Kepada Ningsih...
Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku telah menepati janjiku.
Maafkan aku karena selama bertahun-tahun memilih diam.
Bukan karena aku ingin menyembunyikan siapa dirimu.
Tetapi karena aku sedang berusaha menyelamatkan hidupmu.
Mungkin selama ini kau membenci orang-orang yang meninggalkanmu.
Namun, percayalah, tidak semua orang yang pergi adalah orang yang berhenti mencintai.
Ada yang terpaksa pergi agar orang yang dicintainya tetap hidup.
Aku mengenal perempuan yang melahirkanmu.
Ia bukan perempuan jahat seperti yang selama ini mungkin kau bayangkan.
Ia menangis ketika harus berpisah denganmu.
Bahkan sampai napas terakhirnya, namamu adalah nama yang paling sering ia sebut.
Selama ini kau hidup dengan keyakinan bahwa kedua orang tuamu telah meninggal.
Sebagian dari cerita itu memang benar.
Namun, ada satu kebenaran yang sengaja disembunyikan darimu.
Kau bukan anak yang dibuang karena tidak diinginkan.
Kau ditinggalkan karena seseorang ingin memastikan kau tidak mengalami nasib yang sama seperti ibumu.
Selama bertahun-tahun aku menyimpan sebuah rahasia.
Rahasia yang tidak boleh kuberitahukan sebelum waktunya tiba.
Kini aku sudah terlalu tua dan orang-orang yang dahulu mengejarmu sebagian besar telah tiada.
Karena itu sudah saatnya kau mengetahui siapa dirimu sebenarnya.
Jika setelah membaca surat ini kau masih ingin mengetahui kebenarannya, datanglah seorang diri.
Hari Jumat.
Pukul empat sore.
Panti Asuhan Harapan Ibu.
Surat itu mengubah segalanya. Ningsih membacanya berulang kali dengan tangan gemetar. Selama ini ia selalu percaya bahwa dirinya dibuang sejak bayi. Namun, isi surat itu justru mengatakan sebaliknya. Ibunya tidak pernah menginginkannya pergi. Ia melepaskannya agar tetap hidup.
Air mata Ningsih menetes.
"Mas... berarti Ibu tidak pernah membenciku?"
Yudha memeluk bahu istrinya.
"Mungkin selama ini kita hanya mengetahui sebagian dari cerita."
Meski begitu, satu kalimat dalam surat itu membuat keduanya gelisah.
Datanglah seorang diri ke Perpustakaan Tua Panti Asuhan Harapan Ibu. Di balik rak paling belakang, ada sesuatu yang kusimpan untukmu.
Yudha langsung menggeleng.
"Aku nggak akan membiarkan kamu pergi sendiri."
"Tapi suratnya jelas..."
"Aku nggak peduli. Kalau ini jebakan, aku tetap ikut."
Malam itu mereka hampir tidak tidur. Setelah anak-anak terlelap, Yudha menghubungi Pak Surya dan menceritakan isi surat tersebut. Di ujung telepon terdengar keheningan cukup lama sebelum Pak Surya akhirnya berbicara.
"Berarti... orang itu akhirnya muncul."
"Pak mengenalnya?"
"Aku tidak tahu siapa dia. Tapi orang yang menulis surat itu pasti mengenal masa lalu Ningsih."
Pak Surya kemudian mengungkap satu hal yang selama ini disimpannya.
"Malam ketika Ningsih ditemukan, bukan hanya liontin yang ada di dalam selimutnya. Ada secarik kertas, tetapi hampir seluruh tulisannya rusak terkena hujan. Yang masih bisa kubaca hanya dua kata."
"Tolong... lindungi..."
Kalimat itu membuat dada Ningsih sesak. Ia mulai percaya bahwa sejak awal memang ada seseorang yang diam-diam berusaha menyelamatkannya.
Hari Jumat tiba. Yudha dan Ningsih kembali ke Panti Asuhan Harapan Ibu, tempat yang pernah menjadi rumah mereka. Bangunan itu telah banyak berubah. Dindingnya lebih rapi, atapnya baru, tetapi aroma tanah basah dan perpustakaan kecil di sudut halaman masih menghidupkan kenangan masa kecil mereka.
Bu Lina dan Bu Ratmi langsung memeluk Ningsih dengan haru.
"Kamu akhirnya pulang."
Tak lama kemudian Pak Surya datang. Tatapannya langsung tertuju pada amplop yang dibawa Ningsih. Ia tahu hari yang selama ini ia khawatirkan akhirnya benar-benar tiba.
Tepat pukul empat sore mereka memasuki perpustakaan lama. Rak-rak baru memenuhi ruangan, tetapi satu rak kayu tua di sudut belakang tetap dibiarkan berdiri.
"Itu rak favoritmu dulu," kata Pak Surya.
Mereka menggeser rak tersebut perlahan. Di baliknya terdapat papan kayu yang tampak retak. Dengan napas tertahan, Pak Surya mencungkil papan itu menggunakan linggis kecil.