Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #13

BAB 13 - YANG TANPA BATAS

Hari-hari mulai terasa seperti sesuatu yang berjalan sendiri, tanpa perlu benar-benar dipikirkan. Bukan karena hidupnya membosankan, dan juga bukan karena tidak ada hal yang terjadi. Justru sebaliknya. Terlalu banyak yang terus bergerak sampai semuanya melebur jadi satu. Pagi tidak benar-benar terasa seperti awal, malam juga tidak pernah terasa seperti akhir. Evan bangun, bekerja, membalas pesan, mendengarkan keluhan, memberi solusi, lalu pulang dengan tubuh yang tetap bergerak meski pikirannya nyaris tidak sempat berhenti. Besoknya, pola yang sama terulang lagi. Dan anehnya, ia tidak merasa terganggu. Semua berjalan terlalu mulus untuk dianggap masalah.

Awalnya mungkin masih ada batas. Ada jam kerja. Ada waktu istirahat. Ada ruang pribadi. Tapi pelan-pelan, semua itu seperti terkikis sendiri. Chat pekerjaan masuk malam hari, dibalas. Teman butuh cerita, didengar. Seseorang merasa cemas, ditenangkan. Tidak ada satu titik pun di mana Evan merasa perlu berkata cukup, karena semuanya selalu terasa masuk akal. Selama ia masih bisa menjawab, selama ia masih bisa membantu, selama kehadirannya masih berguna... kenapa harus berhenti?

Dan dari situlah semuanya jadi berbahaya.

Bukan berbahaya dalam bentuk besar yang langsung terlihat. Tidak ada ledakan. Tidak ada kehancuran mendadak. Hanya pergeseran kecil yang nyaris tidak terasa. Cara hidup yang tadinya punya batas perlahan berubah jadi sesuatu yang terus terbuka. Evan tidak lagi benar-benar membedakan mana dirinya sebagai pekerja, mana dirinya sebagai teman, mana dirinya sebagai tempat singgah orang-orang yang sedang butuh didengar. Semua bercampur. Semua menyatu. Dan ia menjalani itu seperti air yang mengalir turun, alami, stabil, tanpa pertanyaan.

“Van, ini udah oke?”

“Oke.”

“Van, gue lagi kepikiran.”

“Iya, kenapa?”

“Van, boleh cerita?”

“Ceritain aja.”

Kalimat-kalimat itu datang setiap hari, dari orang yang berbeda, dengan nada yang berbeda, tapi rasanya tetap sama. Seolah hidupnya dipenuhi oleh versi lain dari masalah yang serupa. Kecemasan. Keraguan. Ketakutan. Kebingungan. Dan Evan selalu tahu harus jadi apa di tengah semua itu. Penengah. Penjelas. Penjaga ritme.

Terlalu tahu.

Di kantor, semua orang melihatnya sebagai orang yang bisa diandalkan. Cepat. Tenang. Tidak ribet. Kalau ada masalah mendadak, Evan biasanya jadi salah satu orang pertama yang dicari. Bukan karena jabatan. Bukan juga karena kewajiban khusus. Tapi karena rasanya lebih mudah jika Evan yang pegang. Lebih aman. Lebih lega.

Dan ia terbiasa mendengar itu.

Suatu siang, salah satu KOL datang langsung ke kantor. Obrolannya santai, bukan sesuatu yang formal. Mereka duduk, bicara ringan, membahas campaign yang kemarin sempat bikin panik.

“Van.”

Evan menoleh.

“Makasih ya kemarin.”

Ia hanya mengangguk kecil.

“Udah mendingan?”

“Udah. Gara-gara lo sih.”

Perempuan itu tertawa kecil, ringan, seolah kalimat itu hanya pujian biasa. Tapi kemudian ia menambahkan sesuatu yang nadanya lebih pelan.

“Kadang gue ngerasa lo lebih ngerti gue dibanding orang-orang sekitar gue.”

Evan tersenyum tipis.

Biasa saja.

“Ya... gue cuma dengerin.”

Jawaban sederhana. Aman. Cukup untuk menutup kemungkinan pembicaraan masuk lebih dalam. Dan seperti biasanya, itu berhasil.

Percakapan lanjut. Topik berganti. Semua terlihat normal.

Tapi ada pola yang sebenarnya tidak pernah berubah. Orang lain bicara. Evan mendengar. Orang lain membuka diri. Evan tetap jadi ruang kosong yang menampung, tanpa benar-benar ikut terbuka. Ia hadir penuh untuk banyak orang, tapi nyaris tidak pernah benar-benar memberi dirinya sendiri untuk dilihat.

Dan yang lebih aneh... tidak ada yang merasa itu janggal.

Lihat selengkapnya