Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #14

BAB 14 - YANG KALAU ADA APA-APA

Pagi datang seperti biasa, dengan cahaya yang masuk tipis dari sela tirai dan udara kamar yang masih menyimpan sisa dingin malam, sementara dunia di luar bergerak dengan ritmenya sendiri tanpa memberi tanda bahwa ada sesuatu yang berubah. Dan seperti biasanya, selama semua masih terlihat normal di permukaan, Evan tidak pernah benar-benar merasa perlu mempertanyakan apa pun, karena normal selalu jadi ukuran paling sederhana yang ia percaya, sesuatu yang aman, sesuatu yang tidak menuntutnya menggali lebih jauh ke tempat-tempat yang mungkin lebih baik dibiarkan tenang.

Ia bangun, duduk perlahan di tepi tempat tidur, meraih ponsel di sampingnya, lalu menyalakan layar dengan gerakan yang terlalu akrab untuk perlu dipikirkan.

Notifikasi bermunculan satu per satu.

Pekerjaan.

Chat.

Reminder.

Nama-nama yang sama.

Lalu satu nama yang tertahan sedikit lebih atas dari yang lain.

Anindita Kirana Putri.

Evan menatap nama itu beberapa detik, tidak lama, tapi cukup untuk membuat jarinya berhenti sebelum bergerak. Pesannya sederhana.

“Apa kabar?”

Hanya itu.

Bukan pesan panjang. Bukan sesuatu yang mendesak. Tapi justru karena kesederhanaannya, ada sesuatu yang terasa sedikit lebih sulit untuk langsung direspons. Bukan karena ia bingung. Bukan juga karena ada beban emosional besar yang tiba-tiba muncul. Lebih karena... ia tidak merasakan urgensi apa pun. Pesan itu bisa dibuka kapan saja. Bisa dibalas nanti. Bisa ditunda tanpa konsekuensi langsung. Dan menunda terasa jauh lebih mudah dibanding harus masuk ke dalam percakapan yang arahnya belum jelas.

Jadi ia memilih yang paling mudah.

Membuka chat lain.

Kerjaan.

Lebih simpel.

Lebih jelas.

Di sana, semuanya punya bentuk yang pasti. Ada masalah, ada kebutuhan, ada solusi. Tidak ada ruang abu-abu yang mengharuskannya memikirkan perasaan terlalu lama.

Hari pun berjalan seperti biasa. Kantor hidup dengan ritmenya sendiri, suara keyboard, langkah kaki, obrolan kecil, notifikasi yang datang silih berganti.

“Van, ini bisa dicek?”

“Iya.”

“Van, gue masih ragu nih.”

“Kirim aja.”

“Thank you ya.”

“Iya.”

Semua bergerak cepat, dan Evan selalu tahu harus ke mana mengarahkan dirinya. Setiap respons yang ia berikan punya fungsi. Setiap bantuan yang ia tawarkan langsung menghasilkan sesuatu yang nyata: orang lain jadi lebih tenang, lebih jelas, lebih lega. Dan mungkin justru itu alasan kenapa dunia seperti ini terasa jauh lebih mudah baginya.

Karena di sini... ia selalu tahu perannya.

Menjelang siang, saat ritme pekerjaan mulai menumpuk dengan lebih padat, ponselnya kembali bergetar. Nama yang sama muncul lagi.

Anindita Kirana Putri.

Kali ini dua pesan.

“Kamu baik-baik saja, kan?”

“Kalau ada apa-apa, bilang.”

Evan membuka chat itu. Membacanya pelan. Untuk beberapa detik, suara kantor seperti tetap ada, tapi tidak benar-benar masuk. Kalimat itu sederhana. Tidak mendesak. Tidak menuntut. Justru sebaliknya.

Lihat selengkapnya