Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #12

BAB 12 - RASA YANG MENULAR

Pagi datang seperti biasanya, tanpa pengumuman, tanpa perubahan besar, tanpa sesuatu yang cukup penting untuk langsung terasa berbeda. Alarm berbunyi di jam yang sama. Evan bangun bahkan sebelum pikirannya benar-benar aktif, seolah tubuhnya sudah hafal urutan hidupnya sendiri tanpa perlu menunggu persetujuan dari kepala. Tangan meraih ponsel. Alarm dimatikan. Kaki turun ke lantai. Kamar mandi. Air dingin. Cermin. Baju kerja. Semua berjalan nyaris seperti mesin yang sudah terlalu sering dipakai untuk mempertanyakan arah.

Ia tidak benar-benar memikirkan malam sebelumnya.

Tidak juga mencoba melupakannya.

Percakapan-percakapan itu sudah bergeser ke belakang, tidak hilang, hanya merendah seperti gema yang masih tersisa di ruangan kosong setelah suara utamanya berhenti. Yang tertinggal justru bukan isi obrolannya. Bukan keluhan. Bukan rasa takut orang-orang itu.

Yang tersisa adalah hasilnya.

Leganya mereka.

Tenangnya mereka.

Dan entah kenapa, rasa itu seperti menempel tipis di dirinya.

Bukan kebahagiaan.

Bukan kepuasan.

Lebih seperti stabilitas kecil.

Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang akhirnya menemukan fungsi.

Perjalanan ke kantor berjalan biasa. Jalanan sama. Lampu merah sama. Gedung-gedung yang dilewati masih terasa seperti latar yang tidak benar-benar ia lihat. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di dalam dirinya, bukan perubahan besar, hanya semacam ritme baru yang lebih pasti.

Kantor menyambutnya dengan suara-suara yang sudah terlalu akrab.

Keyboard.

Kursi bergeser.

Sapaan setengah sadar.

“Van, pagi.”

“Pagi.”

“Van, yang kemarin makasih banget ya.”

Evan menoleh sebentar. Salah satu rekan kerja tersenyum ke arahnya, ekspresinya jauh lebih ringan dibanding hari sebelumnya.

“Udah aman sekarang?” tanya Evan.

“Udah. Gue jadi nggak kepikiran lagi.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup.

Evan mengangguk kecil.

“Bagus.”

Selesai.

Ia kembali ke meja, kembali ke layar, kembali ke ritme yang mulai terasa semakin natural.

Laptop menyala.

Notifikasi masuk.

Chat baru terbuka.

“Van, makasih ya semalam. Aku jadi bisa tidur.”

Evan membaca cepat.

Tangannya langsung bergerak.

“Iya, Kak.”

Kirim.

Balasan datang nyaris seketika.

“Serius, aku lebih tenang sekarang.”

Dan lagi-lagi, kata itu muncul.

Tenang.

Evan diam sebentar.

Sangat sebentar.

Tapi cukup untuk menyadari bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang merespons kata itu lebih dalam dibanding seharusnya.

Ia menarik napas pelan, lalu kembali bekerja.

Satu tugas.

Satu masalah.

Satu solusi.

Semua berjalan seperti biasa.

“Van, ini udah oke belum?”

“Oke.”

“Van, gue kirim ya?”

“Iya.”

“Van, thank you ya kemarin.”

“Iya.”

Kalimat-kalimat itu datang silih berganti, ringan, sederhana, bahkan nyaris membosankan kalau didengar terus-menerus.

Tapi buat Evan, semuanya mulai membentuk pola.

Sebuah sebab-akibat yang terlalu konsisten untuk diabaikan.

Orang datang dengan cemas.

Evan membantu.

Orang pergi dengan lega.

Dan dari semua hal yang terasa kabur dalam hidupnya belakangan ini... pola itu terasa jelas.

Lihat selengkapnya