Ada kalanya kebahagiaan datang begitu lengkap hingga manusia lupa bahwa hidup tidak pernah berhenti menguji. Hari-hari paling indah sering kali menjadi awal dari perpisahan yang paling menyakitkan. Namun, saat itu Yudha dan Ningsih belum mengetahui bahwa takdir sedang menyiapkan ujian terbesar bagi rumah yang bahkan belum sempat mereka tempati.
Hari itu setelah kedatangan Pak Hendra, kehidupan Yudha mulai berubah. Untuk pertama kalinya semenjak kehilangan orang tuanya, ia merasa hidupnya mulai terlihat jelas dan terarah. Yudha sudah melepaskan dendam masa lalunya dan kini membuka gerbang untuk masa depannya. Sudah hampir seminggu, Yudha sibuk bolak-balik bersama Pak Hendra mengurus berbagai dokumen penting. Mereka mendatangi kantor notaris, kepala desa, hingga pengadilan untuk mengesahkan rumah warisannya yang ada di Lamongan atas nama Yudha sepenuhnya.
Pak Hendra menatap Yudha dengan kagum.
"Kamu memang masih muda, tapi cara berpikirmu jauh lebih dewasa daripada yang aku kira, Yud."
Yudha hanya tersenyum mendengarnya. Baginya, semua yang ia lakukan hanyalah untuk masa depannya bersama Ningsih.
Suatu sore, di perpustakaan panti, Yudha menunjukkan kunci rumah Lamongan kepada Ningsih.
"Ini kunci rumah kita nanti, Ningsih"
Ningsih menerima kunci itu dengan kedua tangan. Jemarinya mengusap logam kecil yang mulai kusam dimakan usia. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Bukan karena ragu kepada Yudha, melainkan karena muncul perasaan aneh yang tidak mampu ia jelaskan.
"Kenapa?" tanya Yudha ketika melihat wajahnya berubah.
Ningsih menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Nggak tahu, rasanya seperti rumah itu sudah lama menunggu kita."
Ningsih kemudian menangis. Bukan karena sedih, tapi karena terharu. Ternyata doa yang mereka panjatkan telah dikabulkan oleh Allah.
"Tapi aku takut gagal," ucap Yudha mulai ragu.
"Kamu pasti tidak akan gagal," balas Ningsih sambil menyeka air matanya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya balik Yudha.
"Karena dari dulu kamu selalu berjuang dan berusaha untuk bangkit," sahut Ningsih yang seketika membuat Yudha tersenyum dan kembali percaya diri.
Malam itu Yudha sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kunci rumah itu masih berada di samping bantal. Sesekali ia mengambilnya, lalu meletakkannya kembali.
"Ayah, kalau Ayah masih hidup, apa Ayah bangga sama aku?"
Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara hujan mengenai atap seng panti.
Meskipun rumah di Lamongan telah resmi menjadi miliknya, Yudha tidak langsung pindah. Ia memutuskan untuk tetap berada di panti bersama Ningsih sampai lulus sekolah. Sejak saat itu, mereka menjalani tahun terakhir sekolah di kelas XII dengan penuh semangat. Mereka mulai belajar dengan giat agar dapat lulus ujian dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
***
Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Seluruh penghuni panti bersorak gembira ketika Yudha dan Ningsih dinyatakan lulus. Bu Ratmi bahkan terharu, kemudian memeluk Ningsih.
"Gadis kecil yang dulu suka membantu ibu di dapur sekarang sudah tumbuh dewasa," ucap Bu Ratmi.