Ricky tidak pernah menyangka bahwa satu panggilan telepon dari ibunya akan membuat hidupnya berakhir malam itu.
Sore itu, ia masih berada di studio bersama manajernya ketika ponselnya berdering.
Ibu.
Ricky segera mengangkat.
“Halo, Bu?”
“Ricky, pulang ke Semarang malam ini.”
Ricky mengernyit. “Ada urusan apa? Kenapa mendadak sekali?”
“Kamu akan tahu setelah sampai rumah.”
“Tapi aku masih punya jadwal, bu.”
“Batalkan.”
Sambungan terputus.
Ricky menatap layar ponselnya dengan perasaan tidak enak. Ia sempat membuka percakapan dengan Yuni. Ada satu pesan yang belum ia balas.
Ricky, aku harus bicara sama kamu. Ini penting.
Ia mengetik cepat.
Aku pulang sebentar. Setelah itu kita bicara.
Ricky tidak tahu bahwa ia tidak akan pernah semudah itu kembali kepada Yuni.
Malam harinya, Ricky tiba di apartemennya. Namun, baru membuka pintu, ia langsung terpaku. Barang-barangnya sedang diangkut keluar. Gitar, amplifier, pakaian, buku, semuanya dimasukkan ke dalam kardus. Di depan pintu berdiri ayahnya.
“Ayah?”
“Bereskan semua barangmu.”
“Apa maksudnya?”
“Kita akan pulang ke Semarang.”
Ricky menatap ayahnya tidak percaya.
“Aku sudah punya kehidupan di sini, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Lalu kenapa semua barangku diangkut?”
Ayahnya menatapnya serius.
“Karena kalau hanya menyuruhmu pulang, kamu tidak akan menurut.”
Ricky mengepalkan tangan. “Aku tidak mau.”
“Ricky, ini keputusan ibumu.”
“Tapi, aku harus menemui Yuni.”
Ayahnya langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Dia penting buat aku, Yah.”
“Justru karena itu kamu tidak boleh menemuinya.”
Ricky terdiam. “Apa maksud Ayah?”
Ayahnya tidak menjawab.
Beberapa jam kemudian, apartemen itu kosong. Ricky terpaksa masuk ke mobil bersama ayahnya menuju Semarang. Sepanjang perjalanan, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan keluarganya?
Begitu tiba di rumah, Ricky melihat ibunya berdiri di ruang tengah. Di sampingnya terdapat sebuah koper. Ricky menunjuk koper itu.
“Koper siapa itu?”
“Untukmu.”
“Memang aku mau dibawa ke mana?”
Ajeng menatap anaknya.
“Di dalam koper itu ada pakaian untukmu. Besok kamu akan bertemu Clara.”
Ricky mengerutkan kening.
“Siapa itu, Clara?”
“Perempuan yang akan menjadi istrimu.”
Ricky terdiam. “Aku tidak mau menikah dengannya.”
“Ini bukan permintaan.”
“Tapi, aku mencintai Yuni, Bu.”
Wajah Ajeng berubah.
“Karena itu, kamu harus melupakan Yuni.”
Ricky menatap ibunya. “Kenapa?”
Ajeng tidak menjawab.
Malam itu, Ricky mencoba menghubungi Yuni. Namun, ponselnya sudah diambil.
“Bu, kembalikan.”
“Tidak.”
“Aku hanya ingin bicara.”
“Tidak dengan Yuni.”
“Kenapa?”
Ajeng membuka ponsel Ricky, lalu memblokir dan menghapus nomor Yuni.
Ricky membeku.
“Bu… jangan lakukan ini.”
Ajeng menyerahkan ponsel itu kepada teknisi keluarga.
“Ganti nomornya.”
“Tidak!”
Ricky berusaha merebutnya, tetapi ayahnya menahannya.
Beberapa menit kemudian, nomor lama Ricky sudah tidak aktif. Satu-satunya jalan menuju Yuni telah diputus. Ricky menatap ibunya dengan kecewa.
“Ibu sebenarnya takut apa?”
Pertanyaan itu membuat Ajeng terdiam.
Ricky melanjutkan,
“Kenapa Ibu begitu takut aku bersama Yuni?”
Ajeng menundukkan kepala. Air matanya mulai jatuh.
“Karena Yuni adalah anak Ningsih.”
Ricky terdiam. Nama itu terdengar asing, tetapi jelas memiliki arti besar bagi ibunya.
“Ningsih siapa?”
Ajeng menarik napas panjang.
“Perempuan yang pernah Ibu hancurkan hidupnya.”
Ricky tidak bergerak. Ajeng akhirnya menceritakan semuanya.
Bertahun-tahun lalu, sebelum menikah dengan John, Ajeng pernah menikah dengan seorang pria bernama Arya Diningrat. Dari pernikahan itu, muncul persoalan harta yang kemudian menyeret nama Ningsih. Arya memiliki hubungan terlarang dengan Ibu Ningsih. Setelah kematiannya, sebagian aset yang diharapkan Ajeng justru jatuh kepada Ningsih. Ajeng merasa dikhianati. Kebencian itu membuatnya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak pernah dilakukan.
“Apa yang Ibu lakukan?”
Ajeng menangis.
“Ibu berusaha mengambil semuanya dari Ningsih.”
“Termasuk nyawanya?”
Ajeng menutup wajahnya.
“Iya.”
Ricky mundur selangkah. Selama ini ia mengenal ibunya sebagai perempuan yang keras dan selalu melindunginya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang sama pernah berusaha menghancurkan kehidupan orang lain.
“Lalu sekarang?”
Ajeng menatap Ricky.
“Sekarang kamu mencintai anaknya.”
“Jadi itu alasan Ibu melarangku?”
“Kalau kamu menikahi Yuni, semuanya akan terbongkar.”
Ricky menggeleng. “Biarkan saja terbongkar.”
“Kamu tidak mengerti!”
Ajeng berdiri.
“Kalau keluarga Ningsih tahu siapa Ibu sebenarnya, semuanya akan hancur.”