Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #8

BAB 8 - ORANG YANG SELALU ADA

Pagi di kantor berjalan seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang berubah. Notifikasi masuk satu per satu, percakapan kecil mulai terdengar di berbagai sudut, dan pekerjaan pelan-pelan mengisi ruang sejak orang-orang mulai duduk di tempatnya masing-masing. Ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Evan sudah ada di mejanya lebih dulu dari beberapa orang lain. Laptopnya sudah menyala, beberapa tab sudah terbuka, dan tanpa perlu banyak persiapan, ia langsung masuk ke alur kerja. Tidak ada momen khusus untuk "mulai". Semuanya langsung jalan.

"Van."

Ia menoleh. Salah satu rekan mendekat, wajahnya sedikit tegang, seperti sedang menahan sesuatu yang harus cepat diselesaikan.

"Bisa bantu bentar?"

Evan langsung mengangguk. "Apa?"

"Ini klien agak panik. Kontennya mau tayang hari ini, tapi ada yang berubah last minute."

Evan berdiri tanpa banyak tanya. "Mana?"

Ia melihat layar yang ditunjukkan, membaca cepat, dan dalam beberapa detik saja sudah menangkap situasinya.

"Udah di-approve sebelumnya?"

"Udah."

"Yang berubah apa?"

"Tone-nya katanya terlalu ‘jualan’."

Evan mengangguk kecil. "Oke, gue handle."

Ia langsung duduk di kursi itu, mengambil alih tanpa terlihat ragu. Chat dibuka, jari-jarinya langsung mengetik.

"Iya, Kak. Aku lihat ya. Kita bisa adjust dikit biar lebih natural, nggak terlalu hard sell."

Balasan datang cepat, hampir seperti memang sudah ditunggu.

"Please ya, Van. Aku takut hasilnya jadi jelek."

Evan membaca kalimat itu. Berhenti sebentar.

Nada seperti itu bukan hal baru. Ia sudah sering menemui. Dari banyak orang. Dengan bentuk yang beda, tapi rasa yang sama.

Ia mengetik lagi.

"Tenang aja, Kak. Kita cari yang paling aman. Nggak akan ngerusak konsep awal kok."

Kalimat itu keluar dengan mudah. Hampir otomatis.

Beberapa menit berikutnya diisi dengan revisi kecil, diskusi singkat, dan penyesuaian yang tidak berlebihan. Evan tidak mengubah semuanya. Ia hanya menyentuh bagian yang memang perlu, menjaga supaya tetap sesuai dengan arah awal.

"Coba yang ini ya, Kak."

Ia kirim.

Menunggu.

Tidak lama.

"Ini jauh lebih enak. Thank you banget, Van. Aku jadi lega."

Evan tidak langsung membalas.

Matanya tertahan di kalimat itu. Aku jadi lega.

Tangannya diam di atas keyboard. Tidak bergerak beberapa detik.

Di sekitarnya, kantor tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang berubah.

"Van?"

Suara rekan di sampingnya menariknya kembali.

"Iya."

"Udah aman?"

Evan mengangguk. "Aman."

Ia berdiri, kembali ke mejanya, duduk, dan menatap layar lagi. Notifikasi lain sudah masuk. Beberapa chat baru, beberapa pekerjaan lain menunggu. Semuanya normal. Semuanya seperti biasa.

Tapi kalimat tadi… tidak ikut hilang.

Aku jadi lega.

Evan menarik napas pelan. Lalu tangannya mulai bergerak lagi, membalas chat lain, melanjutkan pekerjaan seolah tidak ada yang tertahan.

Lihat selengkapnya