Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #4

BAB 4 - SIANG YANG BIASA

Lift terbuka pelan, hampir tanpa suara. Evan langsung melangkah keluar tanpa buru-buru, seperti tidak ada alasan untuk mempercepat langkah. Lorong kantor sudah hidup... beberapa orang baru datang sambil nenteng kopi, ada yang berdiri di dekat meja sambil ngobrol setengah serius, setengah bercanda. Suara keyboard mulai terdengar dari berbagai arah, tidak rapi, bercampur dengan suara kursi yang digeser dan percakapan kecil yang saling tumpang tindih.

"Pagi, Van."

Evan menoleh sedikit, cukup buat memastikan arah suara, lalu membalas dengan nada yang sama ringan.

"Pagi."

Senyumnya muncul sebentar, tidak dipaksakan, lalu hilang begitu saja saat ia kembali fokus ke langkahnya. Tas di pundaknya tidak terlihat berat, langkahnya stabil, ritmenya sama seperti hari-hari sebelumnya... terlalu terbiasa sampai tidak perlu dipikirkan lagi.

Mejanya ada di tengah ruangan, bukan di dekat jendela, bukan juga di pojok. Posisi yang… netral. Mudah dijangkau, tapi juga mudah dilewati. Ia meletakkan tas, menarik kursi sedikit ke belakang, lalu duduk tanpa suara berlebih. Laptop dibuka, layar menyala, dan seperti biasa… ada jeda kecil sebelum semuanya benar-benar mulai.

Evan mengambil ponselnya sebentar.

Kosong.

Tidak ada notifikasi baru.

Ia melihat beberapa detik, lalu langsung meletakkannya kembali tanpa ekspresi. Tidak ada yang perlu dicek. Tidak ada yang ditunggu juga.

Email pertama dibuka. Judulnya panjang, isinya jelas bukan sesuatu yang ringan. Evan membacanya cepat, matanya bergerak tanpa berhenti, langsung menangkap inti tanpa perlu mengulang. Tangannya mulai mengetik bahkan sebelum ia benar-benar selesai membaca.

Balasan disusun rapi. Singkat. Langsung ke poin. Send.

Langsung pindah ke email berikutnya.

Ritmenya kebentuk cepat, hampir otomatis. Seolah tubuhnya sudah tahu harus ngapain sebelum dia sempat mikir.

"Van."

Suara dari samping.

Evan masih mengetik.

"Hmm?" jawabnya tanpa melihat.

"Loe udah lihat draft KOL buat brand baru?"

Baru di situ tangannya berhenti. Satu ketikan terakhir, lalu ia menoleh.

"Yang skincare itu?"

"Iya."

Evan mengangguk kecil.

"Udah gue lihat semalam."

Ekspresi perempuan di depannya langsung berubah, jelas lebih lega.

"Serius? Gimana?"

Evan mikir sebentar. Bukan lama, tapi cukup buat nyusun jawabannya.

"Overall udah oke," katanya santai. "Cuma tone-nya masih campur."

"Campur gimana?"

"Kadang terlalu jualan, kadang santai. Belum konsisten aja."

Perempuan itu langsung mengangguk, seperti baru sadar.

"Iya juga…"

Evan lanjut, masih dengan nada yang sama.

"Tinggal dirapihin aja. Tidak perlu dirombak."

"Serius gak usah?"

"Nggak."

Jawabannya cepat. Pasti.

Perempuan itu langsung senyum.

"Thank God."

Evan ikut senyum sedikit.

"Nanti gue kirimin catatan gue."

"Boleh. Makasih, Van."

"Iya."

Perempuan itu masih berdiri sebentar, seperti masih kepikiran sesuatu.

"Eh, loe baca secepat itu ya?"

Evan cuma angkat bahu.

"Udah biasa."

Perempuan itu ketawa kecil.

"Gw baru buka aja udah pusing duluan."

"Makanya dibaca pelan."

"Iya, iya…"

Dia akhirnya pergi.

Evan balik ke layar tanpa jeda. Tangannya langsung jalan lagi, buka file yang tadi dibahas, mulai kasih catatan satu per satu. Tidak ada yang macet. Semua terasa jelas.

Beberapa menit kemudian, ada yang lewat di belakangnya.

"Van, nanti siang free?"

Evan tidak benar-benar melihat siapa, cuma menoleh sedikit.

Lihat selengkapnya