Rahasia bisa disembunyikan selama bertahun-tahun. Namun, sekali takdir memutuskan untuk membukanya, bahkan kobaran api pun tak akan mampu menghanguskannya.
Suasana di Panti Asuhan Harapan Ibu mulai berubah mencekam. Jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Lonceng makan malam sudah lama berbunyi. Satu per satu anak panti selesai menyantap makanan mereka. Namun, dua kursi di sudut meja makan masih kosong. Kursi milik Yudha dan Ningsih. Bu Lina dan Bu Ratmi terus mondar-mandir di teras panti. Tatapannya tak pernah lepas dari jalan kecil yang setiap sore selalu dilalui kedua remaja itu ketika pulang sekolah.
"Pak... Yudha dan Ningsih kok belum pulang juga ya?" tanya Bu Lina dengan suara mulai bergetar.
Pak Surya mencoba tetap tenang.
"Mungkin mereka membantu guru di sekolah atau mampir sebentar ke toko."
Namun, bahkan dirinya sendiri tidak yakin dengan jawaban itu. Selama bertahun-tahun tinggal di panti, Yudha dan Ningsih tidak pernah pulang terlambat tanpa memberi kabar.
Waktu terus berjalan. Langit semakin gelap. Rintik hujan mulai turun membasahi halaman panti. Kecemasan Bu Lina semakin menjadi-jadi.
"Pak... saya jadi kepikiran surat itu."
Pak Surya yang sedang berdiri di depan gerbang langsung menoleh. Wajahnya seketika berubah muram.
***
Malam sebelumnya, sekitar pukul sebelas malam. Seluruh penghuni panti telah tertidur ketika terdengar suara ketukan dari arah pintu depan.
Tok... Tok... Tok...
Pak Surya segera membuka pintu. Namun, tak ada seorang pun di sana. Hanya sebuah amplop cokelat yang tergeletak di depan gerbang. Ia memungutnya perlahan. Tidak ada nama pengirimnya. Saat amplop itu dibuka, hanya terdapat selembar kertas putih. Tulisan di atasnya dibuat menggunakan huruf cetak agar tidak dikenali.
"Jangan pernah biarkan Ningsih mencari siapa dirinya."
Di bagian bawahnya terdapat kalimat lain.
"Kalau kalian masih ingin melihat anak itu tetap hidup, jauhkan dia dari masa lalunya."
Tangan Pak Surya langsung gemetar. Bu Lina yang membaca surat itu ikut memucat.
"Pak, ini mereka..."
Pak Surya mengangguk pelan. "Mereka akhirnya datang."
Malam itu juga ia menyimpan surat tersebut di dalam map arsip panti. Ia tidak tidur semalaman.
Pagi harinya, sebelum Yudha dan Ningsih berangkat ke sekolah, Pak Surya sempat memanggil keduanya.
"Hati-hati di jalan."
Yudha tersenyum. "Iya, Pak."
Ningsih mengangguk pelan.
"Sepulang sekolah langsung pulang."
"Siap."
Tidak ada yang menyangka, itu menjadi percakapan terakhir mereka sebelum menghilang.
Pukul delapan malam, Pak Surya akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor polisi terdekat. Seorang petugas menerima laporannya dengan ramah.
"Bapak yakin mereka belum pulang?"
Pak Surya mengangguk. "Mereka tidak pernah seperti ini."
Petugas itu mencatat seluruh keterangan, lalu berkata dengan hati-hati.
"Kami memahami kekhawatiran Bapak. Apalagi ada surat ancaman ini."
Petugas membaca isi surat beberapa saat.
"Namun, berdasarkan prosedur untuk dugaan orang hilang, kami membutuhkan waktu sebelum status kehilangan dapat diproses lebih lanjut, kecuali terdapat bukti kuat bahwa telah terjadi tindak pidana."
Pak Surya mengepalkan kedua tangannya. "Jadi kami harus bagaimana?"
"Kalau Bapak menemukan petunjuk lain, seperti barang korban, saksi, atau bukti adanya penculikan, segera hubungi kami. Kami akan langsung menindaklanjuti."
Pak Surya mengangguk lesu. Ia keluar dari kantor polisi dengan langkah berat.
Malam semakin larut. Hujan kembali turun. Pak Surya tidak sanggup hanya menunggu.
"Aku akan mencari mereka."
Bu Lina langsung berdiri.