yang kita diamkan di antara suara bising

HELLOHAYDEN
Chapter #1

Kamu Dalam Ingatan dan Orang-Orang di Swalayan

Kamu Dalam Ingatan dan Orang-Orang di Swalayan


Bising sekali.

Saat antre membayar rokok, bocah laki-laki tengil dan bau matahari di belakangku menendang-nendang troli belanja ibunya yang melimpah ruah. Kudengar-dengar dia marah karena tak dibelikan mobil-mobilan besi yang harganya mahal. Selalu terlalu mahal untuk sebuah miniatur yang tak begitu mirip dan tak begitu rapi. Remaja perempuan usia belasan dengan parfum menyengat dan dandanan yang nyaris merusak mata, berceloteh dengan gerombolannya yang memiliki wangi dan riasan serupa. Semuanya berdiri di samping satu kotak besar warna-warni, menatap satu kertas yang perlahan dibuka dari gulungannya, celotehan mereka berhimpit-himpitan. Tiit tiit tiit dari alat pindai milik kasir terus saja mencicit hanya untuk satu bungkus rokok murah. Alatnya yang keliru tapi si kasir yang menatapku dengan sorot mata bersalah sambil terus menekuk-nekukkan leher dengan sungkan. Si bocah tengil mulai meraung, kelompok gadis serba menyengat melompat sambil berteriak girang untuk sebuah kertas yang mereka kerubuni lama. Kulirik kertas itu sekilas, huruf-huruf mencolok merah terlihat berderet membentuk tulisan “undian”. Memangnya apa yang mereka menangkan? Sepeda motor? 

 “Motor baru!” teriak salah satunya.

Ah! Memang motor….

Mereka berempat pada akhirnya berlari dan saling berpegangan sembari melompat-lompat kegirangan melingkari satu motor listrik warna biru muda yang sudah nangkring sejak lama menyambut di depan pintu masuk. Berapa lama motor itu ada di sana? Lima bulan? Enam bulan? Yang tadinya kupikir hanya berfungsi untuk membodohi pelanggan saja, tapi ternyata benar-benar diberikan sebagai hadiah. Beruntungkah kelompok gadis itu? Sudah berapa undiankah yang mereka usahakan untuk sepeda motor listrik itu? Berapa banyak belanjanya pada tiap undian? Entah. Mereka masih melompat riang, berputar-putar. Setelahnya bahkan ada yang mengelus-elus motor itu dengan mesra. Jika salah satunya ada yang tiba-tiba sujud menyembah motor itu maka lengkap sudah mereka melakukan ritual kultus seorang pemenang.

“Dua puluh delapan ribu, Bang.” Suara si kasir membuatku menoleh lagi padanya. Kini wajahnya tak lagi penuh beban. Air mukanya mendadak seperti seorang perempuan yang berhasil kabur dari suami tukang begal. Lega dan bebas. Kurogoh kocek, lalu menerima rokok dan bon belanja bersamaan. Keluar meninggalkan kebisingan. Duduk di pelataran swalayan, bersebelahan dengan seorang kakek ubanan yang ketiduran mendekap peci hitam. Lehernya bersandar di sandaran kursi yang berkarat, kepalanya menengadah menghadap plafon dengan corak jelek kekuningan. Rokok menyala, terselip diantara bibir. Keumbuskan asapnya ke kiri, berharap angin membawanya menjauhi area bernapas kakek tua. Tapi sialan, angin tak ingin berkawan, tiba-tiba saja berbelok arah justru ke kanan dan, yah … sori-sori, Kek! 

Kuisap rokok sambil memejamkan mata, kubuang asapnya juga sambil memejamkan mata. Muncul lagi dalam kepalaku makian Pak Gur tadi pagi. Makin ramai orang menoleh padanya, makin kuat suaranya, makin tinggi pula dongak dagunya. Orang-orang bertanya-tanya dalam desisan. Aku terdiam melihat liurnya melompat-lompat tiap kali mulutnya berkecipak. Biarpun perkataannya tak sepedas yang kukira tapi lagaknya sudah cukup nyelekit seperti sambel uleg Bude Rina tempat anak-anak kantor makan lalu ngutang. Wiyak duduk di balik mejanya. Dia terpekur di bawah telunjuk laki-laki gendut yang nyaris menyentuh poni paripurnanya. Poni yang selalu dibanggakan gadis itu. Dia gadang-gadang bahwa poninya mampu bertahan dari badai sekalipun. Tapi tak pernah ada badai di kantor kami kecuali air liur Pak Gur. Poni yang memiliki lengkungan indah dan kaku itu kini lurus, lepek dan lembab, sama seperti pemiliknya. Kurus, lemas, berurai air mata. Dan sekalipun ingin cepat menjatuhkan dahinya ke meja, dia masih harus menatap sepatu kets kusamnya yang beradu menapaki lantai. Tunduk, mendengar, hormat, habis daya, tak ada upaya, makian, liur, telunjuk, mata yang menyaksikan, bisikan dan desisan, panas, pengap, lembab, air mata, dan … hentakan. Tanpa kukira, atau kami kira, bahkan, Wiyak si gadis penakut itu tiba-tiba saja berdiri sambil mememukulkan kedua telapak tangannya ke meja. Wajahnya berang. Ditamparnya pipi bulat menggemaskan Pak Gur. Kini pipi itu tampak makin imut sebab muncul gurat kemerahan. Semua orang terkesiap dengan cara beragam. Ada yang menarik napas dengan kuat. Ada yang menganga. Ada yang menutup nganganya dengan tangan, ada yang dengan kertas yang dipegang, dengan cangkir kopi yang tak dia sadari akhirnya tumpah mengenai pakaiannya dan kini sibuk sendiri membersihkan diri tapi tak beranjak sama sekali sebab babak berikut drama ini diyakini lebih panas dari sekadar ketumpahan kopi. 

Lihat selengkapnya