Pukul sepuluh pagi, kantor sudah benar-benar hidup. Suara keyboard saling bertumpuk tanpa pola, notifikasi masuk silih berganti, dan percakapan kecil muncul dari berbagai sudut ruangan, kadang jelas, kadang cuma jadi latar yang lewat begitu saja. Semua orang sudah masuk ke ritmenya masing-masing, termasuk Evan.
Evan duduk di tempatnya seperti biasa, layar laptop terbuka dengan beberapa tab aktif sekaligus. Spreadsheet di satu sisi, email di sisi lain, chat internal terus bergerak, dan satu aplikasi pesan yang hampir tidak pernah benar-benar sepi. Tangannya bergerak tanpa ragu, berpindah dari satu hal ke hal lain seolah semuanya sudah punya jalurnya sendiri.
Notifikasi masuk lagi. Dari KOL. Perempuan.
Evan melirik sekilas, membaca cepat tanpa mengubah ekspresinya.
"Van, aku mau tanya soal brief kemarin..."
Ia langsung mengetik.
“Iya, Kak. Bagian mana yang mau dicek?”
Balasan datang cepat, seperti memang sudah ditunggu. Percakapan langsung jalan. Tidak berputar-putar, tidak ada jeda yang terlalu lama. Evan membalas dengan ritme yang sama seperti biasanya, cepat, tapi tidak terburu-buru. Ia tahu kapan harus menjawab langsung, kapan harus memberi jeda sebentar supaya lawan bicara bisa ikut mengikuti alur.
Beberapa menit kemudian, masalahnya selesai.
"Thank you ya, Van. Kebantu banget."
Evan membaca, lalu membalas singkat.
“Sama-sama, Kak.”
Selesai. Tidak diperpanjang. Tidak dibuat lebih hangat dari yang perlu. Tapi tetap cukup supaya orang di sana merasa dihargai.
“Van.”
Evan menoleh sedikit. Salah satu rekan kerja berdiri di samping mejanya, membawa laptop dengan ekspresi setengah butuh bantuan, setengah berharap tidak terlalu merepotkan.
“Ada yang nanya soal campaign minggu depan. Lo yang handle, kan?”
“Iya.”
“Dia agak bingung sama timeline-nya.”
Evan mengangguk kecil. “Forward ke gue aja.”
“Udah gue kirim.”
Notifikasi masuk lagi. Nama baru. Perempuan.
Evan membuka chat itu, membaca cepat, lalu tanpa banyak pikir langsung menekan tombol panggil. Beberapa orang di sekitar sempat melirik, bukan karena aneh, tapi karena itu sudah jadi kebiasaannya.
“Iya, halo. Aku Evan dari tim agency.”
Nada suaranya berubah sedikit. Lebih hidup, lebih ringan, tapi tetap rapi.
“Iya, Kak. Aku jelasin ya biar lebih clear.”
Ia berdiri dari kursinya, berjalan beberapa langkah menjauh dari meja, mencari ruang yang sedikit lebih tenang. Tidak benar-benar jauh, tapi cukup supaya suaranya tidak bercampur dengan yang lain.
“Jadi untuk minggu depan, kita mulai dari soft launch dulu. Nanti kontennya tetap sesuai gaya Kakak, kita nggak mau terlalu diubah.”
Cara dia bicara selalu terstruktur. Tidak terlalu cepat, tidak bertele-tele, dan selalu memberi ruang untuk lawan bicara ikut masuk. Ia berhenti di beberapa titik, mendengarkan, lalu melanjutkan lagi.
“Iya, benar. Jadi nggak usah khawatir. Kita jaga supaya tetap nyaman buat Kakak.”
Kalimat seperti itu bukan kebetulan. Evan tahu itu yang dibutuhkan.
Beberapa menit kemudian, panggilan selesai.
“Siap, Kak. Nanti aku kirim recap-nya ya.”
Ia kembali ke meja, duduk, lalu langsung mengetik ringkasan tanpa ditunda. Tidak ada jeda untuk berpikir ulang. Semua sudah jelas di kepalanya.
Di sekitarnya, suasana tetap bergerak seperti biasa. Ada yang masih fokus, ada yang mulai santai, ada yang setengah ngobrol sambil kerja.
“Van, lo kalau handle orang, kok mereka selalu nurut sih?” tanya salah satu rekan sambil setengah tertawa.
Evan tidak langsung menjawab. Matanya masih ke layar, tangannya tetap mengetik.