Suara itu datang lebih dulu sebelum kesadaran benar-benar utuh.
Pelan.
Seperti dari ruangan lain.
Atau... dari waktu yang berbeda.
"Airnya jangan terlalu lama, nanti dingin."
Suara seorang wanita.
Lembut.
Tidak tinggi, tapi jelas.
Ada jeda sebentar.
Lalu suara lain menjawab.
"Sebentar lagi."
Lebih berat.
Tenang.
Familiar.
Suara gelas diletakkan di meja.
Sendok beradu pelan.
"Evan belum bangun?" tanya suara wanita itu lagi.
"Belum," jawab yang lain.
"Biasanya jam segini udah bangun."
"Libur, mungkin."
Ada nada kecil di akhir kalimat itu.
Seperti senyum yang tidak terlihat.
Evan masih terbaring.
Matanya belum terbuka.
Tubuhnya berat.
Seperti ditahan di antara tidur dan bangun.
Tapi telinganya menangkap semuanya.
Jelas.
Terlalu jelas.
"Bangunin aja," kata suara wanita itu.
"Biar sarapan dulu."
"Biarin sebentar," jawab suara pria. "Jarang-jarang dia santai."
Suara kursi bergeser.
Langkah kaki.
Pelan.
Berpindah.
Lalu suara lain muncul.
Lebih ringan.
Lebih cepat.
"Biar aku aja!"
Nada itu cerah.
Hampir seperti tawa.
Langkah kecil berlari.
Mendekat.
"Mas Evan belum bangun?"
Evan merasa tubuhnya ingin bergerak.
Bangun.
Membuka mata.
Menjawab.
Tapi ia tidak melakukannya.
Atau tidak bisa.
Sulit dibedakan.
Langkah itu semakin dekat.
Lebih cepat.
Lebih ringan.
Seperti terbiasa.
Seperti sudah sering dilakukan.
"Mas..."
Suara itu terdengar sangat dekat... di balik pintu.
Tepat sebelum pintu terbuka.
Atau... sebelum sesuatu yang lain terjadi.
Sunyi.
Tiba-tiba.
Seperti suara itu tidak pernah ada.
Evan membuka mata.
Langit-langit.
Putih.
Sama seperti kemarin.
Sama seperti sebelumnya.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia tidak langsung bergerak.
Hanya menatap.
Beberapa detik.
Atau lebih.
Dada terasa berbeda.
Tidak berat.
Tapi... merasa penuh.
Seperti ada sesuatu yang tertinggal.
Tanpa bentuk.
Tanpa kata.
Evan menarik napas.
Pelan.
Lalu menghembuskannya.
Lebih lama.
Matanya berkedip sekali.
Dua kali.
Dan tanpa ia sadari... air itu sudah ada.
Tipis.
Mengalir dari sudut matanya.
Turun pelan ke sisi wajah.
Evan mengangkat tangan.
Menyentuh.
Basah.
Ia berhenti.
Sejenak.
Melihat ujung jarinya.
Tidak ada reaksi besar.
Tidak panik.
Tidak bingung.
Hanya... diam.
Beberapa detik berlalu.
Ia mengusap wajahnya sekali.
Cepat.