Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #5

BAB 5 - PAGI YANG TERASA DEKAT

Suara itu datang duluan sebelum Evan benar-benar sadar kalau dia sudah bangun. Pelan, seperti dari ruangan lain, atau mungkin dari sesuatu yang lebih jauh dari itu. Tidak jelas asalnya dari mana, tapi terdengar cukup nyata untuk ditangkap.

"Airnya jangan terlalu lama, nanti dingin."

Suara perempuan. Lembut, biasa aja, tapi terasa dekat. Ada jeda sebentar, lalu suara lain menjawab.

"Sebentar lagi."

Lebih berat. Tenang. Dan entah kenapa… familiar.

Evan masih terbaring. Matanya belum terbuka, tapi telinganya menangkap semuanya dengan jelas. Terlalu jelas untuk sesuatu yang seharusnya cuma sisa mimpi.

Terdengar suara gelas diletakkan di meja. Sendok beradu pelan.

"Evan belum bangun?" tanya suara perempuan itu lagi.

"Belum," jawab yang lain.

"Biasanya jam segini udah bangun."

"Libur, mungkin."

Nada di akhir kalimat itu ringan, hampir seperti senyum kecil yang tidak terlihat.

Tubuh Evan terasa berat, seperti masih setengah tertahan di antara tidur dan bangun. Dia sadar, tapi belum sepenuhnya bisa bergerak. Aneh, tapi bukan pertama kali.

"Bangunin aja," kata suara perempuan itu lagi. "Biar sarapan dulu."

"Biarin sebentar," jawab suara pria. "Jarang-jarang dia santai."

Ada suara kursi digeser, langkah kaki pelan berpindah. Lalu muncul suara lain. Lebih ringan. Lebih cepat. Lebih hidup.

"Biar aku aja!"

Langkah kecil berlari, mendekat.

"Mas Evan belum bangun?"

Di titik itu, Evan merasa tubuhnya harusnya bisa bergerak. Harusnya dia bisa buka mata, duduk, atau sekadar jawab. Tapi dia tidak melakukannya. Atau… tidak bisa.

Langkah itu makin dekat. Cepat. Ringan. Seperti sudah sering dilakukan. Seperti bukan hal baru.

"Mas…"

Suara itu berhenti tepat di dekat pintu. Dekat banget.

Dan sebelum sesuatu terjadi, seperti terbangun dari tidur yang sangat lelap,

semuanya hilang.

Sunyi.

Seolah tadi tidak pernah ada apa-apa.

Evan membuka mata.

Langit-langit kamar. Putih. Sama seperti kemarin. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada suara, tidak ada langkah kaki, tidak ada siapa-siapa di luar pintu.

Dia tetap diam beberapa detik, masih menatap ke atas. Dadanya terasa beda. Tidak berat, tapi juga tidak ringan. Lebih ke… penuh, tapi tidak jelas apa isinya.

Dia tarik napas pelan, lalu buang lebih lama.

Baru beberapa detik kemudian dia sadar, matanya sudah basah.

Air tipis itu mengalir dari sudut matanya ke samping wajah. Pelan. Tidak dramatis. Tidak tiba-tiba. Tapi sudah ada di sana.

Evan mengangkat tangan, menyentuh wajahnya.

Basah.

Lihat selengkapnya