Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #11

BAB 11 - TEMPAT YANG AMAN

Malam itu ternyata nggak benar-benar berhenti waktu Evan sampai rumah. Yang pulang cuma badannya. Kepalanya masih seperti tertinggal di jalan, berdiri di bawah lampu kota, dengan layar ponsel menyala di tangan dan tiga pesan yang belum juga ia jawab. Kamarnya tetap sama seperti biasanya, rapi, tenang, nyaris terlalu tenang. Lampu redup. Dinding pucat. Udara diam. Tapi isi kepalanya terasa jauh lebih ramai dibanding seluruh kantor tadi siang.

Evan duduk di tepi tempat tidur, sedikit membungkuk, ponsel masih tergenggam di tangan kanan. Layarnya terus menyala, menampilkan pesan yang sama. Belum dibuka. Belum disentuh. Hanya dilihat seperti sesuatu yang beratnya lebih besar dari seharusnya.

Ini nggak harus sekarang.

Kalimat itu muncul lagi.

Pelan.

Masuk akal.

Normal.

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan, seolah sedang mencoba membuang sesuatu yang menempel di dalam dada.

Besok juga bisa.

Iya.

Harusnya begitu.

Tapi pikiran lain muncul nyaris tanpa jeda.

Kalau dia butuh sekarang?

Evan membuka mata. Menatap layar lagi. Rahangnya sedikit mengeras. Jempolnya bergerak pelan, kali ini tanpa berhenti di tengah. Pesan itu akhirnya terbuka.

“Van, maaf ganggu. Aku boleh nanya bentar?”

“Ini penting. Aku agak bingung.”

“Kalau kamu lagi sibuk, nggak apa-apa. Aku cuma... butuh arahan.”

Ia membaca semuanya perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak melompat. Seolah setiap kata perlu diterima utuh sebelum ia memutuskan jadi siapa dalam percakapan itu, rekan kerja, penolong, atau sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa definisikan.

Lalu ia mengetik.

“Iya, Kak. Nggak apa-apa. Ada apa?”

Kirim.

Cepat.

Nyaris otomatis.

Dan seperti kebanyakan orang yang memang hanya menunggu satu celah untuk merasa aman, balasannya datang segera.

“Thanks banget, Van. Aku lagi kepikiran banget soal kerjaan... tapi kayaknya bukan cuma itu.”

Evan diam sebentar.

Bukan cuma itu.

Kalimat itu membuat tubuhnya sedikit bersandar ke dinding, seperti tanpa sadar ia sedang menyiapkan ruang yang lebih panjang.

“Ceritain aja.”

Dan sejak saat itu, percakapannya berhenti jadi sekadar urusan kerja.

Awalnya masih soal deadline. Soal revisi. Soal tekanan brand. Hal-hal yang familiar. Hal-hal yang mudah. Tapi pelan-pelan, seperti air yang merembes masuk dari celah paling kecil, arah pembicaraan bergeser.

“Aku ngerasa nggak cukup.”

“Aku takut ngecewain orang.”

“Aku capek harus selalu keliatan baik-baik aja.”

Evan membaca semuanya tanpa menyela. Matanya bergerak perlahan dari satu baris ke baris berikutnya. Tangannya sempat mengetik cepat, lalu berhenti. Menghapus. Menulis ulang.

“Iya... wajar kok ngerasa kayak gitu.”

Ia berhenti lagi.

Tidak ingin terdengar terlalu kosong.

Tidak ingin terlalu dalam.

“Kadang kita cuma butuh waktu buat napas.”

Kirim.

Jawaban itu sederhana. Tapi cukup.

Karena balasan berikutnya datang lebih lambat. Lebih berat. Lebih jujur.

“Makasi ya, Van. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi.”

Dan entah kenapa, justru kalimat itulah yang membuat Evan paling lama diam.

Bukan karena asing.

Justru karena terlalu familiar.

Ia tahu posisi itu.

Tempat di mana seseorang menaruh beratnya, berharap tidak dijatuhkan.

Tempat aman.

Tangannya turun perlahan, tapi ponselnya tidak ia lepaskan.

Lihat selengkapnya