Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #9

BAB 9 - APA YANG HARUS DILAKUKAN

Hari itu dimulai seperti biasa, setidaknya dari luar kelihatannya begitu. Evan datang tepat waktu, langkahnya sama seperti hari-hari sebelumnya, masuk ke ruangan yang sudah terlalu ia kenal tanpa perlu melihat sekeliling terlalu lama, lalu duduk di kursinya, kursi yang posisinya tidak pernah berubah. Laptop dibuka, layar menyala, dan semua langsung berjalan tanpa jeda, email, chat, spreadsheet, semuanya masuk bergantian seperti sudah tahu giliran masing-masing. Tidak ada yang benar-benar baru. Tidak ada yang perlu dipikirkan dua kali. Semua terasa otomatis, seperti tubuhnya sudah hafal urutannya tanpa perlu instruksi lagi.

Notifikasi pertama masuk.

“Van, makasih ya kemarin. Aku jadi lebih tenang sekarang.”

Evan membaca sekilas, tidak berhenti lama, lalu langsung mengetik balasan.

“Sama-sama, Kak.”

Singkat. Selesai. Ia langsung pindah ke yang lain, membuka email, membaca cepat, membalas seperlunya, lalu berpindah lagi ke file berikutnya. Ritmenya cepat, rapi, dan tidak ada yang tertinggal. Semua terasa efisien, seperti mesin yang bekerja tanpa hambatan.

“Van.”

Ia menoleh, tidak terlihat terganggu.

“Iya?”

“Bisa bantu ini bentar? gw takut salah kirim.”

Evan langsung berdiri, tidak banyak tanya. “Mana?”

Ia melihat layar, membaca beberapa detik saja, cukup untuk mengerti konteksnya, lalu mengangguk kecil. “Ini aman.”

“Serius?”

“Iya.”

Temannya langsung terlihat lebih santai, bahunya turun sedikit seperti beban yang barusan dilepas. “Oke... gw kirim ya.”

Evan hanya mengangguk. “Ya.”

“Thanks, Van. Jadi lega.”

Kata itu lagi.

Evan diam, sangat singkat, hampir tidak terlihat, lalu menjawab dengan nada yang tetap datar, tetap normal. “Memang sudah seharusnya.”

Temannya tidak menangkap apa-apa yang aneh. Hanya mengangguk, setuju tanpa berpikir jauh. “Ya sih... kerjaan kita juga.”

Evan tidak menanggapi lagi. Ia sudah kembali ke mejanya, duduk, dan tangannya berhenti sebentar di atas keyboard sebelum akhirnya bergerak lagi.

Memang sudah seharusnya.

Kalimat itu tidak hilang.

Ia tetap di sana.

Evan mulai mengetik lagi, lebih cepat dari sebelumnya, seperti ingin mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Chat lain masuk, nada yang hampir sama, pola yang sama.

“Van, aku takut hasilnya gak sesuai.”

“Iya, Kak. Kita pastikan bareng ya. Biar aman.”

Kirim.

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

“Kalau kamu yang pegang, aku lebih lega.”

Evan menatap layar.

Lebih lama dari biasanya.

Tangannya turun pelan dari keyboard, tidak langsung kembali mengetik, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk bergerak terlalu cepat. Ia menarik napas, pelan, lalu menghembuskannya.

“Ini memang tugas gue,” gumamnya pelan.

Hampir tidak terdengar.

Ia menegakkan badan, menarik napas lagi, lebih dalam, lalu kembali bekerja seperti tidak ada yang terjadi.

Dari luar, semuanya tetap sama. Evan tetap Evan yang biasa: cepat, tanggap, tidak pernah kelihatan bingung, selalu tahu harus mulai dari mana. Tapi di dalam, ada sesuatu yang mulai berubah bentuk, pelan, hampir tidak terasa kalau tidak diperhatikan.

Setiap kata itu muncul:

tenang

lega

aman

tertolong

Semuanya tidak lagi terdengar seperti ucapan biasa. Lebih seperti pengingat. Seperti sesuatu yang terus diulang sampai akhirnya tidak bisa diabaikan lagi.

Bahwa ini memang bagiannya.

Bahwa ini yang harus ia lakukan.

Bahwa kalau ia tidak melakukannya… akan ada yang salah.

Menjelang siang, ritme kerja makin padat. Permintaan datang hampir bersamaan, suara dari berbagai arah mulai saling tumpang tindih, dan beberapa orang mulai bergantung pada satu titik yang sama:

Lihat selengkapnya