Jam makan siang datang tanpa benar-benar terasa. Suasana kantor berubah pelan, suara keyboard mulai berkurang, kursi-kursi ditarik mundur, beberapa orang berdiri sambil nengok ke kanan kiri, cari teman buat makan bareng. Obrolan kecil mulai muncul, ringan, tanpa arah yang jelas.
"Lunch?" terdengar dari salah satu meja.
"Gas."
Evan menutup laptopnya setengah, belum benar-benar selesai tapi cukup buat berhenti sebentar. Tangannya otomatis meraih ponsel. Layar menyala.
Kosong.
Masih sama.
Dia tidak menahan lama, langsung memasukkannya kembali ke saku.
"Van, ikut?"
Evan menoleh. Dua orang berdiri di dekat mejanya. Yang satu sudah siap dengan jaket di tangan, yang satu lagi kelihatan masih setengah ragu, tapi ikut nunggu jawaban.
Evan mikir sebentar.
"Ke mana?"
"Depan. Yang biasa."
Evan mengangguk.
"Boleh."
Dia berdiri, ambil dompet, lalu jalan bareng mereka keluar.
Lift lebih ramai dari pagi tadi. Orang berdiri lebih rapat, sebagian masih ngobrol santai, ada yang ketawa pelan. Evan berdiri di tengah, tidak banyak bicara. Sesekali senyum kalau ada yang nyenggol obrolan, tapi tidak benar-benar ikut masuk.
Dia ada di situ.
Tapi tidak menonjol.
Di luar gedung, udara siang terasa lebih hangat. Jalanan tetap bergerak, kendaraan lewat dengan ritme yang sama, orang-orang berjalan saling berlawanan arah tanpa saling peduli. Mereka menyeberang bareng, langkah santai, tidak terburu.
Tempat makan yang dituju tidak jauh. Warung modern, depan kaca besar, tidak terlalu penuh tapi juga tidak pernah kosong.
Mereka masuk, cari meja, duduk.
"Gue pesen dulu ya," kata salah satu.
Evan mengangguk.
"Titip?"
"Nasi ayam aja."
"Minum?"
"Air putih."
"Standar banget lo."
Evan senyum kecil.
"Yang aman."
Temannya ketawa ringan, lalu jalan ke kasir.
Meja jadi lebih tenang. Tinggal Evan dan satu orang lainnya. Beberapa detik tidak ada yang ngomong. Bukan canggung. Memang belum ada yang perlu dibahas.
"Lo tiap hari makan gini terus ya?" akhirnya temannya buka suara.
Evan angkat bahu.
"Kalau nggak kepikiran yang lain."
"Bosen nggak?"
"Belum."
Jawaban pendek. Biasa aja.
Temannya mengangguk.
"Makes sense."
Makanan datang satu per satu. Piring ditaruh, gelas disusun, suara sendok beradu pelan. Evan langsung makan, tanpa nunggu lama. Ritmenya santai. Tidak cepat, tidak lambat.
Obrolan mulai jalan sendiri. Topiknya ringan, kerjaan, klien, hal-hal kecil dari pagi tadi. Tidak ada yang terlalu serius. Tidak ada yang terlalu pribadi.
Evan ikut secukupnya.
Jawab kalau ditanya.
Nambah kalau perlu.
Tidak lebih.
"Eh, campaign minggu lalu itu gimana?" tanya salah satu.
"Lumayan," jawab Evan. "Engagement-nya naik."
"Client puas?"
"Sejauh ini iya."
"Berarti lanjut?"
Evan mengangguk.
"Harusnya."
Topik pindah lagi. Cepat. Tidak ada yang ditahan lama.
Di sela makan, Evan sempat lihat keluar. Jalan masih sama. Orang lewat, kendaraan lewat, tidak ada yang dia kenal. Tidak ada juga yang dia cari.
Cuma kebiasaan lihat.
Beberapa detik.