Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #1

BAB 1 - LAUT

Angin laut lewat terus dari tadi. Tidak kencang, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang. Rasanya tipis di kulit, bawa bau asin yang samar, dan bikin permukaan air di depan bergerak pelan, naik turun kecil seperti napas yang teratur. Siang itu cerah banget, terlalu cerah malah, sampai langit sama laut warnanya hampir nyatu, bikin batasnya kelihatan kabur kalau dilihat lama-lama. Evan berdiri di pinggir pantai, kakinya sedikit masuk ke pasir basah yang tiap kali dia geser terasa ikut turun pelan, seolah nahan. Air datang menyentuh ujung jari kakinya, lalu mundur lagi, datang lagi, mundur lagi, dari tadi begitu, berulang tanpa berubah.

Di kejauhan, ibunya sama adiknya ada di air. Dari sini kelihatannya mereka lagi main, gerakannya santai, biasa aja, tidak ada yang aneh. Ibunya agak ke tengah, berenangnya tenang, seperti orang yang sudah terbiasa. Sesekali dia nengok ke arah pantai, ke arah Evan, seperti memastikan dia masih di situ. Adiknya lebih dekat ke permukaan, gerakannya lebih cepat, air keciprat tiap tangannya memukul permukaan dengan tidak sabar. Suaranya sampai ke pantai, terbawa angin, kadang jelas, kadang hilang.

“Van!”

Evan cuma angkat kepala sedikit. Tidak jawab. Dia tetap lihat ke arah mereka, matanya agak menyipit karena silau pantulan cahaya dari permukaan air. Ombaknya kecil, hampir tidak terasa dari sini. Semuanya kelihatan tenang. Harusnya tidak ada yang perlu dikhawatirin.

Ibunya ngangkat tangan, ngajak mendekat. Gerakan sederhana, tidak maksa, cuma seperti isyarat biasa. Evan tarik napas pelan. Udara terasa hangat di dadanya, tapi ada sesuatu yang tidak enak, tidak jelas asalnya dari mana. Bukan di tubuhnya, lebih ke kepalanya. Dia tidak tahu itu apa. Dia menunduk sebentar, lihat air yang kembali menyentuh kakinya. Dingin, tapi normal. Tidak ada yang salah.

“Mas, sini!”

Suara adiknya kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Atau mungkin memang dari tadi tidak sejauh yang dia kira. Evan angkat kepala lagi. Mereka masih di sana. Tidak berubah. Tidak ada tanda-tanda apa pun.

Akhirnya dia melangkah masuk.

Satu langkah, air naik sampai mata kaki. Langkah berikutnya, sampai betis. Pasir di bawah kakinya mulai terasa beda, tidak sepadat tadi, sedikit bergeser tiap diinjak, tapi masih cukup buat berdiri. Dia jalan pelan, tidak buru-buru, seperti tidak ada alasan untuk cepat. Dari depan, ibunya kembali nengok. Kali ini tidak melambaikan tangan, cuma lihat. Lama. Tidak jelas kenapa, tapi tatapan itu terasa beda.

Evan berhenti sebentar waktu air sudah sampai lututnya. Dari arah laut, ada suara lain yang lebih dalam, lebih berat, tapi tidak terlalu keras. Mungkin ombak yang lebih besar di kejauhan, tapi dari sini permukaan tetap kelihatan tenang. Dia mencoba melihat lebih jelas, tapi cahaya yang memantul bikin semuanya agak kabur.

“Mas, ayo!”

Adiknya terdengar seperti tertawa. Atau mungkin tidak. Evan tidak yakin. Dia melangkah lagi, dan air sekarang sampai paha. Dingin mulai terasa lebih dalam, bukan cuma di kulit, tapi seperti menahan gerakannya. Tidak sakit, tapi cukup bikin sadar kalau setiap langkah jadi sedikit lebih berat dari sebelumnya.

Dia sempat nengok ke belakang. Pantai masih ada di sana, kosong, cuma garis pasir dan air. Tidak ada yang berubah. Tapi entah kenapa rasanya jauh lebih sepi dari tadi.

Waktu dia kembali lihat ke depan, ibunya sama adiknya masih di tempat yang sama, tapi ada sesuatu yang terasa beda. Bukan soal jarak. Bukan karena mereka makin jauh atau makin dekat. Hanya saja… tidak sama seperti tadi.

“Ma…?” suara itu keluar pelan, hampir hilang sebelum benar-benar terdengar.

Ibunya tidak jawab. Tidak bergerak juga. Cuma diam, lihat ke arah Evan. Adiknya yang tadi bergerak aktif sekarang mulai melambat. Tangannya masih di permukaan air, tapi gerakannya tidak seirama lagi. Air di sekitar mereka mulai berubah, bukan jadi ombak besar, tapi permukaannya tidak setenang tadi, seperti ada sesuatu di bawah yang bergerak pelan.

Evan tarik napas lagi, kali ini lebih pendek. Udara terasa agak berat. Dia berdiri di tempat, air sekarang sampai pinggangnya, dan tekanan dari air mulai terasa lebih jelas, seperti menahan tubuhnya supaya tetap di situ.

“Van…”

Suara itu terdengar lagi. Ibunya. Tapi nadanya beda. Lebih rendah. Lebih berat. Mulutnya memang bergerak, tapi suara yang sampai ke Evan terasa tidak pas, seperti datang dari tempat lain.

Adiknya ikut memanggil, tapi sekarang tidak ada tawa di suaranya. Lebih cepat, lebih pendek, seperti terburu-buru.

Evan mulai merasa ada yang salah. Dia mencoba mundur sedikit, tapi kakinya seperti tidak benar-benar berpindah. Pasir di bawahnya terasa makin longgar, makin bergeser, seperti tidak lagi menahan.

Dia menunduk. Airnya tidak sejernih tadi. Lebih gelap. Lebih keruh. Dan ada bayangan yang bergerak di dalamnya, atau mungkin cuma efek cahaya. Dia langsung angkat kepala lagi.

“Van!”

Kali ini suara itu keras. Bukan lagi sekadar panggilan. Lebih seperti peringatan.

Ibunya mulai turun. Pelan. Bukan seperti orang yang kehilangan keseimbangan, tapi seperti pijakan di bawahnya hilang begitu saja. Tangannya terangkat ke depan, bukan melambai, tapi seperti mencoba meraih sesuatu yang tidak ada.

Adiknya berubah lebih dulu. Gerakannya jadi kacau. Air di sekitarnya berputar kecil, cukup untuk bikin tubuhnya kehilangan arah.

“Ma…?”

Evan maju tanpa sadar. Air langsung naik sampai dada. Dingin terasa lebih keras, bikin napasnya terpotong. Ibunya mencoba bicara, tapi suara yang sampai ke Evan putus-putus, seperti tertahan air.

“…Van… jangan…”

Adiknya tiba-tiba hilang dari permukaan. Benar-benar hilang. Satu detik ada, detik berikutnya cuma air yang bergerak.

Evan langsung bergerak lebih cepat, kakinya makin tidak stabil, pasir di bawahnya seperti runtuh. Air naik sampai bahu. Dia berusaha tetap melihat ke depan, mencari.

Adiknya muncul lagi, tapi posisinya berubah. Lebih jauh, atau mungkin lebih dalam. Tangannya bergerak cepat, tidak terarah, seperti mencoba naik tapi terus ditahan dari bawah.

“Van!”

Suara itu jelas sekarang. Dan ada rasa takut di dalamnya.

Evan tidak mikir lagi. Dia maju, air menutup sebagian wajahnya, asin masuk ke mulut dan hidung, bikin dia tersedak. Tangannya bergerak asal, yang penting maju.

Ibunya terlihat lebih dekat, tapi tubuhnya terus turun, perlahan, seperti ditarik sesuatu dari bawah. Tangannya masih ke arah Evan.

“…jangan…”

Lihat selengkapnya