depan Ningsih. Matanya membelalak.

"Itu foto siapa?"

Wanita itu kembali mengeluarkan sebuah liontin bunga melati. Kilau peraknya mulai memudar dimakan usia. Tatapan Ningsih langsung tertuju pada benda itu. Entah mengapa, liontin itu terasa begitu akrab.

"Masih ingat benda ini?"

Lihat selengkapnya