Hari itu berjalan lebih padat dari biasanya, meskipun sebenarnya jumlah pekerjaannya tidak jauh berbeda. Yang berubah bukan beban kerjanya, tapi cara Evan menjalaninya. Sejak pagi, ritmenya sudah terlalu rapat, seperti ia sengaja tidak memberi ruang kosong sedikit pun di antara satu urusan dan urusan berikutnya. Satu masalah selesai, langsung pindah ke yang lain. Tidak ada jeda untuk benar-benar berhenti. Tidak ada napas panjang. Tidak ada waktu untuk sekadar membiarkan pikirannya diam.
“Van, ini udah oke belum?”
Evan melihat sekilas.
“Oke. Kirim aja.”
“Van, aku masih ragu...”
“Kirim ke aku. Aku cek.”
“Van, ini urgent.”
“Iya, aku handle.”
Semuanya dijawab cepat. Tidak ada keraguan. Tidak ada penolakan. Seolah setiap permintaan yang datang memang sudah seharusnya berhenti di dia dulu sebelum bergerak lebih jauh.
Dan entah sejak kapan, tanpa benar-benar ia sadari, ada satu jenis kalimat yang mulai lebih sering keluar dari mulutnya.
“Kalau butuh bantuan, langsung bilang aja ke aku.”
Awalnya terdengar biasa.
Lalu terulang lagi.
“Kalau bingung, chat aja.”
Kemudian jadi semakin natural.
“Kalau ada apa-apa, bilang ke aku.”
Dan lama-lama...
“Kalau butuh pertolongan, bilang aja ke aku.”
Nada suaranya tetap sama seperti biasanya, tenang, stabil, tidak terdengar berlebihan. Tapi ada sesuatu yang bergeser di balik kalimat-kalimat itu. Seolah bukan sekadar menawarkan bantuan, melainkan memastikan bahwa tidak ada satu pun masalah yang dibiarkan tanpa pegangan. Seolah ia sedang berjaga terhadap sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami.
Siang harinya, salah satu KOL menelepon.
Nada suaranya terdengar panik.
“Van, aku takut hasilnya jelek. Aku beneran butuh ini jalan.”
Evan mendengarkan penuh, tidak memotong, tidak terburu-buru menenangkan. Ia memberi ruang dulu, seperti biasa, membiarkan lawan bicaranya merasa didengar sebelum memberi solusi.
“Iya, aku ngerti,” jawabnya pelan.
“Kita perbaiki bareng. Nggak usah khawatir.”
Ia berdiri dari kursinya, berjalan sedikit menjauh dari meja, mencari sudut yang lebih tenang sementara suara kantor perlahan memudar di belakangnya.
“Kalau nanti masih ragu...” katanya.
Ia berhenti sebentar.
“Kamu hubungi aku aja.”
Jeda kecil.
“Jam berapa pun.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa rencana.
Tanpa pertimbangan.
Di ujung sana, suara panik itu langsung melunak. “Serius?”
Evan mengangguk kecil, meskipun jelas tidak terlihat.
“Iya.”
Panggilan selesai.
Dan setelah telepon ditutup, Evan tidak langsung bergerak.
Ia berdiri di tempat yang sama beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Jam berapa pun.
Kalimat itu berputar pelan di kepalanya.
Tangannya turun perlahan ke samping tubuh.
Ada sesuatu yang terasa bergeser.
Bukan salah.