Yang Dulu Pernah Ada

Aboe Redblack
Chapter #15

BAB 15 - TEMPAT KEMBALI YANG HILANG

Hari itu berjalan seperti biasanya, atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Kantor tetap ramai dengan suara keyboard yang saling bertabrakan, notifikasi yang muncul hampir tanpa jeda, dan percakapan kecil yang berseliweran dari satu meja ke meja lain. Evan datang pagi seperti biasa, duduk di kursinya, membuka laptop, lalu langsung tenggelam ke ritme yang sudah terlalu ia kenal. Pesan masuk. Permintaan datang. Satu selesai, lanjut berikutnya. Tidak ada jeda yang benar-benar terasa. Seolah sejak duduk, dirinya langsung hilang ke dalam kebutuhan orang lain.

“Van, bisa bantu ini?”

“Iya.”

“Van, aku bingung...”

“Iya, ceritain.”

“Takut hasilnya nggak sesuai.”

“Kita cek bareng.”

Jawaban-jawaban itu keluar nyaris otomatis, tanpa perlu dipikir lama. Bukan karena Evan tidak peduli, justru sebaliknya. Ia terlalu paham bagaimana caranya membuat semuanya terasa lebih ringan bagi orang lain. Cara dia bekerja selalu sama, menenangkan, merapikan, menyederhanakan kekacauan, lalu bergerak ke masalah berikutnya sebelum dirinya sendiri sempat berhenti.

Ia seperti orang yang selalu tahu harus berkata apa.

Dan mungkin... itu masalahnya.

Di sela pekerjaannya, seorang rekan duduk di kursi sebelah, memperhatikan layar Evan yang bahkan nyaris tidak pernah benar-benar kosong.

“Lo nggak pernah nolak ya?”

Evan tetap menatap layar.

“Kenapa harus nolak?”

Nada suaranya ringan. Terlalu ringan.

Temannya tertawa kecil, meski terdengar lebih penasaran daripada bercanda.

“Biar nggak capek.”

Jari Evan berhenti sesaat di keyboard.

Sangat sebentar.

Lalu bergerak lagi.

“Biasa aja.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa... kosong. Seolah ia tidak benar-benar sedang menjawab, hanya memberi sesuatu yang cukup supaya percakapan berhenti di situ. Dan memang begitu yang terjadi. Temannya mengangguk, lalu kembali ke meja sendiri. Sementara Evan melanjutkan semuanya seperti tidak ada apa-apa.

Padahal ada.

Hanya saja... ia tidak menyadarinya.

Menjelang siang, pesan demi pesan terus datang dengan pola yang hampir serupa. Orang panik. Orang bingung. Orang takut salah. Dan Evan, seperti biasa, menjadi tempat mereka mendarat.

Satu pesan masuk.

Van, makasih ya. Kalau nggak ada lo, gue nggak tahu harus gimana.”

Evan membaca kalimat itu sedikit lebih lama dari biasanya. Jempolnya sempat mengetik sesuatu.

“Ya udah.”

Berhenti.

Dihapus.

Diganti.

“Santai aja.”

Kirim.

Singkat. Aman. Tidak terlalu dekat, tapi cukup hangat untuk tetap menjaga jarak yang nyaman.

Begitulah caranya bertahan.

Sore datang perlahan, membawa cahaya jingga yang jatuh tipis dari jendela kantor dan mengubah suasana jadi sedikit lebih tenang. Satu per satu orang mulai berkemas. Suara ruangan menurun. Deadline utama hari itu sudah selesai. Untuk pertama kalinya sejak pagi... layar Evan tidak penuh.

Lihat selengkapnya