Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #6

BAB 6 - SESUATU YANG TERTINGGAL

Pagi datang seperti biasa. Tidak ada yang kelihatan beda dari luar. Cahaya masuk dari sela tirai, tipis, jatuh ke lantai dan sebagian dinding. Udara masih agak dingin, belum sepenuhnya hangat.

Evan sudah bangun. Bahkan lebih cepat dari biasanya, padahal ini bukan hari yang perlu buru-buru. Tidak ada alarm. Tubuhnya seperti sudah hafal sendiri kapan harus bangun.

Dia duduk di tepi tempat tidur, punggung sedikit membungkuk, tangan bertumpu di lutut. Matanya belum sepenuhnya fokus, masih di antara sisa tidur dan sadar penuh. Kamar terasa sunyi. Tidak ada suara dari luar. Tidak ada langkah kaki, tidak ada percakapan.

Lalu suara itu muncul.

"Mas…"

Pelan banget. Hampir seperti bisikan yang tidak mau ganggu.

Evan tidak langsung bergerak. Tatapannya tetap ke depan, kosong, seperti belum memproses apa yang dia dengar.

"Mas kok ninggalin kami?"

Nadanya datar. Tidak marah. Tidak menuduh. Lebih ke… bertanya. Seolah memang butuh jawaban.

Evan menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Matanya sempat terpejam sebentar, lalu dibuka lagi.

Kamar tetap sama. Sepi. Tidak ada siapa-siapa.

Tangannya naik ke wajah, mengusap pelan, seperti menghapus sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

"Cuma kebawa mimpi," gumamnya pelan.

Kalimat yang sama. Penjelasan yang sama.

Dia berdiri, langsung jalan ke kamar mandi. Air dinyalakan, wajah dibasuh. Dingin, cukup buat bikin dia benar-benar sadar. Di cermin, wajahnya kelihatan biasa aja. Tidak ada yang berubah. Tidak ada tanda kalau barusan dia dengar sesuatu.

Evan menatap dirinya beberapa detik, lalu menunduk sedikit. Tidak dilanjutkan. Tidak dipikirin.

Rutinitas jalan seperti biasa. Cepat, rapi, tanpa perlu banyak mikir. Baju kerja dipakai, jam tangan diambil, dompet dimasukin ke tas. Semua seperti sudah otomatis.

Begitu keluar kamar, aroma kopi sudah ada. Sama seperti hari-hari lain.

Ayahnya duduk di meja makan, posisi yang sama seperti biasanya. Cangkir di tangan, uap tipis masih naik.

Evan tarik kursi, duduk di seberang.

"Berangkat?" tanya ayahnya.

"Iya."

"Jam biasa?"

"Iya."

Selesai. Tidak ada tambahan.

Evan menyesap kopi. Hangat, pahit, rasanya sama seperti kemarin. Tidak berubah.

Matanya sempat turun ke meja. Garis kayu. Goresan kecil yang itu lagi. Kali ini dia tidak menyentuhnya. Cuma lihat sebentar.

"Van."

Evan angkat kepala.

Ayahnya lagi lihat dia. Tidak lama.

"Kalau capek jangan dipaksain."

Lihat selengkapnya