Evan bangun dengan napas yang masih belum beres. Tidak sampai panik, tapi juga tidak normal. Pendek, agak tersendat, kayak tubuhnya belum sepenuhnya “balik” ke kondisi biasa. Matanya langsung kebuka, tidak pelan, tidak bertahap, lebih seperti ditarik keluar dari sesuatu yang terlalu dalam tanpa dikasih waktu buat menyesuaikan diri.
Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar. Putih. Diam. Tidak berubah. Tidak ada yang aneh.
Dia tidak langsung bangun. Tubuhnya masih terasa berat, bukan capek biasa, tapi lebih seperti ada sesuatu yang masih nempel dan belum sepenuhnya hilang. Dadanya terasa penuh, bukan sakit, tapi cukup buat bikin napasnya terasa tidak enak.
Dia tarik napas dalam. Terlalu dalam malah, sampai udara yang masuk terasa agak nyakitin di dada. Lalu dilepas pelan, tapi tetap kasar.
Evan nutup mata sebentar.
Gelap.
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada air. Tidak ada suara.
Cuma sunyi yang terlalu biasa.
Dia buka mata lagi. Masih langit-langit yang sama. Kamar yang sama. Semuanya kelihatan normal. Tidak ada yang berubah.
Tangannya naik ke dada, ngerasain detak jantungnya yang masih lebih cepat dari biasanya. Dia tidak berusaha nenangin. Cuma ngerasain aja. Beberapa detik. Atau mungkin lebih. Dia sendiri tidak yakin.
Akhirnya dia duduk. Gerakan sederhana, tapi di awal terasa berat. Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya nahan di kasur, seolah dia butuh memastikan kalau dia benar-benar ada di situ, bukan di tempat lain.
Kamarnya tidak besar. Rapi, tapi bukan karena rajin diberesin... lebih karena tidak banyak yang berubah dari dulu. Di samping tempat tidur ada meja kecil, lampu, gelas kosong, dan ponsel yang layarnya mati.
Evan sempat lihat ponselnya sebentar. Tidak ada notifikasi. Tidak ada apa-apa. Dia juga tidak langsung ngambil.
Dia berdiri. Langkah pertama agak goyah, tapi cepat balik normal. Kakinya nyentuh lantai yang dingin, dan itu cukup buat bikin dia sadar kalau dia benar-benar sudah bangun.
Dia jalan ke jendela. Tirainya setengah kebuka, cahaya pagi masuk tipis. Di luar, suara kota sudah mulai ada... kendaraan jauh, orang ngobrol samar, sesuatu jatuh entah di mana. Semua terdengar biasa.
Dia buka tirai lebih lebar. Cahaya masuk lebih banyak. Dia sedikit menyipit, lalu diam di situ. Tidak ada yang dia cari di luar. Tidak ada yang dia tunggu juga. Dia cuma lihat.
Beberapa detik.
Atau lebih.
Dia tarik napas lagi. Kali ini lebih stabil.
Tangannya naik ke wajah, ngusap pelan, lalu turun ke leher. Di situ dia berhenti. Basah.
Dia sentuh lagi.
Keringat.
Bukan air.
Evan tidak bereaksi banyak. Cuma narik tangannya lagi, lalu balik badan dan jalan ke kamar mandi.
Cermin di atas wastafel langsung nangkep bayangannya bahkan sebelum dia benar-benar fokus melihat. Dia berhenti sebentar. Bukan karena kaget. Lebih ke kebiasaan aja... lihat diri sendiri di pagi hari.
Rambutnya agak berantakan. Matanya sedikit merah. Tapi selain itu, tidak ada yang aneh.
Dia maju sedikit, lihat lebih dekat. Seolah lagi memastikan sesuatu. Atau mungkin nyari sesuatu.
Tidak ada.
Dia nyalain keran. Air ngalir jernih. Dia tampung pakai dua tangan, terus langsung basuh wajahnya. Dingin. Nyata.
Dia angkat kepala lagi. Air masih netes dari dagu dan rambutnya, sebagian masuk ke mata. Dia berkedip, lalu lihat ke cermin lagi.
Dan di situ... sebentar banget... ada rasa aneh.
Bukan karena wajahnya berubah.
Bukan juga karena ada yang beda secara jelas.
Cuma… tidak sama.
Sulit dijelasin.
Evan berkedip lagi.
Normal.
Cuma dia sendiri.
Dia tarik napas pendek, matiin keran, dan tidak berusaha mikirin lebih jauh. Handuk di samping dia ambil, ngelap wajah pelan. Gerakan biasa. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak terlalu diperhatiin.
Dari luar kamar, ada suara.
Pelan.
Langkah kaki. Berat. Teratur.
Lalu suara sesuatu diletakkan di meja.
Evan berhenti sebentar. Handuk masih di tangannya. Dia tidak langsung keluar. Cuma dengerin.
Tidak ada yang manggil.
Tidak ada suara yang nyebut namanya.